Asketisisme dan Raja Salman

Alkisah, seorang pemuda dengan semangat agama yang luar biasa menunggu giliran untuk mengajukan pertanyaan kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika kesempatan itu datang, dengan rasa hormat dan penuh kerendahan hati ia mendekat kepada Sang Baginda lalu bertanya.

“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang bila aku lakukan dapat mendatangkan cinta serta sayang dari Allah dan manusia?

Nabi pun tampak takjub dengan pertanyaan pemuda itu, kemudian beliau menjawab:

Wahai Sahl, bersikap zuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan Zuhudlah engkau terhadap apa yang ada pada diri manusia, maka manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

Zuhud atau Asketisisme merupakan salah satu maqam yang sangat penting dalam ajaran tasawuf. Dalam sejarahnya, “aliran” zuhud muncul pada akhir Abad I dan permulaan Abad ke-II Hijriyah. Perkara ini muncul sebagai reaksi penolakan terhadap hidup mewah dari Khalifah dan keluarga serta para pembesar negeri sebagai akibat dari kekayaan yang diperoleh setelah Islam meluas ke Syria, Mesir, Mesopotania hingga Persia.

Zuhud sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Junaid Al-Baghdadi, adalah ketika tangan tidak memiliki apa-apa dan pengosongan hati dari cita-cita. Dengan kata lain, seorang yang zuhud kata Harun Nasution adalah orang yang hidup sesederhana mungkin.

Ia berpakaian, makan, minum, dan tidur hanya sekedar perlu untuk menjaga supaya badan tidak sakit. Bahkan Ibnu Rajab Al-Hanbali menambahkan, zuhud adalah berpaling dari sesuatu dengan sedikit dalam memilikinya, menghinakan diri darinya, serta membebaskan diri darinya.

Saat ini, Indonesia dihebohkan dengan kedatangan orang nomor satu di negeri Arab Saudi. Beliau merupakan penjaga dua kota suci umat Islam. Ialah Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud. Dalam kunjungannya, beliau ikut membawa 1.500 anggota rombongan, termasuk menteri, pangeran, dan pengusaha dengan menggunakan tujuh pesawat (silahkan cek harga tiket pulang pergi dengan maskapai Saudi Airlines lalu kalikan dengan jumlah rombongan). Raja yang memilki kekayaan 17 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 226,7 triliun sebagaimana yang dirilis oleh majalah Forbes ini akan berada di Bumi Pertiwi selama sembilan hari.

Berita yang beredar, selain 1.500 rombongan yang ikut, Raja Salman juga membawa dana investasi sebesar US$25 miliar (Rp 334,06 triliun). Tentu ini bukan dana yang sedikit! Bahkan dalam lawatannya ke Indonesia, Raja Salman beserta rombongan juga akan berlibur ke Bali. Fahri Hamzah mengatakan bahwa segala yang berhubungan dengan liburan di Bali tersebut seperti biaya hotel dan lainnya telah ditanggung  sendiri oleh negeri Saudi alias tamu yang akan datang.

Dari sinilah timbul pertanyaan, “dimana sikap zuhud orang-orang Saudi? tidak sampaikah ajaran zuhud ke negeri mereka?” Keheranan seperti ini tentu saja muncul bila kita kaitkan dengan pengertian-pengertian dari zuhud di atas. Terlebih para zahid dari generasi dahulu betul-betul hidup dalam kesederhanaan untuk “melawan” sikap bermegahan para penguasa.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, bila kita telusuri lebih jauh ternyata tidak sedikit para ulama yang memaknai zuhud dengan pengertian yang berbeda sehingga sesuai dengan perkembangan zaman saat ini (baca: era modern).

Ibrahim bin Adham misalnya menjelaskan zuhud adalah mengkosongkan hati dari dunia, bukan mengkosongkan tangan dari dunia. atau engkau menjadikan dunia di tanganmu, bukan di hatimu.

Dalam kitab Siyar A’lam wa Al-Nubala juga dikisahkan tentang pertanyaan Fudhail bin I’yadh terhadap Ibnu Al-Mubarak, “Wahai guruku, engkau memerintahkan kami untuk zuhud, hidup seadanya, sederhana dalam harta, namun kami melihat engkau orang yang punya banyak harta, kenapa engkau berbuat demikian?”

Ibnu Al-Mubarak menjawab: “Wahai Fudhail, aku berbuat seperti ini, agar aku dapat menjaga hidupku dari aib karena meminta-minta. Aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku dan agar aku semakin taat terhadap Rabbku”

Tak ketinggalan ulama modern, Buya Hamka, penulis buku “Tasawuf Modern”, beliau menafsirkan zuhud dengan “Orang yang sudi miskin, sudi kaya, sudi tidak beruang sepeser juga, sudi jadi miliuner, tetapi harta itu tidak menjadi sebab buat dia melupakan Tuhan, atau lalai dari kewajiban”.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa mengartikan zuhud dengan hidup tanpa harta, hidup miskin, penuh derita, enggan mencari nafkah dan tidak mementingkan kehidupan dunia sama sekali adalah sebuah kesalah pahaman.

Maka tidaklah benar seseorang mengkritik habis-habisan Raja Salman beserta rombongan (ataupun orang kaya raya lainnya) dengan mengatakan bahwa telah hilang sikap zuhud dari diri mereka. Sebab zuhud adalah perbuatan hati. Seperti yang juga dijelaskan oleh Imam Abu Sulaiman “Janganlah engkau mempersaksikan seorang pun dengan zuhud, karena zuhud adalah amalan hati” Wallahu A’lam bi Al-Shawab.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: