Antara Pendidikan dan Pengajaran

Beberapa waktu lalu, tepat 28 Maret 2016, surauparabek.com menerbitkan artikel Hidayatul Mukhbit, Katanya dan Nyata: Sebuah Oto-Kritik. Artikel tersebut lama menjadi perenungan mendalam bagi saya yang mengajar dibeberapa tempat selama lebih dari satu dekade. Keberanian dalam menuangkan persepsinya terhadap sebuah institusi pendidikan sangat patut diapresiasi. Ide-ide dalam tulisannya mewujudkan kecintaan walaupun dalam tulisan tersebut disebutkan hanya mendapatkan pembelajaran, bukan pendidikan. Dan lagi, pendidikannya masa itu hanya ia peroleh dari beberapa guru yang menurut saya sangat paham dengan potensi yang dimilikinya.

Dalam pandangan saya, madrasah (pesantren)  memang adalah sebuah institusi pendidikan yang berbeda. Madrasah bukan hanya institusi yang mengajarkan pengetahuan agama untuk anak ajarnya. Madrasah adalah sarana mendidik anak ajar tentang aplikasi ilmu agama dalam dunia sosial agar menjadi teladan dalam lingkungannya. Buah yang diharapkan dari proses itu adalah menjadikan mereka paham dengan agama dan memiliki akhlakul karimah. Madrasah mengambil garis yang tegas terhadap misinya, yakni liyatafaqqahhu fiddin.

Dari pengalaman, guru lebih banyak terjebak hanya sebagai seorang pengajar dari pada seorang pendidik. Seringkali guru tidak bisa menerima anak-anaknya yang berada diluar pakem (bengal menurut Hidayatul Mukhbit). Mereka yang sedikit berani untuk itu sering dicap nakal dan bandel. Guru lebih senang untuk mengajar anak-anak yang pintar, patuh, penurut. Diluar kriteria “anak baik-baik” tersebut mereka dianggap sebagai pembuat masalah dan pembawa penyakit menular ke madrasah.

Ada beberapa perbedaan antara madrasah dengan institusi pendidikan lain, salah satunya adalah guru. Guru madrasah adalah penerus risalah kenabian yang membentuk karakter kader-kader pendakwah. Keberhasilan dari proses tersebut tidaklah semata-mata diukur dengan angka-angka. Kondisi psikologis atau kejiwaan anak didik juga tidak kalah penting. Pemahaman kondisi psikologis anak didik membuat sang guru paham bahwa tidak semua orang bisa diperlakukan sama. Ada perlakuan-perlakuan khusus untuk beberapa kasus tertentu. Setidaknya inilah pengalaman saya ketika menjadi Kepala Asrama Putera selama tiga tahun lebih.

Berpisah dengan orang tua dan harus tinggal di asrama merupakan hal baru bagi sebagian besar siswa. Ditambah dengan gejolak muda anak-anak yang memasuki masa pubertas. Belum lagi persoalan latar belakang memasuki madrasah. Ada sebagian yang beralaskan niatan ikhlas lillahi taa’la, namun juga tidak menutup kemungkinan permintaan orang tua mengharuskan mereka melanjutkan pendidikan di madrasah. Kompleksitas itulah yang menunutu guru untuk berperan sebagai guru, orang tua dan teman atau sahabat anak didik.

Pendekakan satu generasi dengan generasi berikutnya juga berbeda. Generasi yang lahir di era 70-an sampai pertengahan 90-an masih memungkinkan untuk dilakukan pendekatan karek kayu. Namun bagi mereka yang lahir di atas pertengahan 90-an, pendekatan seperti itu sudah tidak mempan lagi karena suasana dan godaan zaman yang semakin beragam.

Mengeluarkan anak didik dari madrasah, menurut saya, bisa dilakukan apabila yang bersangkutan benar-benar tidak mungkin “diperbaiki”. Inilah mungkin perbedaan antara Gontor dengan Madrasah Sumater Thawalib. Pendidikan Madrasah tentu saja tidak bisa dipolakan semi militeristik dalam penegakkan disiplinnya. Pendidikan bagi kader warasatul anbiya’ itu lebih tepat jika menggunakan pendekatan hati ke hati.

Apa yang disampaikan oleh Hidayatul Mukhbit merupakan masukkan yang luar biasa ditengah kesungkanan sebagian besar anak didik yang berani memberikan oto kritik secara terbuka dan bertanggung jawab. Tentu saja ini tidak hanya bermanfaat bagi institusi Madrasah Sumatera Thawalib semata, akan tetapi bagi seluruh mereka yang berprofesi sebagai Guru agar tidak melupakan hakikat mereka sebagai pendidik, bukan sebagai pengajar semata. Wallahu ‘Alam. []

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: