Antara Pesantren atau Sekolah?

Syaikh al-Madrasah, posisi dan perannya lah yang menjadi jantung pembeda antara sekolah dan pesantren.

Apa bedanya pesantren dan sekolah? Ada banyak yang bisa disampaikan. Tentang seragam, pesantren mempersyaratkan jilbab/kerudung/lilik bagi siswi, dan tidak demikian dengan sekolah. Pesantren mengajarkan ilmu-ilmu Islam baik yang praktikal seperti fiqh, hadis, tafsir, maupun metodologis seperti Ushul Fiqh, Ulum al-Qur’an, Ulum al-Hadis, dsb; materi-materi yang tidak ditemukan di sekolah. Pesantren menekankan kemampuan berbahasa Arab (disamping bahasa Inggris), baik kemampuan berbicara atau membaca, terutama kitab kuning. Penyebutan pelajar pesantren juga berbeda dari sekolah. Mereka adalah santri, bukan siswa/siswi. Itu semua beberapa ciri khas yang dimiliki pesantren.

Ada pula yang mengidentifikasi perbedaan mendasar antara sekolah dan pesantren terletak pada sistem pendidikan 24 jam di asrama. Asrama memang selalu menjadi elemen penting bagi pesantren. Tapi, itu bukanlah perbedaan paling dasar. Sebuah sekolah secara tiba-tiba membangun asrama tidak serta merta bisa menyebut dirinya sebagai pesantren.

Akan tetapi, itu hanyalah bagian permukaan dari ciri khas pesantren jika dibandingkan dengan sekolah. Perbedaan-perbedaan yang disebutkan di atas adalah hal-hal yang tampak jelas dengan mata kepala. Ia dapat dilihat dengan sekali kunjungan ke pesantren, menyaksikan bagaimana para santri berpakaian, bagaimana mereka berbincang satu sama lain, atau daftar kurikulum yang diajarkan sekolah.

Di atas semua itu, ada perbedaan yang lebih mendasar lagi; perbedaan yang bersifat kultural. Zamakhsyari Dhofier menyebut lima elemen inti yang dimiliki oleh pesantren; pondok (asrama), masjid, santri, kitab kuning, dan kyai. Tentang infrastruktur (asrama/masjid) dan kurikulum (kitab kuning) telah disebutkan secara sekilas di atas. Sebuah sekolah dapat disulap menjadi ‘seperti’ pesantren dalam sekejap mata dari keempat sisi pertama. Tapi, ia tidak akan benar-benar bisa menjadi pesantren tanpa ada elemen yang paling utama, yang berada pada sosok seorang Kyai.

Dalam makna yang lebih luas, istilah Kyai yang disebut Dhofier memiliki sebutan yang berbeda di berbagai wilayah; seperti Tuan Guru di Lombok, dan Inyiak/Syaikh untuk Minangkabau. Pada intinya, istilah-istilah tersebut merujuk kepada sosok seorang ulama yang membangun atau menjadi tonggak bagi berjalannya madrasah/pondok pesantren.

Sejarah dan perkembangan pesantren dan hubungan serta posisi Kyai terhadapnya di Jawa memang berbeda dengan sejarah Madrasah di Sumatera Barat. Sungguhpun begitu, dalam model serupa tapi tak sama itu, Syaikh sangat vital bagi pesantren/madrasah di Sumatera Barat. Sebutlah Syaikh Ibrahim Musa mendirikan Muzakaratul Ikhwan, Inyiak DR yang menjadi tonggak Surau Jembatan Besi, Syaikh Sulayman al-Rasuli dengan MTI Canduang, juga Rahmah el-Yunusiah dengan Diniah Putri Padang Panjang, dan sebagainya.

Hubungan antara Pesantren dan tokoh-tokoh tersebut bukan sekedar relasi pencetus, pendiri, atau mungkin pemilik dengan apa yang mereka cetuskan, dirikan, atau miliki; bukan sekedar relasi subjek dan objek. Relasi pekerjaan juga tidak bisa disematkan kepada mereka, layaknya kepala sekolah dengan sekolah yang ia pimpin, apalagi relasi investor dan investasi. Mereka ada simbol bagi pesantren. Mereka adalah ruh sebuah pesantren. Artinya, tanpa mereka, sebuah lembaga pendidikan tidak bisa disebut sebagai pesantren.

Dalam perkembangannya, nadi pesantren dilanjutkan oleh pewaris mereka. Di banyak pesantren pola yang diterapkan adalah monarki. Pesantren diwarisi dari seorang Kyai kepada anaknya, dan selanjutnya kepada cucu, dan seterusnya. Di samping itu, ada pula pesantren yang tidak mempersyaratkan garis darah dalam pewarisan nadi pesantren.

Dalam proses tersebut, pemegang tampuk pesantren berikutnya tidak hanya mewarisi tangung-jawab untuk melanjutkan perjuangan pendidikan, tetapi juga melanjutkan perannya sebagai simbol dan ikon bagi pesantren. Artinya, pesantren selalu memiliki Kyai, Buya, atau Syaikhul Madrasah yang memegang peran sebagai ruh bagi pesantren tersebut. Untuk konteks Sumatera Thawalib Parabek, posisi Syaikh Ibrahim Musa sebagai ruh, simbol, dan ikon dilanjutkan oleh Inyiak Ibrahim Jalil, Inyiak Abdul Ghaffar, Inyiak Imam Suar, Inyiak Khatib Muzakkir al-magfur lahum.

Sepeninggalnya Inyiak Khatib Muzakkir, maka peran itu dipegang oleh guru-guru senior saat ini. Mereka adalah Syaikh Masrur Syahar, Buya Deswandi, Ust. Taufik Suar. Merekalah yang saat ini menjadi ruh Sumatera Thawalib Parabek. Mereka lah yang menjadi ikon Sumatera Thawalib Parabek. Mereka lah yang menjadi simbol Sumatera Thawalib Parabek.

Dari segi manajemen, sejumlah pesantren mungkin telah menerapkan pola manajemen modern. Tidak lagi sebagaimana pesantren tradisional yang menjalani agendanya tanpa banyak memperhatikan hal-ihwal administratif dan semacamnya. Akan tetapi, dalam perkembangan ini, Kyai atau Syaikh al-Madrasah tidak kehilangan perannya sebagai simbol. Fungsi eksekutif mungkin dijalani oleh mereka yang memiliki jabatan struktural seperti kepala sekolah, yayasan, dan seterusnya. Akan tetapi, peran moral dan simbolik seorang Syaikh al-Madrasah tidak pudar. Itulah mengapa pesantren-pesantren masih selalu memberikan penghargaan yang besar bagi Kyai atau Syaikh al-Madrasah.

Dalam pola tersebut, secara terbatas mungkin posisinya bisa dianalogikan sebagai Raja/Ratu dalam Negara Kerajaan. Dalam penjelasan yang serupa tapi tak sama, sejumlah penulis seperti R.Lukens-Bull atau Charlene Tan, memang menyebut Kyai sebagai little king within his little kingdom. Sepertinya kita juga bisa menganalogikan Kyai/Syaikh al-Madrasah dan pesantren seperti Sukarno bagi Marhaen, Natsir untuk Masjumi, atau Hamka buat Muhammadiyah. Mereka mungkin tidak punya posisi struktural, tapi memiliki pengaruh besar secara kultural. Bukan karena mereka tidak memili peran, justru karena kharisma yang begitu besar lah mereka tidak lagi layak untuk terjun di wilayah-wilayah praktis. Agenda strategis dan eksekusi di lapangan dijalankan oleh pejabat struktural di sekolah, pondok, yayasan, atau lembaga apapun yang ada di pesantren. Tapi posisi simbolik yang menjadi ruh dan nyawa bagi pesantren tetap dipegang oleh Syaikh al-Madrasah.

Kita masih bisa memberikan satu analogi lainnya terhadap posisi Kyai atau Syaikh al-Madrasah ini, terutama bagi pesantren-pesantren yang telah mengadopsi gaya manajemen modern. Mereka bisa diibaratkan seperti orang tua bagi anak-anak yang telah mandiri. Anak-anak mungkin telah berkeluarga dan dapat menghidupi diri dan keluarganya secara mandiri. Akan tetapi, tidak lantas si anak menjadi tidak butuh lagi kepada orang tua mereka. Orang tua tetap menjadi simbol bagi keluarga. Orang tua lah yang menjadi ruh bagi kesatuan keluarga. Tidak jarang kita lihat, ketika orang tua meninggal, lebaran Idul Fitri tidak seramai biasanya; anak-anak tidak lagi memiliki dorongan moral yang kuat untuk berkumpul.

Dengan demikian, maka Syaikh Madrasah adalah raja bagi pesantren. Mereka juga adalah orang tua bagi pesantren. Itulah sebabnya mengapa mereka selalu dihormati. Terkadang mereka sudah terlalu tua untuk mengampu sebuah materi ajar di kelas. Akan tetapi, pesantren masih selalu menghargai dan menghormati jasa yang telah dan masih mereka emban. Hitung-hitungan ekonomis anggaran diabaikan sama sekali, karena meskipun tidak banyak lagi kegiatan-kegiatan praktis lapangan yang bisa mereka kerjakan, mereka masih memegang posisi sentral di pesantren, sebagai ikon, sebagai simbol, raja, dan orang tua.

Penghormatan yang mereka dapatkan bukan tanpa alasan. Mereka telah menghabiskan sebagian besar umur mereka untuk menjaga dan melanjutkan cita-cita pendiri sekolah. Dalam konteks Sumatera Thawalib Parabek, Inyiak Ibrahim, Inyiak Imam Suar, Inyiak Abdul Ghaffar, Inyiak Khatib Muzakkir al-magfur lahum, Syaikh Masyrur, Ust. Taufik Suar, Buya Deswandi, Ustz. Yusmaini, Ustz. Yufahmi, dan seterusnya telah memberikan jiwa dan raga mereka untuk melanjutkan cita-cita Syaikh Ibrahim Musa. Karena itulah mereka mendapatkan penghargaan yang tidak terbilang.

Di satu sisi, tradisi ini lah yang menjadikan pesantren sebagai lapangan efektif untuk pendidikan karakter. Setiap hari siswa melihat guru-guru mereka begitu menghormati para guru senior, Syaikh al-Madrasah, yang kebetulan juga guru dari guru-guru mereka ini ketika masih bersekolah dulu. Dari situ lah mereka belajar tentang penghormatan. Guru-guru yang bertanggung jawab dalam bidang disiplin, sejatinya tidak perlu terlau berkoar-koar berteriak menggunakan urat leher menghadapi siswa. Karena  lisan al-hal  afsah min lisan al-kalam.

Di sisi lain, tidak jarang pula kita lihat santri-santri di kelas awal memiliki mimpi untuk bisa masuk ke kelas yang diampu oleh Syaikh al-Madrasah ini. Ketika mereka belajar matan ajrumiah atau matan taqrib kepada guru-guru muda, mereka bermimpi bisa belajar fath al-mu’in dan I’anat al-Thalibin dengan Syaikh al-Madrasah di kelas atas.

Itulah ia ciri khas yang paling dasar dari pesantren. Jika kita mulai merasakan kelunturan dari segi sebagaimana disampaikan di atas, kita perlu introspeksi. Pasti ada yang salah; bisa jadi terkait cara pandang, gaya manajemen, sistem, atau apapun itu. Jadi, pertanyaannya, Parabek, apakah pesantren, atau sekolah layaknya SMPIT/SMAIT?[]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Komentar

  1. Trima Kasih ustadz Fadli Luqman ..kami di Tim disiplin bersama Ustadz Zaki sudah tidak pakai urat leher lagi …berkat saran, arahan dan masukan serta bimbingan Ustadz Fadli …Syukran ,,,, jangan bosan untuk selalau ingatkan kami ya …

    1. Terimakasih tanggapannyo bg Zaki, bg Risal.
      Kalau berdasarkan ide utama tulisan di atas, tradisi kepesantrenan Parabek dan wibawa Syaikhul Madrasah/Guru senior lah yg meringankan beban kakanda semua dalam menangani disiplin santri. Junior nan kurang sopan ini tak punya andil apa-apa, tidak seperti beliau-beliau dan kakanda semua.

  2. Alhamdulillah …terima kasih ..Stadz , dan sekarang kami di disiplin tidak lagi berteriak teriak .. sudah hampir setahun ^_^

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: