Arus Besar; Menggeser Pondasi yang Ada

Kemajuan ilmu pengetahuan yang mengalami lompatan-lompatan besar telah mengubah tatanan kehidupan manusia. Dunia sudah terhubung tanpa mengenal batas wilayah secara teritorial. Kemajuan teknologi di bidang teknologi informatika yang kita saksikan hari ini telah merubah sistem yang ada.

Kemajuan ilmu pengetahuan untuk menyejahterakan umat manusia ternyata tidak berjalan sesuai dengan tujuannya. Renaisance yang terjadi di Eropa pada abad pertengahan telah merubah Eropa menjadi kawasan maju. Kemajuan itu pun berujung kepada bencana kemanusian dengan terjadinya Perang Dunia I dan II.

Kebangkitan itu telah berhasil mendobrak kekuasaan gereja yang berkolaborasi dengan kaum feodal dengan kekuasaan yang sangat absolut. Pemasungan terhadap kebebesan berpikir selama berabad-abad lamanya telah berhasil didobrak dan melahirkan paham-paham baru. Liberalisme, Kapitalisme, Soasialisme, Materilalisme, Nasionalisme dan Ultranasionalisme adalah buah dari itu semua.

Semuanya merupakan arus besar yang sampai hari ini terus mempengaruhi perjalanan kehidupan manusia. Dominasi agama sudah mengalami pergeseran akibat tidak terbendungnya arus besar ini. Islam sebagai agama rahmatal lil’alamin setelah zaman keemasannya tidak lagi mampu membendung arus yang terus bergulir bagaikan bola salju.

Islam digiring menjadi bagian yang terpisah dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Islam terus menerus digiring untuk terpisah dari satu kesatuan yang utuh dalam kehidupan. Islam digiring menjadi agama ritual semata.

Seperti yang kita saksikan sekarang, materialisme dan liberalisme telah menjadi “keyakinan” baru yang secara tidak sadar telah diperjuangkan oleh setiap orang, termasuk muslim. Hak Azazi Manusia menjadi senjata ampuh untuk memberengus orang-orang yang menghadangnya. Liberalisme yang menjujung tinggi kebebasan individu terus menggerus seluruh sisi kehidupan.

Toleransi, keadilan, kebersamaan, dan perlindungan terhadap kaum lemah adalah “barang” langka saat ini. Arus kapitalisme yang muncul akibat liberalisme secara perlahan dan pasti telah menggurita. Penguasaan sumber-sumber ekonomi dan aset terus bergulir kepada para pemilik modal.

Alat-alat negara telah beralih fungsi menjadi pelindung bagi pemilik modal. Tanpa bisa dipungkiri, pemegang kekuasaan adalah mereka yang memiliki modal yang hanya mempunyai kepentingan terhadap diri dan kelompoknya. Ketimpangan pendapatan antara yang kaya dan miskin sudah seperti jurang yang menganga, sangat jauh.

Para pemilik modal berhasil mengendalikan semuanya. Media sebagai alat yang ampuh untuk propaganda dikuasai dari hulu sampai hilir. Kebebasan pers yang dijadikan sebagai pilar demokrasi kadang sering memberikan informasi yang menyesatkan. Demokrasi yang diusung sebagai pintu utama untuk mengendalikan semuanya cenderung berperan manipulatif.

Kebebasan membuahkan radikalisme yang akhirnya memupuk tumbuhnya perlawanan. Tumbuhnya kaum fundamentalis diakibatkan oleh itu semua; karena keadilan hanyalah diterjemahkan berdasarkan kepentingan. Perlindungan terhadap rakyat kecil sering terabaikan. Pengobat hati mereka selalu diperhatikan hanya dengan program-program pemerintah yang bersifat bantuan sesaat yang tidak mengeluarkan mereka dari akar persoalan yang sebenarnya. Hampir seluruh sarana yang diperlukan bersifat komersil berbiaya tinggi. Penghisapan demi penghisapan tidak terbendung lajunya.

Ancaman terorisme dan komunisme menurut hemat saya bukanlah sebuah ancaman yang sangat membahayakan saat ini. Justru arus liberalisme dan kapitalisme inilah yang sesungguhnya sangat berbahaya dan nantinya akan menggusur pondasi yang dimiliki umat. Belum lagi budaya hedonis yang terus dipamerkan, lebih meracuni pikiran manusia dibandingkan ajaran ideologi yang dikhawatirkan.

Uang menjadi penentu segala-galanya. Pengalihan perhatian utama dengan sokongan teknologi informasi terus terjadi dengan hebat. Lihatlah betapa berani orang saat ini memamerkan kebobrokan akhlak. Lihatlah bahwa budaya malu sudah mulai terkikis.

Inilah tantangan terberat yang harus menjadi perhatian utama kaum intelektual muslim untuk memberikan jawaban bahwa Islam mampu untuk mengatasi itu semua. Realita kehidupan hari ini belumlah dijawab sepenuhnya oleh Islam itu sendiri. Sistem ribawi belum seutuhnya bisa terlepas dari kehidupan kaum muslimin. Penerapan ajaran Islam dari sisi bermu’amalah harus menjadi penekanan yang sungguh-sungguh.

Islam tidak hanya ditampilkan dalam aspek ritual ibadah mahdah semata, akan tetapi lebih luas dari itu. Islam adalah agama yang bersumberkan wahyu yang mencakup unsur ibadah dan urusan kemasyarakatan. Peran inilah yang sangat diharapkan tumbuh dan dikembangkan melalui institusi pendidikan Islam sebagai salah satu pelopornya. Dulu, Madrasah Sumatera Thawalib mengambil peran itu menjadi salah satu pilar gerakan pembaharuan Islam di Indonesia yang berpusat di Minangkabau dan Jawa Tengah. Semoga saja, Surau Parabek sebagai salah satu pihak yang mengambil peran tersebut.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: