Bahasa dan Media di Balik Panasnya Suhu Ibu Kota

Oleh: Rahmat Fauzi

Mahasiswa S2 pada Program Studi Agama dan Filsafat, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

 

Lebih tepatnya bahasa bukanlah cerminan-diri seseorang, melainkan harimaunya (mulutmu harimaumu). Awungan harimau terdengar lebih pecah, nyaring, sekaligus menakutkan dalam hutan rimba informasi (media).

Memanasnya suhu ibu kota di penghujung 2016 membuat kondisi politik Indonesia menjadi tidak stabil. Adalah komunikasi tidak sehat Ahok yang menjadi akar dalam kegaduhan ini. Pada wilayah politis, momentum ini dimanfaatkan, baik oleh lawan politik maupun mereka yang tidak senang kepada Ahok, untuk menjatuhkan elektabilitasnya. Pada tataran ideologis, ujaran Ahok tentang ‘dibohongi pakai surat al-Maidah’ dianggap telah menista agama.

Peristiwa ini, sebagaimana dinyatakan Syafi’i Maarif, telah menguras habis energi bangsa. Berawal dari video yang diunggah oleh BY di akun sosial media, video tersebut lalu menjadi viral dan menyulut emosi sebagian masyarakat. Hal ini mencapai kulminasinya pada demo akbar 411 dan direncanakan akan berlanjut pada 212 nanti.

Merembesnya kasus ini hingga mengorbankan banyak hal adalah sesuatu yang tidak dapat di elakkan. Mulai dari isu menipisnya kepercayaan kepada pemerintah hingga dimakzulkannya ulama yang berbeda pendapat, dari perdebatan simbolis hingga kekerasan fisik, dari ketidakstabilan emosi hingga pemborosan materi, dari usaha menghasut hingga upaya pembenaran.

Di sini kita melihat, selain penggunaan media yang tak terbatas, bagaimana serangkaian pendek kata-kata Ahok telah dijadikan tumbal bagi keharmonisan bangsa dan negara. Barangkali Ahok maupun BY tidak akan menyangka bahwa ujarannya di kepulauan seribu dan atas tindakannya di sosial media tersebut akan berdampak sedemikian besar seperti saat ini.

 

Bahasa dan Diri

Ada hal menarik yang sering diabaikan oleh banyak orang terkait bahasa dan diri. Bahasa dan diri kerap dianggap memiliki hubungan diametris yang tidak memiliki celah atau jurang. Karenanya, justifikasi kepada seseorang selalu diawali dengan apa yang ia bicarakan dan tuliskan; keutuhan seseorang sering direduksi melalui bahasa yang ia gunakan. Padahal tidak demikian, hubungan bahasa dan diri lebih rumit.

Lacan, dalam teorinya tentang subjek, menyatakan manusia selalu diasingkan oleh bahasa. Ketika seseorang berbicara atau menulis ia selalu mewujudkan diri dengan bahasa. Tetapi bahasa, dengan segala logikanya, tidak dapat membuat seseorang mengada sepenuhnya. Dengan menggunakan bahasa, makna seseorang selalu berantakan, terpecah-belah, berubah menjadi tidak sama dengan apa yang diinginkannya dan bagaimana yang dikehendakinya.

Barangkali pepatah orang tua kita dahulu tentang ‘lain di mulut lain di hati’ perlu direnungkan kembali. Orang mungkin dapat berbicara dengan manis di depan publik namun sebagian perilakunya tidak semanis tuturannya, begitu juga sebaliknya. Mencuatnya kasus seorang figur yang sering tampil di Televisi dengan kata-kata hikmah namun malah absen dalam tindakannya sendiri adalah salah banyak contoh tentang fenomena ini.

Bahasa memang alat yang paling memungkinkan yang dapat digunakan seseorang untuk berkomunikasi. Namun menggunakan bahasa kerap menyebabkan seseorang disalah-pahami. Fenomena Ahok ini, misalnya, bisa saja dikatakan bahwa ia telah disalah-pahami. Kemungkinan bahasa telah mempelintir, menjungkir-balik, merumuskan kembali dan merubah apa yang sebenarnya ia inginkan dan maksudkan selalu ada. Ahok sendiri telah mengklarifikasi bahwa ia tidak bermaksud demikian (menista agama).

Selain persoalan bahasa, penggunaan media yang tak tepat sasaran membuat fenomena ini terasa semakin didramatisir. Kekeliruan dalam menggunakan dan memahami bahasa memang menjadi sumbu persoalan ini, tetapi medialah yang membuat kasus ini hidup, dan menggelora.

 

Kecanduan Media

Belakangan ini masyarakat telah menyaksikan bahkan sebagian menjadi aktor di balik mengalir dan membiaknya informasi di dalam media. Memang tak dapat disangkal, masyarakat dewasa ini selalu ingin hanyut dalam berbagai informasi, meskipun sebagian sebenarnya tidak ia butuhkan.

Dalam pengaruh apa yang disebut Baudrillard dengan ekstasi komunikasi, seluruhnya ingin dikomunikasikan oleh masyarakat, dari persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya, agama hingga hal-hal privat, sepele dan tidak penting. Keseluruhan pembicaraan itu terus mengalir dan diperbaharui dengan mengikuti logika kecepatan. Kenyataan ini berujung pada pola bermedia yang tidak sehat dan cerdas di tengah masyarakat.

Secara tidak sadar masyarakat telah disandera oleh arus kecepatan media itu sendiri, sehingga bukan makna melainkan tindakan bermedialah yang digandrungi. Bejibunnya informasi yang muncul meruntuhkankan akal sehat masyarakat untuk memfilter mana berita yang benar dan mana yang salah (you understand nothing but still say i agree). Hilangnya batas-batas di dalam media ikut mengaburkan nilai-nilai ketimuran yang selama ini melekat pada diri masyarakat.

Mencuatnya kasus Ahok ke permukaan, seakan melapangkan jalan bagi membudayanya pola bermedia yang tidak sehat itu di tengah masyarakat. Dari sebatas berita menista agama, saat ini media telah dijamuri berita-berita hoax.  Media dijadikan ladang untuk menyebarkan isu-isu sara, dijadikan wadah untuk memprovokasi, dijadikan medium untuk menebar kebencian, kedustaan, hujatan, pengkafiran, dst.

 

Refleksi.

Patut disayangkan jika fenomena yang berkembang saat ini hanya di pandang dengan kacamata tunggal (agama).  Saat ini ada baiknya kita mendekatinya dengan pikiran yang terbuka dan dengan hati yang tenang.

Di atas kita telah melihat bagaimana bahasa sejatinya tidak mumpuni dalam mencitrakan kedirian seseorang. Bagaimanapun antara bahasa dan diri tidak pernah berhubungan secara diametris. Kita juga telah melihat bagaimana penggunaan media yang tak terbatas dan tepat sasaran telah menghanyutkan kita dalam arus gelombang ketidakjelasan.

Lalu, sebagai bangsa yang besar, akankah kita dikalahkan oleh secuil ucapan Ahok yang mungkin saja tidak ia sengaja? Sebagai negara yang utuh, relakah kita dipecah-belah oleh syahwat buta yang mungkin saja dititipkan oleh para elit politik?. Sebagai bangsa yang berbudaya santun akankah kita mengorbankan moral dan etika ketika bermedia?. Dan sebagai masyarakat yang marah bila disebut ‘berpikiran dangkal’ masihkah menulis, membaca dan menyebarluaskan berita-berita hoax?[]

Rahmat Fauzi

Rahmat Fauzi adalah alumnus Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Saat ini adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: