Belajar banyak dari Nabi Ibrahim a.s dan Keluarganya

 

Hari raya Idul Idha baru saja meninggalkan umat Islam. Begitu banyak  peristiwa dan sejarah yang menimpa Ibrahim dan keluarganya nyaris terlupa dan luput dari ingatan. Beruntung setiap khatib yang menyampaikan khutbah, tidak lupa menyelipkan kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam uraian khutbahnya. Salah satu bukti nyata bahwa kisah yang disampaikan khatib itu dulu pernah singgah dalam ingatan kita adalah banyak diantara kita yang “mengangguk-angguk” ketika teringat dengan kisah tersebut.

Sehari sebelum Idul Adha tepatnya 9 Dzulhijah, jutaan umat Islam yang menunaikan ibadah haji hanyut dan larut dalam prosesi wukuf. Selama wukuf mereka berupaya mengenal diri dan mengenal Allah SWT. Buah mengenal diri menjadikan mereka semakin dekat dengan Allah SWT  dan semakin dekat dengan dosa dan kesalahan yang selama ini mereka lakukan. Sementara itu, bagi orang yang belum mampu melaksanakan haji, dalam rangka idul adha juga dianjurkan untuk melaksanakan puasa arafah, sebagaimana yang telah disabdakan  rasul “puasa hari arafah akan menghapuskan dosa dua tahun, setahun yang akan telah berlalu dan setahun yang akan datang.” Disamping itu bagi mereka yang belum melaksanakan ibadah haji juga dianjurkan melakukan instropeksi diri, menghisap diri, merenung akan segala dosa dan kemaksiatan, persis sama yang dilakukan oleh orang yang wukuf di Arafah. Besar harapan seluruh dosa itu diampuni Allah SWT.

Sembari merenung akan Allah SWT kita juga dianjurkan untuk merenung akan sosok nabi Ibrahim yang telah berjasa dalam meletakkan pondasi tauhid dan tata cara pelaksanaan haji dan kurban. Hampir seluruh peristiwa yang dialami nabi Ibrahim dan keluarganya telah abadi menjadi rukun dan syarat pelaksanaan haji dan umrah.

Sebagai salah seorang nabi dan rasul ulul azmi (nabi yang mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi). Nabi Ibrahim telah banyak melewati ujian dari Allah SWT. Kalaulah manusia biasa yang menerima ujian seperti yang dialami Ibrahim, pastilah banyak diantara mereka yang “angkat tangan” dan berkata tidak sanggup. Tetapi tidak dengan Nabi Ibrahim a.s.  

Diantara ujian yang pernah beliau alami,

pertama, ketika bayi telah merasakan hidup di hutan. Raja Namrudz yang pada waktu itu berkuasa mendapat firasat bahwa akan ada anak yang akan berupaya menggulingkan kekuasaannya. Maka dikeluarkanlah perintah pada waktu itu  agar membunuh setiap bayi yang lahir. Mendengar hal itu, kedua orang tua Nabi Ibrahim memutuskan untuk membuang Ibrahim. Selama berada di hutan hal ajaib terjadi,  jari tangan Ibrahim  mengeluarkan madu yang membuatnya tidak merasa kelaparan. Setelah perintah yang dikeluarkan Raja Namrudz itu dicabut, orang tua Ibrahimpun terkejut melihat kondisi Ibrahim yang masih hidup, merekapun memutuskan untuk merawat dan membawa Ibrahim pulang.

Kedua ketika remaja, beliau dimasukkan ke dalam kobaran api karena telah menghancurkan berhala-berhala yang menjadi peribadatan pada waktu itu. Beruntung inayatullah menaunginya.

Ketiga ketika usia beliau menginjak 86 tahun baru dikarunia keturunan dengan lahirnya Ismail. Namun beliau tidak pernah berputus asa dalam berdoa, rabbi habli minasshalihin. Ya Allah Anugerahilah aku anak yang shaleh.

Keempat, ketika keluar dari Palestina dan harus menempuh perjalanan menyusuri padang pasir, beliau mendapat perintah untuk meninggalkan isterinya Siti Hajar dan Ismail di padang pasir yang tandus dengan perbekalan air yang sekedarnya saja.  

Kelima, ketika Ismail menginjak remaja Allah perintahkan kepada Ibrahim untuk menyembelihnya. Inilah ujian yang paling berat diantara ujian yang ada. Dari kisah perjalanan Ibrahim dan keluarganya ini, setidaknya ada empat pelajaran yang dapat kita petik;

Pertama, belajar berbaik sangka kepada Allah SWT.

Husnu zhon atau sangka baik yang dimiliki Ibrahim dan keluarganya tidak lahir begitu saja. Kekuatan iman dan ketaatan mereka kepada Allah membimbingnya untuk selalu berbaik sangka kepada Allah SWT. Ketika istrinya Siti Hajar dan anaknya ditinggalkan begitu saja di padang pasir yang tandus, tidak membuat Siti Hajar marah atau emosi dengan perlakuan Ibrahim terhadapnya. Satu keyakinan yang terhujam dalam  diri Siti Hajar adalah rasa tunduk dan patuh kepada sang khalik lebih besar dari dunia beserta isinya. Inilah bentuk ketaatan, keikhlasan, prasangka baik yang bersinergi dalam diri Siti Hajar.

Tidak hanya itu, sangka baik yang diperlihatkan Ismail juga tidak kalah hebat dari Ibunya Siti Hajar. Perintah menyembelih yang diterima Ibrahim,  lalu kemudian ia sampaikan kepada Ismail, lantas tidak memunculkan pertanyaan dalam diri Ismail, apakah mimpi bapaknya ini benar dari Allah SWT atau dari setan. Sebuah sangka baik yang sangat langka jika kita bandingkan dengan kondisi anak sekarang.

Dialog yang terjadi antara Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail  telah Allah abadikan dalam QS As-Shafat 102, yang artinya “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

Ketika dialog ini ditanyakan kepada anak-anak sekarang. Kalau sekiranya bapak-bapak mereka bermimpi dan mendapat perintah menyembelih mereka, kebanyakan dari mereka menjawab kabur dari rumah dan ada yang memutuskan tidak akan kembali pulang ke rumah. Namun berbeda dengan jawaban Ismail pada waktu itu. Tidak ada sedikitpun keraguan dalam diri Ismail, dengan mantap mengatakan lakukanlah wahai bapakku jika itu merupakan perintah kepadamu. Sungguh luar biasa sangka baik yang dimiliki oleh Ibrahim dan keluarganya ini. Semoga kita juga dapat menumbuhkan sangka baik di dalam kehidupan ini.

Kedua pelajaran yang dapat kita petik, marilah berusaha mencari rezeki yang halal.

Mari kita lihat kesungguhan siti hajar yang berusaha mencari sumber air ditengah tangisan Ismail dan rasa haus yang menerpa. Ia berusaha berlari dan menaiki bukit ke bukit berharap setitik air atau pertolongan siapapun yang lewat pada waktu itu. Kesungguhan ini menjadi pelajaran bagi kita betapa sungguh-sungguhnya siti Hajar mencari setetes air sebagai penyambung hidupnya. Pertanyaannya, sudahkan kita seperti Siti Hajar. Sudahkah kita sungguh-sungguh dalam menggapai rezeki yang telah Allah sebar di permukaan bumi ini. Masihkah  kita mencampurkan rezeki kita dengan hal yang haram, walaupun dalam  jumlah yang sedikit. Masihkah kita bangga dengan rezeki yang haram yang kita peroleh. Tidakkah kita takut dengan sabda rasulullah yang berbunyi  “setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka nerakalah yang pantas baginya

Beberapa riwayat pernah  menyinggung tentang  perkara mencari rezeki yang halal. Ketika Rasulullah berjalan-jalan di sekitar kota Madinah, beliau bertemu dengan sahabat yang bernama saad bin muadz di kebunnya. Rasulullah mendapati tangan Saad bin Muadz melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman. Rasulullah pun bertanya. Kenapa tanganmu?

Saadz bin muadz pun menjawab, “tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku.”

Mendengar hal itu rasulullah kemudian mendekati Saad bin Muadz dan memegang tangannya kemudian menciumnya. Sembari berkata “ inilah tangan yang tidak akan pernah tersentuh api neraka

Demikian besar balasan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki, Rasulullah haramkan tangan mereka dari api neraka. Semoga kita dapat belajar dan berupaya memastikan rezeki halal yang masuk kedalam perut isteri, anak dan keluarga kita.

Kemudian pelajaran selanjutnya berkurbanlah untuk Allah SWT.

Pelajaran ketiga dari kisah Nabi Ibrahim adalah bagaimana kita meyakinkan diri bahwa kurban yang selama ini kita lakukan hanya untuk Allah SWT, bukan untuk yang lainnya. Kadangkala  masih kita lihat diantara saudara kita yang seiman, ikut terlibat dengan praktek perdukunan yang sering menggunakan media kurban hewan, makanan, benda dan lainnya. Jelas praktek demikian tidak dibenarkan di dalam Islam. Tidak ada satu ayat atau hadist yang mendukung praktek seperti itu. Oleh karena itu, mari kita saling mengingatkan agar tidak terjebak dengan segala tipu daya setan yang tidak senang melihat manusia dekat dengan sang penciptanya.  Kemudian yang wajib menjadi catatan bagi kita adalah memberikan kurban kepada selain Allah berarti membuat mereka lebih mulia dari kita, padahal manusia merupakan makhluk paling sempurna Allah ciptakan.

Kemudian pelajaran selanjutnya yang dapat kita peroleh dari kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah kesuksesan Nabi Ibrahim mendidik isteri dan anaknya menjadi pribadi yang taat dan patuh kepada perintah Allah SWT.

Kepatuhan yang tercipta dari Nabi Ibrahim dan keluarganya berasal dari baiknya jalinan komunikasi yang terjalin antara mereka. Oleh karena itu, jika  diamati lebih dekat  kondisi sekarang, ternyata masih banyak ditemukan orang tua dan anak-anak yang belum menjalin komunikasi dengan baik. Alasannya macam-macam. Ada yang menjadikan waktu sebagai sebab, rasa malu dan memang tidak membiasakan.

Jika kondisinya demikian, tidak heran anak-anak sekarang cenderung tertutup dalam segala hal dan tidak peduli dengan kondisi sekitar, termasuk orang tuanya senidri. Kondisi itu akan diperparah jika orang tua sendiri juga melakukan hal yang sama, bersikap tidak peduli dengan anaknya. Maka lahirlah anak-anak yang kehilangan teladan dari orang-orang terdekat mereka, dan berpotensilah mereka menentang  perintah Allah SWT, merusak nama baik keluarga, masyarakat dan bangsa. Semoga jalinan komunikasi Ibrahim dan keluarganya mengingatkan kita begitu pentingnya komunikasi itu untuk mencittakan pribadi yang taat dan patuh kepada perintah Allah SWT.

Marilah dalam mementum Idul Adha sekarang kita waspadai kembali hal-hal yang akan mempengaruhi kehidupan kita dan keluarga dengan belajar kembali kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Wallahu a’lam.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: