Ada-ada Aja: Jilbab Zoya lah yang Halal!

Ah, ada-ada saja. Begitu agresifnya kapitalisme, ‘halal’ dijadikan brand untuk menggenjot penjualan.

“Zoya, kerudung bersertifikat halal pertama di Indonesia.” Hati-hati, jika kerudung Anda bukan Zoya, berarti kerudung Anda tidak dicuci dengan emulficer yang tepat. Jangan-jangan kerudung Anda dicuci dengan jelatin Babi.

Begitulah wacana yang dimunculkan oleh Zoya dalam marketing produk mereka. Bukan produk sembarangan. Produk Hijab, sebuah produk surgawi. Produk yang bisa menambah keimanan dan ketakwaan Anda kepada Allah Subhaanahu wata’aala. “Jadi, jika Anda ingin masuk surga, belilah Zoya. Kalau bisa yang banyak. Satu untuk sehari. Sekalian belikan untuk Emak dan Uwaik Anda!”

John L. Esposito (2005) menyebut sejak tahun 1970-an, dalam jumlah signifikan wanita modern dari Kairo hingga Jakarta telah berbalik dan kembali memakai pakaian ‘Islami’. Mode baru pun muncul untuk mencerminkan pemahaman baru dari status dan peran wanita. Berbagai perusahaan busana pun berlomba untuk mendesain dan memasarkan pakaian Islam kontemporer yang menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka.

Fenomena seperti ini adalah fakta yang kini sedang berkembang di Indonesia. Saat ini, pakaian-pakaian Islami, termasuk jilbab, sudah menjamur dengan berbagai mode. Salah satu mode jilbab yang belakangan menjadi trend adalah jilbab dengan brand syar’i. Setelah bosan berwacana dengan hijab syar’i vs hijab non-syar’i, sekarang wacana baru diperkenalkan, hijab halal dan hijab haram.

Idenya? Untuk menyebarkan pola hidup Islami, katanya. Pola hidup yang menutup aurat. Tapi hijabnya harus mahal, gaya, trendi. Order sekarang, sis! Masak mau berkelumun dengan stigma cewek muslimah itu kuno, jadul, jilbabnya lusuh, gak trendi, gak gaul. Sekarang jadi muslimah harus trendi, keren, gaul, tak apa lah dimodalin dikit, tetap masuk surga kok. Kan hijabnya syar’i nan halal.

Agama memang lahan basah. Banyak duit mengalir dari bisnis Agama. Acara-acara di televisi menunggangi ayat Al-Quran dan hadis untuk menjual produk. Ceramah subuhnya Mamah Dedeh atau al-Mukarram Ustaz Maulana, misalnya, tak lepas dari produk. Dalam bentuk yang lebih halus lagi, tidak ada produk yang secara terang dipromosikan. Dalam acara-acara model ini, ayat-hadis dijual untuk kepentingan rating. Rating tinggi, banyak yang nonton. Banyak yang nonton, iklan mahal!

Bukan cuma Ustaz/ah selebriti di tivi-tivi, selebriti juga jadi icon, ambassador, atau apalah itu namanya, mungkin juga bakul, hijab.  Ah, sungguh sholehah, manis dan kiut nya cewek berhijab, seperti Laudya Cintya Bella. Oki Setiana Dewi yang belakangan setiap hari mengkampanyekan cara berbusana yang syar’i. Sekalian dia jua brand busana islami tersendiri yang ia namai dengan OSD (Original, Syar’i, Delicate). Demikian juga pak Ustaz Felix Siaw. Sama seperti Oki, Koh Felix juga memiliki brand tersendiri untuk jilbab, yang ia namai dengan Alila. Keduanya sama-sama mengkampanyekan jilbab syar’i sambil mempromosikan brand masing-masing.

Ohya, sebagai catatan harga jilbab Zoya ini tidak murah. Bagi Anda yang tidak memiliki cukup uang untuk membelinya, menabunglah dari sekarang, agar tidak terjebak dalam keharaman. Hmm, atau bahkan Anda lebih baik tidak berjilbab daripada terjebak di jilbab yang haram. Iya kan?  Ah, ada-ada saja!

Inilah penunggangan simbol-simbol agama untuk kepentingan kapitalisme. Inilah komodifikasi agama (Edi AH. Iyubenu, 2015). Para pemilik modal berlomba-lomba menggunakan segala cara untuk meraup untuk sebesar-besarnya. Mereka bukan hanya menciptakan benda, tetapi juga hasrat. Hasrat untuk hidup  sholehah, manis dan kiut bak Laudya Cintya Bella. Pada saat yang sama, pola hidup konsumerisme dijaga tetap di tingkat yang tertinggi dan setinggi mungkin. Hasil akhirnya? Bohong jika kapitalisme bercita-cita luhur bagi publik. Satu-satunya orientasi kapitalisme adalah peredaran uang sebesar-besarnya yang kembali ke tangan pemilik modal besar. Publik yang lugu dan gampang ditipu dikuras sehabis-habisnya. Dikuras dengan brand syar’i. Ketika brand ini mulai mengendor, dikuras lagi dengan brand halal.

Ini bukan propaganda kebencian terhadap jilbab. Jilbab adalah ciri pakaian yang perlu dipertahankan sebagaimana disampaikan dalam Al-Ahzab: 59 dan al-Nur: 31. Tapi, saat ini, fenomena hijab/jilbab/kerudung tidak cukup lagi ditelaah dengan bertumpu pada kedua ayat tersebut. Hal ini lantaran jilbab tidak lagi mencerminkan fenomena ‘cara berpakaian’ semata, melainkan juga ‘cara berjualan’.

Al-Baqarah: 41 sepertinya pantas untuk dipertimbangkan. Di sana disebutkan wala tasytaru biayati samanan qalila. Ibnu Katsir menyebut penggalan ayat ini bermakna larangan menukarkan keimanan terhadap ayat-ayat dan pembenaran kepada rasul dengan dunia dan syahwatnya. Maksudnya di sini adalah menukarkan apa yang ada di dalam al-Qur’an, berupa keimanan dan pengamalannya, dengan apa yang terdapat di dunia, berupa kemegahan yang menarik, temporer, dan harta yang fana. Dari sini bisa dikaitkan dengan fenomena jilbab yang tujuan awalnya adalah digunakan dalam rangka ibadah, mengikuti perintah Allah dalam al-Qur’an, menjadi sebuah praktik komodifikasi dan kapitalisasi untuk meraup keuntungan duniawi yang besar dengan mengambil keuntungan dari ayat Tuhan.

Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini mengharuskan kita untuk melihat jilbab sebagai salah satu komoditas strategis dalam kapitalisasi. Hal ini dikarenakan kapitalisasi memperlihatkan kenyataan baru seputar masalah jilbab. Di samping sebagai pengamalan ajaran agama, kini jilbab juga difungsikan sebagai mode bagi konsumen, karenanya nuansa kesadaran religius dalam pemakaian jilbab bisa terpinggirkan. Selain itu, jilbab juga memperlihatkan agresifitas kaum kapitalis dengan menjadikan simbol agama sebagai strategi (komodifikasi), sehingga nilai jilbab sebagai ibadah juga berkurang.[]

Imroati Karmillah

Imroati Karmillah adalah alumni Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Menyelesaikan S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan S2 di pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: