Bacalah!

Dr. Edward Coffey, seorang ahli saraf, menemukan bukti bahwa membaca buku secara rutin dan bermakna dapat membantu seseorang terhindar dari demensia (rusaknya jaringan sel saraf otak). Dengan membaca, seseorang kemudian dapat menghubungkan sel-sel saraf yang satu dengan sel-sel saraf yang lain. Dan jika proses menghubung-hubungkan ini terjadi secara kontinu dan efektif, maka jaringan saraf otak pun menjadi sangat rapat dan kukuh.

Nikmat yang pertama kali yang mesti kita syukuri setelah beriman kepada Allah ta`ala dan menjadi umat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam adalah membaca. Betapa banyaknya orang yang diberi kesempatan merasakan berbagai nikmat dunia oleh Allah, akan tetapi belum dikaruniai kemampuan untuk membaca alias ummi.

Kata membaca terdiri dari 7 huruf yang mudah diucapkan namun begitu sulit untuk diaplikasikan. Islam telah lama memotivasi umatnya untuk membaca. Bukankah wahyu pertama yang diterima Rasulullah  shallallahu `alaihi wasallam adalah iqra`. Perintahnya `am (umum), mencakup segala jenis bacaan. Membaca Alquran, buku, alam semesta, bahkan membaca diri sendiri yang outputnya adalah mengenal Allah ta`ala (man `arafa nafsahu faqad `arafa rabbahu).

Dimulai dengan iqra`-lah kemajuan umat manusia bisa digapai. Tiada kemajuan tanpa membaca. Tidak membaca berarti sebuah kemunduran dan keterbelakangan. Saking urgennya membaca, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam mau membebaskan tawanan perang dengan syarat mengajarkan anak-anak kaum Anshar membaca.

Dengan membaca, kita mampu memikirkan dan mengetahui informasi apapun yang berkembang di media massa. Kita bisa mengitari dunia meskipun berada di pelosok desa, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk dunia. Kita bisa mengitari dunia hanya dengan membaca. Coba bayangan! Anda akan mampu merasakan denyut nadi orang Australia sedangkan Anda berada di Indonesia. Anda mampu mengitari Padang Sahara Mesir yang tandus dan menyaksikan peradaban yang telah ada ribuan tahun lamanya. Anda bisa merasakan kebisingan Stadion Allianz Arena di pertandingan Liga Champion antara Bayern Munchen dan Barcelona dengan membaca (koran bola).  Anda bisa jalan-jalan di Amerika meniti jembatan Golden Gate California, merasakan derasnya aliran Sungai Amazon yang merupakan sungai terpanjang kedua setelah Nil di Afrika dan ganasnya gigitan ikan Piranha.

Atau merasakan perjuangan Imam Bukhari berjalan dari Bukhara di Uzbekistan ke Mesir, Baghdad, bahkan Suria, “menyaksikan” beliau belajar kepada ulama besar dunia. Anda bahkan bisa menjelajahi taman surga bersalaman dengan bidadari yang cantik jelita sambil minum air telaga atau merasakan panasnya neraka yang menyala-nyala membakar para durjana seperti Abu lahab dan istrinya.  Itu semua dapat kita lakukan secara percuma, hanya dengan membaca. Apalagi yang menghalangi kita untuk membaca?

Semua bahan bacaan dan perpustakaan yang memiliki berbagai katalog buku telah tersebar di bumi pertiwi. Bahkan layanan internet yang dahulunya hanya tersedia di tengah kota hari ini sudah menjadi konsumsi pribadi yang tersebar di pelosok negeri. Derasnya arus informasi seolah-olah tidak bisa kita ikuti. Segala kemudahan tersebut masih belum mampu membuat kita menggerakkan hati untuk membaca demi melejitkan potensi dan berkarya tiada henti. Nampaknya, hal ini berbanding lurus dengan kondisi negeri ini yang terpuruk oleh sistem meterialisme dan hedonism, mulai dari elemen terendah hingga tikus-tikus berdasi.

Lihatlah ulama-ulama kita (tanpa larut dalam romantisme masa lalu) betapa keterbatasan hidup dan fasilitas tidak menghalangi mereka membaca. Imam Ibnu AlJauzi pernah berkata: aku tidak pernah kenyang membaca buku, jika menemukan buku yang belum pernah aku lihat maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat katalog buku-buku wakaf di Madrasah Nizhamiyah yang terdiri dari 6.000 jilid buku. Aku juga melihat katalog  buku Abu Hanifah, AlHumaidi, Abdul Wahhab, Ibnu Nashir, Abu Muhammad bin Khasysyab dan lain-lain yang mampu aku baca. Aku pernah membaca 20.000 jilid buku lebih, dan sampai sekarang aku masih mencari ilmu. Dan inipun dibuktikan dengan karya beliau yang berjumlah lebih dari 500 judul buku.

Mustahilkah ? tidak bagi orang seperti mereka yang benar-benar memanfaatkan setiap detik waktunya untuk ilmu. Bagi mereka tiada waktu yang terbuang percuma tanpa karya. Bahkan waktu-waktu dimana dianggap normal menghabiskannya, tidak buat mereka. Ketika makan, berjalan kaki, hingga ke kamar mandi pun mereka sempatkan untuk membaca. Imam Abdurrahman anak dari Imam Abu Hatim Arrazi pernah ditanya perihal banyaknya hadis yang beliau dengar dari sang ayah: beliau menjawab: ketika sedang makan saya membacakan hadis kepadanya, ketika dia berjalan kaki saya membaca hadis kepadanya, ketika dia buang hajat saya membaca hadis kepadanya. Bahkan Imam Tsa`lab, imam bidang Nahu, membaca ketika sedang berjalan kaki padahal beliau sudah berumur 90 tahun yang menyebabkan kematian beliau.

Mereka tidak disibukkan dengan smartphone yang membuat mayoritas penggunanya terbuai dan menjadikan orang terdekat semakin jauh dan orang yang jauh kian mendekat. Jangan katakan kepada saya seandainya mereka hidup di zaman smartphone seperti kita mungkin akan berbeda alur ceritanya. Ingatlah bahwa tiap generasi memiliki tantangan hidupnya masing-masing. Mereka juga memiliki tantangan hidup sebagaimana yang kita rasakan. Kadang di tengah keterbatasan itulah seseorang mampu menunjukkan kualitasnya. Ulama-ulama terdahulu pun mampu berandai-andai kalau saya hidup dizaman smartphone akan lain ceritanya. Tapi tidak, mereka bukan generasi berandai-andai yang minim karya. Mahalnya harga buku serta alat tulis ketika itu tidak menghalangi mereka menjadi pribadi yang luar biasa yang mampu membaca ribuan karya.

Ingatlah, lemahnya motivasi anak muda hari inilah diantara penyebab hilangnya begitu banyak karya ulama terdahulu. Hilang boleh jadi bermakna tidak bertemu karena tidak ada yang peduli dan mencarinya atau bermakna tidak mampu memahami sehinggga hanya dijadikan sebagai penghias rumah tergeletak begitu rapi tak bernyawa atau parahnya lagi dijadikan sebagai panungkuih maco (sebagaimana cerita teman saya).

Kadang, gaya hidup yang serba instant-lah yang membuat kita ingin menjadi ilmuan dan ulama secara instant pula. GOOGLE pun dijadikan referensi tanpa mau membuka kembali lembaran-lembaran kitab yang telah lama disantap oleh debu. Kalau seandainya kitab-kitab ini bernyawa mereka akan merintih dan meraung-raung karena tidak pernah disentuh dan dibaca. Perjuangan ulama terdahulu seolah menjadi sia-sia dan tidak memiliki makna karena minimnya budaya baca di lingkungan kita. Marilah sama-sama kita jaga khazanah peninggalan ulama kita dengan membacanya. Sudah saatnya kita sebagai alumni pesantren menggalakkan kembali adagium : almuhaafazhatu `alal qadiim ashshaalih wal akhzu bil jadiidil ashlah

( المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح )

Melesterikan budaya/metodologi/sesuatu yang lama namun masih relevan dan mengambil sesuatu/metodologi/terobosan baru/ langkah inovatif yang lebih baik. Tanpa harus membuang seluruh yang lama. Melestarikan dengan cara membaca karangan mereka. Mari Kembali ke Kitab! Wallahu a`lam.

 

Kairo, 14 Maret 2016 M / 14 Jumadil Akhir 1437 H

Muhammad Awaluddin

Muhammad Awaluddin adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2010. Saat ini adalah mahasiswa S2 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: