Bahkan Surat Kabar pun Jadi Saksi

Sudah 70 tahun lebih Indonesia merdeka. Juga sudah barang tentu sudah 70 tahun pula Bukittinggi berada dipangkuan NKRI. Sepanjang itu, mulai dari dibangunnya Bukittinggi pada tahun 1820-an dengan nama Fort de Kock, hingga saat ini perkembangan Bukittinggi begitu pesat; Bukittinggi kota wisata.

Akan tetapi, dalam perkembangan tersebut, satu titik hitam perlu kita renungkan; sebuah titik yang menjadi titik lemah Bukittinggi pada khususnya dan Minangkabau pada umumnya. Titik itu adalah kurangnya gairah penulisan karya-karya dalam berbagai keilmuan dari masa ke masa dan tentunya saya melihat dari cermin kesejarahan.

Tapi sedikit maklumat yang harus diketahui oleh pembaca. Saya sangat tidak setuju bahwa bangsa-bangsa kolonial menyatakan bahwa Indonesia (khususnya bangsa Melayu dan lebih khususnya orang Minangkabau) pada zaman penjajahan buta huruf. Iya, Bangsa ini buta akan huruf latin tapi mahir dalam penulisan Arab Melayu (Pegon atau Jawi). Hal ini dikarenakan mereka hanya memandang kita dari kaca mata mereka sendiri.

Saya teringat pernyataan Louis Gottchalk, bahwa fakta adalah sebuah unsur yang terpenting bagi sejarah. Faktanya di Fort de Kock dalam cakupan luas (Bukittinggi dalam cakupan yang agak sempit daripada teritori Fort de Kock) pada zaman Belanda merupakan salah satu tempat tumbuh berkembangnya dunia penulisan di Minangkabau. Ketika itu persentase melek huruf di Nederland-Indie hanya sekitar 2,5 persen. Dengan jumlah penduduk sekitar 70,4 juta jiwa pada tahun 1940an yang berarti hanya sekitar 1,76 juta jiwa yang bisa membaca (persentase untuk cakupan Indonesia).

Tapi di Bukittinggi pada zaman penjajahan koran, artikel, bahkan penerbit-penerbit banyak sekali bermunculan, baik itu dari berbahasa Melayu, Belanda, maupun berbahasa Arab.

Contoh koran ataupun artikel yang terbit di Bukittinggi zaman itu baik mingguan maupun bulanan seperti dikutip dalam buku Bibliografi Minangkabau karangan Asma Naim dan Muchtar Naim tahun 1979 yaitu Aboean Goeroe-Goeroe, Al-Bayan (Santri Sumatera Thawalib pasti familiar dengan ini), Al-Itqan, Banteng, Barito Koto Gadang, Berita Balai Derma, Berita Vereeniging Studiefonds Minangkabau, Boedi Tjaniago, Daulat Ra’jat, Detik, Dunia Achirat, Extra Recherche, Kedaulatan Ra’jat, Kodrat Moeda, Ma’loemat, Medan Pertemuan, Minangkabau, Minangkabau bergerak, Oetoesan Ra’jat, Pahlawan Moeda, Pedoman Kita, Seng Po, Soeara Banoe Hampoe, Soeara Koto Gadang, Warta Niaga, dan dari beberapa koran dan artikel tersebut bisa dijumpai saat ini di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jakarta.

Penerbit berkembang di Bukittinggi seperti yang disebut dalam buku Gecombineerde-Telefoongids tahun 1940 Drukkerij Agam yang beralamat di Kampung China, dan dalam buku Muchtar Naim Marapi & Co, Djamiattawalin Bingkoedoe, Djamiah Soematera Thawalib Manindjau, Vereeniging Studiefonds Minangkabau dan banyak hanya disebutkan hanya Fort de Kock saja, dan satu lagi Drukkerij Baroe yang mana penerbit ini menerbitkan foto Inyiak Parabek Syaikh Ibrahim Musa semasa muda pada tahun 1927. Beberapa penerbit tersebut sudah diulas oleh sejarawan Minangkabau yang sekarang menjadi dosen di Leiden Univerity Suryadi Sunuri.

Dewasa ini, penerbit surat kabar di Bukittinggi dirujuk dari indonesiayp.com hanya ada satu yaitu Penerbit Ranah Minang, sedangkan percetakan ada 11 percetakan. Apakah dari surat kabar bisa melihat menurunnya gairah dunia penulisan masyarakat Bukittinggi atau Fort de Kock? Jika melihat hal tersebut tentu saja jawabannya iya.  Tapi saya tidak menjudge bahwa keintelektualan orang Bukttinggi semakin menurun.

Turunnya gairah penulisan di Fort de Kock dewasa ini semakin hilang jejaknya khususnya di Parabek,adalah tidak digunakan atau lebih tepat “Belum” digunakan lagi tulisan Syaikh Ibrahim Musa dalam dunia pendidikan khususnya di Parabek.

Dan perlu diketahui bahwa wilayah Fort de Kock dan Bukittinggi sedikit agak berbeda, wilayah Fort de Kock lebih luas dan mencakup beberapa wilayah yang berada di bawah administrasi Kabupaten Agam seperti Kecamatan Banuhampu, Kec. Sei. Puar, Kec. IV Koto, Canduang, Baso, dan Kamang.

Mustaqim

Mustaqim adalah alumnus Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek tahun 2012 dan sekaligus putra asli Parabek. Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana satu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan SKI.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: