Atribut Natal dan Rekayasa Tubuh

Di abad 21 ini selalu saja ada pihak yang menginterpretasi tubuh manusia seperti seonggok daging tak berjiwa, seperti mesin tak bertuan. Fenomena yang hangat saat ini sebaiknya tidak dilihat dalam hubungannya dengan toleran atau intoleran, living law atau hukum positif, pencairan berbagai tradisi agama-agama, melainkan dari sisi yang paling mendasar dan sangat primordial yaitu tubuh.

Mencuatnya fatwa MUI ke permukaan terakhir ini, menuai respon yang tidak sedikit. Pasalnya, fatwa tentang pengharaman umat Islam mengenakan atribut non muslim tersebut, telah terkait (dikaitkan) dengan berbagai hal. Pihak FPI, misalnya, segera melakukan aksi sweeping setelah fatwa ini dikeluarkan. Dengan dalih sosialisasi, aksi tersebut dianggap telah melangkahi aparat yang berwenang.

Pada saat bersamaan pihak kepolisian di sebagian daerah mengeluarkan surat edaran dengan menjadikan fatwa MUI sebagai rujukan. Hal ini lantas membuat Tito Karnavian berang. Sembari memerintahkan mencabut surat edaran, Tito berdalih fatwa MUI bukan hukum Positif. Pewartaan di televisi serta sejumlah tulisan di media (online maupun cetak) ikut meriuhkan fenomena ini. Silang pendapat antara para ahli berlangsung cukup hangat. Kacamata yang digunakan pun beragam.

Tetapi ada satu hal yang terlewatkan, sesuatu yang sangat mendasar, fundamental dan primordial; sesuatu yang menjadi poros kebudayaan dewasa ini yaitu tubuh. Kaitan antara tubuh dan konstruksi atasnya seakan terselubung dalam gelap dan tidak sekalipun dipertanyakan. Kealpaan terhadap hal ini di samping akan membenarkan kontrol atas tubuh, keadaan tersebut justru membuat seseorang semakin terasing dari dirinya sendiri.

Mesin-isasi Tubuh.

Fatwa MUI seakan mengindikasikan (dan memang benar), terdapat pihak-pihak, atas kuasa yang dimiliki, dengan sengaja mengonstruksi tubuh seseorang. Lebih jauh tindakan ini tidak saja dipraktikkan untuk menyambut hari natal, bahkan setiap saat tubuh sudah begitu saja dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Yasraf Amir Piliang dalam Posrealitas menyatakan, kebudayaan kontemporer ditandai dengan keterpisahan tubuh dari budi dan jiwa. Tubuh dewasa ini lebih difungsikan sebagai titik sentral dari mesin produksi, promosi, distribusi dan konsumsi kapitalisme.

Fenomena tentang atribut natal merupakan contoh pragmatis bagaimana tubuh, dijadikan komoditi untuk menjual komoditi lain (metakomoditi). Tegasnya atribut natal yang dikenakan kepada pegawai (baik di pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran dll.) difungsikan untuk menarik animo khalayak banyak terhadap barang dan jasa yang ditawarkan.

Sejak 1920an perusahaan coca-cola, misalnya, telah menggunakan atribut natal dalam sistem distribusinya. Pria dengan pakaian sinterklaas dalam iklan coca-cola (begitu juga dengan produk lainnya dewasa ini) jelas menggambarkan bagaimana tubuh difungsikan sebagai pendamping komoditi.

Tubuh saat ini juga menjadi sasaran empuk konsumsi. Munculnya piranti-piranti kecantikan, semisal kosmetik, pil dan perkembangan teknologi untuk modifikasi tubuh semisal operasi plastik merupakan salah banyak contoh tentang hal ini.  Pada skala besar hasrat untuk melayani konsumsi ini telah mengasingkan seseorang dari tubuhnya.

Kebebasan Bertubuh.

Pewartaan dan tulisan-tulisan yang muncul terkait fatwa MUI belakangan ini sama sekali tidak menyentuh aspek yang mendasar itu (tubuh). Mereka yang pro membabi buta tanpa kritik mengikuti fatwa tersebut. Semakin berani, aksi sweeping dijadikan alternatif untuk mencandra kebebasan seseorang.

Sebagai organisasi keislaman sudah sepatutnya MUI memberikan pandangan tentang suatu norma. Namun ini tidak berarti menghalangi seseorang mengendalikan tubuh pribadinya. Lebih luas pandangan MUI hanyalah salah satu cara memahami bagaimana orang bertubuh.

Di sisi lain, kelompok yang kontra membantah antara lain dengan merujuk pada akulturasi yang sudah terjalin berkelindan di setiap tradisi agama. Agama, menurut mereka, saling meminjam dan mengadopsi budaya agama lain, sehingga tidak ada tradisi yang murni. Pendapat ini pada batas-batas tertentu benar namun memiliki kecacatan. Mereka lupa –bahkan mungkin sengaja mengalihkan– ada pihak-pihak yang dengan sengaja, demi kepentingan tertentu,  mengendalikan tubuh seseorang.

Pemikiran yang mereka kemukakan seolah-olah membenarkan kendali atas tubuh. Sederhananya mereka seakan berpihak kepada sekelompok elit –semisal mall– yang memaksakan suatu atribut tertentu kepada orang lain. Sikap kritis tersebut bukan malah difungsikan untuk membongkar status quo, melainkan mempertahankannya. Kesimpulan mereka berujung pada pernyataan: fatwa MUI meningkatkan sisi intoleran dan ke-exclusive-an umat Islam, pada saat bersamaan sebenarnya mereka tengah tenggelam dalam kubangan bermuatan  kepentingan.

Fenomena yang tengah hangat saat ini menjadi moment bagi kita untuk kembali memerhatikan persoalan tubuh. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, tubuh sebagai titik sentral kebudayaan kontemporer telah tercerabut dari budi dan jiwa. Tubuh dijadikan sebagai penggerak roda produksi dan distribusi, di sisi lain budak dari konsumsi. Kritik yang dilakukan mestilah melampaui egoisme keagamaan.

Sebagai penutup dapat saya katakan aksi sweeping yang dilakukan FPI benar-benar sudah merenggut kemerdekaan tubuh. Menjadikan tubuh seperti mesin, sebagai penggerak roda perusahaan, juga telah mengebiri jiwa dari tubuh. Menarik diri dari konstruksi yang sewenang-wenang atas tubuh merupakan pembebasan yang penting.

Rahmat Fauzi

Rahmat Fauzi adalah alumnus Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Saat ini adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: