10 Hal yang Bikin Gagal Move On dari Parabek!

Apa yang terlintas di kepala kita ketika mendengar kata “MST Parabek” atau “asrama”? Jadwal ketat, banyak aturan, mufradat shobahiyah, di gedor-gedor pintu sama ustaz/ah asrama untuk membangunkan sholat subuh, tadarus rame-rame, serba antri dll.

Mungkin itu cuma beberapa dari ribuan kegiatan kita yang sering kita alami. Tapi tahu nggak? Di balik semuanya itu, sekolah di MST Parabek memberikan saya banyak pengalaman berharga; mungkin melebih dari apa yang terpikirkan, apalagi dirasakan, oleh mereka di sekolah umum atau negeri.

Kali ini Saya akan sedikit mengenang kembali masa-masa 8-14 tahun lalu yang bikin saya gagal move on:

1. Guru-guru yang Oke

Guru adalah hal pertama yang paling kita rindukan saat keluar dari sekolah. Khususnya anak-anak asrama yang jauh dari orang tua, guru adalah pengganti kedua orang tua kita di sekolah.

Guru-guru yang bukan cuma sekedar mentransfer semua ilmunya kepada kita tapi juga mendidik. Ada guru yang selalu dinanti kehadirannya; jam pelajarannya ditunggu-tunggu. Ada juga guru yang asik ketika diajak curhat. Ada juga guru yang membosankan yang walaupun kita tunggu kehadirannya, tapi jika tak datang kitapun merasa bahagia.

Saat-saat duduk dibangku sekolah, saat-saat dimarahi karena tidak mengerjakan PR berjamaah, saat bolos berjamaah, cabut berjamaah saat-saat inilah yang kita rindukan.

Ketika kita datang lagi ke sekolah saat ini, yang ada hanyalah bayangan kenangan kita berlari-lari, bercanda dan tertawa-tawa di koridor sekolah yang tak lagi sama seperti yang kita lalui dulu. Beberapa guru yang kita rindukan pun tak lagi kita temui. Hanyalah doa yang dapat kita panjatkan untuk kebaikan guru-guru kita dan juga kesempatan agar bisa belajar dan duduk dibangku yang sama kembali.

2. Teman-teman yang selalu bikin kangen

Dulu waktu masih sekolah rasanya bosen banget ketemu dia-dia lagi. Ngga di sekolah, ngga di masjid, ngga di kamar, kadang sudah nyampe pasar ketemunya sama dia lagi.

Bagi yang sekolah di Parabek dari Tsanawiyah sampai Aliyah pasti merasa bosan bertemu dengan teman yang sama. Kadang harus satu kamar bertahun-tahun, kadang harus satu kelas dari kelas 1-6.

Tapi setelah berpisah lama, masing-masing mulai menggapai mimpi-mimpi yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Kenangan ketika tertawa, menangis bahagia dan sedih bareng-bareng, saat kena hukum dan membuat masalah, saat gotong-royong dan lain-lain, kenangan itu sangat-sangat menyiksa sekali. Teman-teman yang selama ini sudah seperti saudara sendiri tiba-tiba tak ada lagi. Kehebohan dan keceriaan tiba-tiba sirna karena sekarang tinggal sendirian di rumah. Masing-masing mengatakan pengen kembali ke masa itu. Mau ini dan itu bareng lagi. Tapi kadang, keadaan yang tidak lagi memungkinkan kita untuk berkumpul lagi seperti dulu.

3. Pelajaran yang bikin pusing

Banyak pelajaran sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan tetapi tetap wajib dipelajari. Seperti matematika logaritma sampai sekarang saya pribadi masih bertanya-tanya untuk apa pelajaran ini. Mungkin bagi teman-teman yang ambil jurusan matematika ilmu ini sangat dibutuhkan tapi bagi yang terus lanjut mengambil bidang studi keagamaan ilmu ini hanya sebagai formalitas Ujian Nasional saja.

Pelajaran-pelajaran lain yang kita rindukan seperti membaca kitab di depan kelas, jari-jari, menghafal tasrif, nyanyi (wa ba’du falmantiqu lil janani…..) bersama inyiak. Semua itu hal yang tidak lagi kita jumpai saat melanjutkan kuliah. Rindu kembali menjalar memasuki rongga memori, dan berharap kita bisa mengendarai mesin waktu untuk kembali kemasa-masa itu.

4. Belajar di masjid ketika musim ujian

Ketika ujian tiba semua santri Parabek khususnya anak-anak asrama tiba-tiba menjelma menjadi anak-anak masjid. Yang biasanya membutuhkan waktu lama untuk menggedor pintu hanya untuk membangunkan sholat subuh kali ini sebelum sholat subuh semua sudah ramai di masjid; bawa Al-Qur’an lengkap dengan kitab serta buku tulisnya. Bahkan detik-detik akan dimulai ujian dan setelah sholat Isya masjid masih ramai dengan santri. Namun pemandangan kembali sama seperti hari-hari sebelum ujian, ketika ujian selesai. Selain di jadwal shalat, sepi dan sunyi.

5. Bisa keluar dari asrama merupakan suatu anugerah

Bagi kami anak-anak asrama area kami yang sangat terbatas hanya dari wc panjang sampai Parabek Ateh, dari tabek samping masjid sampai warung soto ante, dan sekitaran sekolah sampai karatau. Diluar itu, harus melalui izin. Bisa jalan sampai Durian, Guguak Tinggi dan Bangkaweh merupakan sebuah anugerah tak terhingga. Apalagi kalau hari Jum’at dapat izin pulang atau ke pasar bagaikan dapat durian runtuh.

6. Everything is on booking!

Mulai dari kamar mandi, tempat nyuci, tempat nyetrika, pakai kayu buat gantungin baju sampai novel baru semuanya dicarter dengan jargon بعدك.

7. Dapat Kiriman

Ini hal-hal yang ditunggu setiap anak asrama setiap awal bulan. Jatah bulanan uang belanja plus titipan cemilan-cemilan dan lauk “samba”. Saat-saat ini adalah saat yang paling membahagiakan. Budaya bagi-bagi samba inilah yang tak akan pernah dirasakan oleh orang lain selain anak asrama. Kadang 1 orang yang dapat kiriman harus rela membagi makanannya bukan hanya untuk anggota kamarnya saja, tapi juga kadang 1 lantai berbondong-bondong minta jatah ke kamar yang empunya kiriman. Kadang yang kata orang tuanya lauk jatah untuk anaknya makan untuk 3 hari ludes dalam hitungan menit. Tempoyak dan rinuak maninjau, hal yang tak pernah saya jumpai lagi setelah keluar dari asrama.

8. CurCol (Curhat Colongan)

Bagi santri asrama atau di sekolah sama saja ada saja tempat untuk curcol, entah itu di wc panjang, depan keran pas wudhu, atau depan masjid. Kalau tempat favoritnya anak asrama puteri khususnya di dalam ruang makan dan di tangga belakang masjid sambil nunggu pak dapua ngantar nasi, air dan lauk ke asrama. Ada aja yang di obrolin mulai dari pelajaran sekolah, temen-temen kelas sampe cerita-cerita horor yang berkembang di sekitaran asrama. Tak ada asrama yang tak berbau horor.

9. Melanggar Peraturan

Semboyan saya beberapa tahun yang lalu “peraturan dibuat untuk dilanggar”. Menjadi santri yang lurus-lurus saja membuat masa remaja kurang berwarna. Sesekali kuku panjang, rambut gondrong bagi laki-laki, cabut dan tidur di asrama, izin ke wc jam terakhir, tapi ngga balik-balik lagi ke kelas sampai bel pulang, cabut dari kelas pada jam pelajaran tertentu dan makan di warung soto ante merupakan bahan nostalgila bersama teman-teman ketika bertemu kembali.

10. Cinta Monyet

Walaupun kita sama-sama tahu pacaran hukumnya haram. Tapi tetap saja yang namanya jiwa muda yang sedang bergejolak, ditambah masa-masa puber yang tak ada yang mendampingi. Walaupun pacaran hanya kirim-kirim surat lewat teman terpercaya, lihat-lihatan pas di kelas saja dan sama-sama sudah tahu banyak resikonya ketika ketahuan, mulai dari di colak, dipanggil menghadap kepala sekolah, membuat surat perjanjian, menyetor hafalan 1juz, dan tambahan hukuman di asrama tapi tetap masa-masa itu tak akan pernah kita lupakan.

Menjadi santri adalah pelajaran berharga. Pengalaman-pengalaman unik tersebut tidak akan sebanding dengan kelonggaran yang dimiliki para siswa di sekolah negeri. Setelah beberapa tahun ditempa, kita tak hanya berkembang menjadi pribadi yang dewasa; kita juga menjadi lebih menghargai makna kebersamaan. Teman-teman yang kita temui di pesantren bukan lagi cuma ‘teman’. Mereka adalah keluarga: pengganti ayah, ibu, dan sanak saudara yang begitu jauh dari rumah sana. Sekolah dan asrama akan selalu jadi bagian diri kita. Setelah lulus sekalipun, kita tidak akan pernah melupakannya. Kita akan selalu menanti masa dimana kita bisa kembali. Ketika memikirkan teman-teman yang dulu, selalu terbesit keinginan bisa bersama-sama lagi.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: