Antara Segelas Kopi dan Kehidupan

Kopi, minuman hasil dari biji kopi yang telah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk. Kopi ditemukan secara tidak sengaja sekitar tahun 800 SM/850 SM oleh seorang penggembala yang bernama Khalid. Di Indonesia sendiri, kopi dikenalkan oleh bangsa Belanda. Mereka pula lah yang membudidayakan dan menyebarluaskan kopi di wilayah perkebunan Indonesia.

Kopi, sederhana memang; tentang kopi, mungkin orang hanya mengira itu minuman penghangat di pagi atau sore hari. Akan tetapi, dibalik kesederhanaan kata kopi, tersimpan banyak makna dan cerita. Secangkir kopi seringkali menghadirkan cerita bagi penikmatnya. Tak jarang ide-ide besar muncul dari setiap seduhan kopi.

Minuman ini beraroma. Jika tersentuh lidah akan terasa pahit, sedikit asam ketika berada di tenggorokan, dan hangat tentu saja. Pada setiap tegukan akan muncul sensasi yang bisa membuat penikmatnya melayang-layang. Sedikit lebay memang, tapi begitulah gambaran dari penikmat kopi yang pernah saya dengar. Bagi mereka, menikmati kopi berarti mencintai satu paket rasa dalam kopi tersebut, pahit, manis, asam dan panas.

Ada filosofi dibalik kata kopi. Ya, kali ini saya tertarik untuk bicara makna dari cara memegang gelas kopi. Memegang gelas kopi ternyata tak sesederhana terlihat; ada kandungan makna filosofi di dalamnya. Andrea Hirata menyebut kopi bagaikan ensiklopedia tebal tentang watak manusia. Dalam bukunya Buku Besar Peminum Kopi (buku ini disebutkan dalam penggalan novelnya yang berjudul cinta di dalam gelas), ia menyebut beberapa temuan unik tentang cara meminum kopi.

Pertama, gelas kopi yang dipegang dengan cara dicengkram, dan kelima jari menempel di gelas menandakan orang tersebut sedang gelisah.  Kedua, pegangan tangan di bawah gelas kopi menceritakkan tentang kematangan pendirian dan kebijakan bersikap. Jemari yang dilingkarkan di bagian bawah gelas menandakan bahwa mereka adalah orang-orang tenang bisa diandalkan.

Ketiga, mereka yang memegang gelas kopi dengan ujung jempol dan ujung jari tengah saja, di bagian tengah gelas, pertanda menderita karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Keempat, mereka yang menjepit gelas kopi dengan jari telunjuk dan jari tengah, kedua jari sejajar, kemudian pada sisi gelas sebaliknya menjepit dengan jari manis dan kelingking adalah suatu tindakan bodoh sebab akan membuat gelas tak seimbang dan menumpahkan kopi. Namun, ketika ketidakseimbangan tersebut ditegakkan dengan ujung jempol, mengisyaratkan orang yang ingin aspirasinya didengar dan kemampuannya diakui. Terakhir, orang yang memegang gelas kopi di bibir gelas paling atas itu karena kopinya panas.

Apa yang disampaikan Andrea Hirata bisa benar, bisa salah, dan tentu saja juga bisa mengada-ada. Sungguhpun begitu, saya juga tertarik berbicara sesuatu tentang kopi; berdasarkan sudut pandang saya, tentu saja.

Saya memang bukan penikmat kopi. Akan tapi saya tertarik dengan orang-orang yang sangat menggilai kopi. Melihat mereka menikmati kopi seakan mengajarkan saya bagaimana caranya menikmati hidup. Penikmat kopi pahit mengajarkan bahwa hidup ini tidak selalu indah. Ada saat dimana hidup harus terasa menyakitkan. Namun, akan terasa berbeda ketika dicampur dengan gula. Hal ini dapat diperbandingkan dengan kenikmatan hidup yang selalu bersembunyi di sisi lain pahitnya hidup. Ada kemudahan di setiap kesulitan, akan ada solusi di setiap permasalahan, akan ada hikmah dibalik musibah.

Segelas kopi juga mengajarkan tentang makna pentingnya mencapai sebuah hasil (rasa) yang nikmat. Meracik, menunggu menjadi hangat, dan menyeduh, merupakan rangkaian proses untuk menikmati rasa tersebut. Kopi bukan hanya sekedar air pelepas dahaga. Kopi diseruput layaknya mengeja kata per kata dari sebuah makna kehidupan. Satu hal yang paling saya suka ketika melihat orang yang sedang menikmati kopi, mereka seolah memperlihatkan kharisma dan ketajaman empati dalam menikmati hidup. Beban mereka seakan hilang dalam setiap seruputan hangatnya kopi.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: