Apa yang Salah?

Beberapa hari ini otak saya tergelitik dengan sebuah pertanyaan “sebenarnya apa fungsi madrasah atau pesantren?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini hampir setiap hari terngiang dalam kepala saya yang selalu gatal ini. Melihat perkembangan posisi santri/siswa madrasah di masyarakat; melihat pertumbuhan sejumlah pesantren; serta mendengar penuturan dari sejumlah masyarakat, mahasiswa, tokoh masyarakat, atau guru pesantren sendiri. Ada apa yang salah dengan pesantren saat ini?

Saya coba untuk bernostalgia dengan masa lalu saat saya masih berumur sekitar 3 tahun hingga saat saya menjadi seorang “santri”; begitu yang biasa orang-orang sebut. Dari hasil nostalgia dari zaman antah berantah tersebut, saya mendapat beberapa hal yang bertolak belakang dengan hal-hal yang terjadi belakangan ini.

Ada beberapa hal dari zaman antah-berantah tersebut yang jika dibandingkan dengan zaman sekarang akan terlihat hal-hal yang saling bertolak belakang,

Pertama, dari segi santri. Dahulu pergaulan para santri dan guru tak seakur yang terjadi sekarang, tapi dalam ketidak-akuran itulah hubungan antara santri dan guru terlihat begitu indah, terlihat keakraban yang jelas, dan bahkan di kenang oleh para santri. Kebanyakan dari santri yang seperti inilah yang justru berhasil menjadi “orang. Coba lihat di zaman sekarang, kebanyakan para santri memang taat aturan seperti yang terlihat, begitu santun pada para guru, tapi kita bisa jadi terkaget-kaget melihat sifat asli si santri tersebut, walau saya tidak memungkiri ada santri yang memang benar-benar baik apa adanya.

Kedua, dari segi guru. Dahulu kebanyakan guru tak mengenal apa itu gengsi. Bahkan ada guru yang memang bisa menjadi sahabat satu-satunya bagi si santri. Ada juga santri yang merasa menemukan sosok yang mereka cari-cari dari guru tersebut. Mari kita lihat di masa sekarang. Ah sudahlah. Sudah malas pula hati ini untuk mengungkapkannya. Karena hal ini sering terjadi pada diri ini; terlalu tinggi gengsi coy. Dan yang lebih parahnya lagi ada yang dikenal sebagai guru lepas hutang (itu tuh, yang mengajar karena dapat “gaji”). Juga tak saya pungkiri ada guru-guru yang benar-benar mendedikasikan dirinya untuk masa depan si santri, dan itupun jumlahnya sedikit.

Ketiga, dari segi aturan. Kalau dari segi ketatnya peraturan mungkin tak jauh berbeda, tapi dalam segi kemanjaan para santri dan labilnya emosi pengajarlah terlihat perbedaan. Masih teringat jelas kalau di zaman antah-berantah tersebut orang tua memberikan rotan pada guru sebagai alat untuk mengajari anaknya. Begitulah cerita orang tua dahulu. Sekarang entahlah, saat si santri bermasalah dengan peraturan yang tertanam adalah rasa dongkol di hatinya, dan kebanyakan pengajar tak suka dengan murid pelanggar aturan.

Saya juga baru tersadar, bahwa ada sejumlah madrasah/pesantren yang dibawa larut ke dalam percaturan politik, nyata maupun diam-diam. Ini ada apa? Bukankah sebuah institusi pendidikan seperti pesantren mempunyai harga diri yang lebih tinggi dari itu!?. Ketika sebuah institusi pendidikan telah di rasuki racun busuk politisasi parpol, institusi itu hanya menunggu mati, bagaimana tidak, niat suci ulama terdahulu mendirikan tempat belajar agama islam sekarang mengidap penyakit doktrin-doktrin dari sebuah parpol. Saya bingung entah mau tertawa apa menangis mendengar hal ini.

Seharusnya sebuah lembaga pendidikan seperti pesantren mempunyai vaksin penangkal virus tersebut, tapi mungkin vaksinnya sudah usang atau memang virusnya yang sudah ber-evolusi. Entah apa yang salah dengan dunia pendidikan Islam yang dahulu saya banggakan, sekarang kenapa bisa jadi begini? Apa memang racun nafsu untuk berkuasa sudah terlalu mendarah daging sehingga begitu teganya menggerogoti tempat orang-orang yang haus akan ilmu-ilmu Islam?

Entah saya harus mengutuk atau saya harus bungkam? Ini bukan masalah saya berilmu tinggi atau bukan. Ini masalah sebuah virus yang begitu menjijikkan, entah teman-teman saya yang senasib dengan saya dahulu merasakan hal yang saya rasakan ini, atau malah mereka sudah terlalu nyaman dengan dasi keren yang melingkar di leher mereka.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: