Al-Rahman 5-6: Dunia Materi dan Spiritual

Pertanyaan tentang bagaimana alam telah menjadi pertanyaan yang menarik perhatian manusia sejak waktu yang lama. Para filosof Yunani generasi awal, misalnya, dikenal dengan sebutan filosof alam. Mereka tertarik dengan perubahan-perubahan yang terjadi di alam. Lantas, mereka bertanya, apakah sumber dari segala sesuatu?

Isaac Newton menemukan teori gravitasi, Thomas Alfa Edison berhasil menciptakan lampu pijar, dan sejumlah nama-nama lainnya telah bergelut dengan alam dan segala pertanyaan tentangnya. Akan tetapi, pada abad ke-empat belas, seorang penyampai berita, Nabi Muhammad,  dengan Al-Quran menyampaikan sebuah sudut pandang khas tentang alam:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ, وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Tumbuh-tumbuhan dan pepohonan tunduk kepada-Nya.” (Q.S. Ar-Rahman: 5-6)

Ayat tersebut menyiratkan ada dua sudut pandang yang perlu kita gunakan dalam melihat alam, yaitu dengan mata pada satu sisi, dan hati pada sisi lain. Berikut penjabarannya.

Ayat di atas menyebutkan  “matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan”.  Kita tahu, ini merupakan pernyataan yang telah common sense. Ilmu sejarah maupun astronomi modern telah mengungkap bahwa matahari dan bulan beredar dalam perhitungan waktu tertentu, dan karenanya menjadi patokan penghitungan waktu bagi manusia. Ini adalah kenyataan atau pernyataan yang bisa dilihat dengan indera.

Ayat di atas juga menyebut “tumbuh-tumbuhan dan pepohonan tunduk kepada-Nya”. Jika ayat di atas mengemukakan cara pandang inderawi terhadap sesuatu, ayat ini mengajak kita untuk memandang sesuatu dengan hati. Maksudnya, tentang tumbuhan dan pepohonan mungkin selama ini yang diperhatikan oleh manusia adalah sisi materinya:  seperti bagaimana proses prtumbuhan, cara pemanfaatan, bentuk perkembangbiakan, dan seterusnya.

Akan tetapi, di sini Al-Quran mengajak kita untuk melihat sisi spiritual. Bukan tentang fungsi fisiknya sebagaimana Matahari dan Bulan, kali ini Al-Quran berbicara tentang penghambaan tumbuhan dan pohon kepada Tuhannya.

Kedua ayat di atas terlihat memberi titah bagi manusia untuk terus menggali, meneliti, memahami, dan menghayati segala hal yang terjadi di alam ini, baik di sisi material maupun spiritual. Yang pertama menggunakan rasio dan panca indera; mata, telinga, hidung, kulit, dan lidah. Dengan instrumen-instrmen tersebut, manusia dapat mempelajari segala yang terjadi di alam ini; mengapa sesuatu dapat terjadi dan apa yang menyebabkan ia terjadi; dan bagaimana ia berjalan secara sistematis dan terus mengalami perkembangan.

Akan tetapi, pada sisi lain, ayat ini juga memperingatkan, bahwa manusia jangan lupa bahwa sesuatu bukan hanya materi. Ada sisi spiritual yang tersimpan di dalamnya. Dengan itu, manusia akan menemukan kebijaksanaan dan ketenangan, karena telah melihat sesuatu secara mendalam.

Secara kasat mata, keteraturan alam dengan segala komponennya terlihat biasa bagi kita. Apalagi  semua itu dapat dengan mudah untuk diteliti dan dipalajari. Semua jawaban dari pertanyaan apa, dimana, kapan, kenapa, dan bagaimana mampu dicari. Misalnya, pertanyaan seperti bagaimana bentuk permukaan bumi?; dimana posisi matahari?; berapa lama bulan mengelilingi bumi?; dan seterusnya. Semua itu dapat ditemukan jawabannya melalui penelitian-penelitian yang bersifat material.

Namun, bisikan hati nurani juga mempunyai pertanyaan-pertanyaan yang tak mungkin luput dari jiwa setiap manusia. Kesadaran untuk memunculkan pertanyaan seperti mengapa alam ini dapat berjalan dengan sangat teratur dan sistematis?; adakah yang mengaturnya?; siapa dan bagaimana pengaturannya? adalah pertanyaan-pertanyaan yang bermuara pada pengakuan bahwa ada satu hal yang berada di atas segala sesuatu ini.

Sebagaimana di sampaikan di pendahuluan tulisan ini, pertanyaan-pertanyaan tentang semua itu juga menjadi bentuk rasa ingin tahu manusia. Akal sehat kita tentu tidak bisa menerima sebuah perumpamaan bahwa pesawat yang biasa kita lihat di era ini, itu tercipta dengan sendirinya melalui tiupan angin tornado dengan cara menggulung semua bahan-bahan pembentuknya, dan tiba-tiba langsung tercipta menjadi sebuah pesawat yang super canggih. Perumpamaan senada juga pernah disampaikan oleh Albert Einstein.

Pemahaman seperti diatas adalah kunci terpenting dalam memahami segala kebenaran yang terjadi di alam semesta. Bahwa, disamping memiliki fakta-fakta yang dapat dilacak melalui pemikiran, setiap komponen yang terdapat di alam ini sesungguhnya juga mempunyai satu fakta kebenaran lain yang hanya dipahami malalui pendekatan hati. Manusia, tumbuhan, hewan, hingga benda mati sekalipun sesungguhnya berada dalam ketundukan dan kendali dari Sang Pencipta.

Apalah daya manusia, yang ia sendiri hanya mampu mengarungi kehidupan dengan mengikuti keteraturan-keteraturan yang telah dahulu ditetapkan oleh Sang Pencipta. Bahwa Tuhan telah menetapkan adanya kematian, adanya waktu yang terus berlalu dan tak dapat kembali, bumi yang menarik segala komponen yang melingkupinya melalui gaya gravitasi, dan seterusnya. Manusia hanya mampu bertindak diatas semua ketetapan yang telah ada. Di sini sekali lagi mampu menjadi bukti akan kehinaan dan kelemahan kita.

Intinya, segala yang kita lihat dan kita alami, baik yang konkret maupun yang abstrak, baik yang dapat diraba maupun yang hanya ada di dalam pikiran, semua tunduk dibawah prosedur yang ditetapkan oleh Tuhan. Manusia hanyalah makhluk yang, sebenarnya, untuk menunjukkan kelebihannya, mau tak mau sangat membutuhkan pertolongan dari Tuhan.

Kita tahu (bahwa) pada umumnya setiap manusia memiliki otak. Namun, dengan otak yang sama, tercipta kemampuan-kemampuan yang beragam dan tingkatan yag berbeda. Keterciptaan itu sama sekali berada di luar kendali manusia. Apa yang mampu mereka lakukan hanyalah, menggunakannya sesuai dengan ketetapan yang telah ada. Hal ini mengisyaratkan adanya pengendali dari semua kejadian ini. Dan tentunya, yang paling berhak untuk diyakini sebagai pengendali hanyalah subjek yang menciptakannya. Tuhan.[]

 

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: