Arogansi (Un)Intelektual = Gadang Sarawa

 

Arogan mungkin terdengar keren dan elegan, namun jika dialihbahasakan ke Bahasa Arab, artinya angker: takabur, sebuah dosa yang biasanya melahirkan dosa lainnya.
Contoh, dokter umum didatangi oleh pasien infeksi tulang yang membutuhkan penanganan spesialis. Ia yang sudah pernah menemani dokter spesialis melakukan operasi, merasa mampu pula untuk melakukan hal sama. Hasilnya? Boleh jadi sukses, namun kemungkinan besar si pasien akan berakhir menjadi korban amputasi. Awalnya sombong dan merasa bisa, akhirnya dipidana.
Sebenarnya penyakit macam ini menurut Imam Muhammad Al-Barkawi bukanlah sombong, ia masuk ke dalam kategori ujub. Bedanya, sombong adalah merasa lebih dari orang lain. Sedangkan ujub, cukup dengan rasa bangga dan menganggap diri hebat, tanpa ada korban ‘studi banding’.
Penyakit ujub macam ini dalam prakteknya akan melahirkan pribadi yang tidak menghargai profesionalitas. Dampak lebih jauh, ia akan melahirkan kesombongan yang sebenarnya : menolak kebenaran serta meremehkan orang lain. Sangat disayangkan, lagi-lagi bidang agama menjadi lahan basah tempat menjamurnya pribadi berpenyakit ini.
Tak jarang kita melihat persona yang mengklaim ini-itu tanpa ilmu, karena di hatinya ada ujub sehingga merasa mampu dan tak perlu merujuk kepada ulama. Makin jauh, ia mulai merasa ‘berbakat’ dan pantas juga disebut ulama, sehingga saat ia menemukan fatwa ulama berkompeten yang berbeda dengan fatwanya yang asal-asalan, ia akan berkata, “Itu contoh ulama sû’ (buruk) yang diwanti-wanti Nabi Saw akan datang di akhir zaman,” Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh!
Wajar, karena kebenaran sebuah fatwa hanya akan diketahui nanti di akhirat, sehingga orang awam pun tak akan merasa bersalah meskipun fatwanya memang salah. Namun bukan berarti Rasulullah Saw tidak memberikan kriteria fatwa yang benar, karena beliau bersabda, “Apabila seorang hakim berusaha mencari hukum dan ia berusaha keras (berijtihad), kemudian hukum yang ia ambil benar, maka ia mendapat dua pahala. Namun apabila ia berusaha keras namun salah, ia tetap mendapat satu pahala,” (HR Bukhari & Muslim)
Mayoritas ulama sebagaimana yang dinukilkan Imam Ar-Razi menggunakan hadis ini sebagai dalil bahwa semua hasil hukum yang bersumber dari ijtihad ulama adalah benar, buktinya pahala tetap diberikan. Tidak ada istilah siapa yang benar, siapa yang salah, karena patokan kebenarannya terdapat pada proses, yakni ijtihad. Dan sebuah fatwa yang dikeluarkan tanpa proses ijtihad, tetap akan diganjar dosa meski benar hasilnya.
Melimpahkan segala kesalahan kepada pribadi awam yang gadang sarawa_ dalam berfatwa sebenarnya juga bukan hal bijak. Karena mereka hanyalah korban; korban dari oknum ustaz-ulama yang memberi kajian setengah matang, sehingga yang dihasilkan pun adalah alim seperempat matang.
Seperti dlam pengobatan, dokter hanya memberikan resep obat kepada pasien. Bukan malah memberikan bocoran bahwa antibiotik itu untuk membunuh kuman, antipiretik untuk menurunkan demam, analgetik untuk menghilangkan sakit kepala dan mukolitik-ekspektoran untuk batuk.
Tindakan ini nantinya akan membuat si pasien merasa pintar, dan saat ada orang dekatnya yang terserang penyakit hampir serupa, ia akan langsung menuju apotek tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter. Efeknya apa? Boleh jadi sembuh, boleh jadi tidak, boleh jadi mati; over dosis.
Begitu pula dalam beragama. Seorang alim hendaknya cukup memberikan pendidikan yang ingin dan wajib diketahui oleh awam. Saat si alim mulai mengajarkan usul fikih ataupun mustalah hadis dalam pengajian terbuka -yang pasti tidak akan komprehensif dan selesai-, tentu yang dihasilkan nanti adalah jamaah sok alim yang sok mampu berfatwa.
Ia menjelma menjadi ulama, namun sayang, hanya ulama jadi-jadian, setengah matang. Dan dalam bidang keilmuan manapun, ilmu setengah matang ini adalah sumber bencana. Seperti dokter setengah matang, jika berani-berani untuk bertidak di luar wewenang dan kemampuannya.
Ada lagi beberapa oknum ustaz yang memang hanya memberikan hukum-hukum yang dibutuhkan jamaah. Namun sayang, metode penyampaiannya adalah metode perbandingan mazhab. Semua mazhab yang ada dalam satu masalah ia sebutkan, dan jamaah ia beri kebebasan untuk memilih, sama dengan dokter yang memberi resep obat namun dengan banyak versi.
Metode ini nantinya akan mencetak jamaah skeptis dan menganggap enteng segala perkara agama. Saat ia ragu apakah wudunya batal atau tidak karena ia menyentuh lawan jenis, ia akan bergumam, “Halah, pasti ini masalah khilaf. Paling-paling ada pendapat ulama yang mengatakan bahwa wudu saya tidak batal,”
Atau saat ia ragu apakah salatnya sah atau tidak karena ia tidak fasih membaca al-Fatihah, ia juga bergumam, “Paling-paling dimaafkan. Kesalahan kecil kok,”
Bahkan saat mendengar pengajian dan si ustaz menyampaikan hukum-hukum agama, ia akan lancang untuk membantah, “Ustaz kok gampang sekali mengkalim ini salah-ini dosa-ini batal? Apakah Ustaz sudah kaji pendapat ulama lain? Siapa tahu ada yang berpendapat boleh. Siapa tahu ini, siapa tahu itu…”
Ini yang dimaksud arogan, kesombongan karena pelakunya ingin dianggap intelek. Namun sayang, hasilnya hanya kesombongan, tanpa ada embel-embel intelek.
Saat seseorang tidak punya ilmu, seharusnya ia merendahkan hati untuk bertanya kepada kepada yang punya ilmu. “Maka bertanyalah kepada orang yang tahu apabila kamu tidak tahu,” (QS : an-Nahl : 43, QS al-Anbiya : 7). Lalu saat ia mendapat jawaban, ia mesti menerima, bukan malah membantah. Bukankah adab bertanya memang seperti itu? Lagi pula, atas dasar apa ia membantah jika ia memang tidak punya ilmu?
Lalu solusinya bagaimana? Kembali kepada solusi untuk mengobati penyakit sombong dan ujub. Syaikh al-Barkawi memberikan banyak obat untuk mengatasi dua penyakit ini, namun obat paling utama adalah menyadari posisi serta kemampuan diri.
Seorang alim harus paham apa yang harus disampaikan saat ia mengisi pengajian umum. Pun ia tahu apa yang harus disampaikan jika ia memberi pelajaran di kelas intensif yang dihadiri murid berkomitmen.
Seorang awam harus sadar kapasitas dirinya, hingga pada akhirnya, pertanyaan ‘Pantaskah saya mengambil hukum tanpa ilmu, ataukah saya harus bertanya kepada ahlinya?’ tak perlu lagi dipertanyakan. Wallahu a’lam.
***

Fakhry Emil Habib

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir jurusan Usul Fikih. Alumni parabek tahun 2011.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: