Belajar dari Masjid Progresif

Berkenalan dengan kajian Living Qur’an dan Hadis di UIN Sunan Kalijaga membuatku tertarik melihat bagaimana masyarakat Yogyakarta mempraktikkan nilai-nilai al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan mereka. Kedua sumber ajaran Islam tersebut tidak lagi sebatas dalil-dalil agama yang berdiam diri dan tersusun rapi dalam lembaran buku. Ia telah hidup bersama masyarakat yang menjalaninya. Semua praktik keagamaan yang dilakukan dan lingkungan sosial yang terbangun darinya menjadi representasi bahwa keduanya sumber agama bersifat aktif dan fungsional dalam kehidupan.

Masjid merupakan salah satu faktor yang membangun nilai dan struktur hidup dan bersosial masyarakat Islam. Masjid berperan dalam proses pembentukan pola hidup masyarakat. Berkaca pada zaman Rasululullah Saw, kita tahu bahwa masjid tidak sekedar tempat ibadah shalat lima waktu. Lebih dari itu, masjid juga difungsikan sebagai tempat musyawarah, tempat belajar, asrama dan juga tempat merawat orang yang sakit. Masjid memang ada untuk siapapun dan menjadi ‘tempat teduh’ orang-orang di sekelilingnya.

Tersebutlah sebuah masjid, Masjid Jogokariyan yang terletak di Kelurahan Matrijeron, Yogyakarta, yang saya kemukakan sebagai representasi masjid progresif. Masjid ini adalah masjid yang anti-mainstream. Masjid Jogokariyan bukanlah masjid yang ‘tutup pintu’ setelah shalat jama’ah usai sebagaimana banyak kita lihat di berbagai tempat. Di atas semua itu, masjid ini bukanlah masjid yang hidup dengan infak dan sedekah warga sekitarnya. Sebaliknya, takmir masjid berkomitmen untuk menjadikan masjid sebagai sarana untuk melayani dan menghidupi masyarakat.

Kita mulai dari aktifitas paling umum di setiap masjid selain shalat jama’ah dan shalat Jum’at, yaitu pengajian. Pengajian di Masjid Jogokariyan dipola untuk menembus berbagai batas usia. Takmir masjid menjadwal pengajian harian untuk anak-anak TPA usai maghrib hingga isya. Setiap malamnya secara bergilir diadakan pengajian khusus ibu-ibu pada malam Rabu. Malam berikutnya pengajian khusus bagi anak-anak muda, malam berikutnya untuk bapak-bapak. Para pengajar pengajian diambil dari pengurus masjid atau ustadz yang berasal dari masyarakat sekitar. Sedangkan untuk TPA, para pengajarnya direkrut dari anak-anak muda setempat.

Takmir masjid juga memperhatikan milieu jamaahnya untuk datang ke masjid. Mereka bahkan memiliki data dan peta jama’ah. Peta tersebut merekam siapa masyarakat yang paling rajin ikut shalat berjama’ah dan siapa yang tidak. Dari situ, masjid ini tiap tahunnya memberikan hadiah umroh bagi beberapa jamaah. Semua pengurusan tiket hingga paspor sudah ditangani takmir dan tentu program ini sudah ada donaturnya. Memang ada tanggapan miring untuk kegiatan tersebut, bahwa agenda tersebut merubah orientasi jama’ah demi hadiah. Akan tetapi, mereka menilai “lebih baik masuk surga dengan terpaksa daripada masuk neraka sukarela”. Pada kenyataannya, jamaah masjid juga bukan yang berkompetisi untuk hadiah itu. Mereka menjadikannya sebagai bonus dari kedisiplinan dan konsistensi. Dapat syukur Alhamdulillah, tak dapat ya tak apa.

Untuk melayani warganya, masjid Jogokariyan membentuk Baitul Mal  yang berfungsi menyalurkan dana dari masyarakat dan kembali ke masyarakat. Zakat yang diterima setiap harinya disalurkan untuk membantu perekonomian dan usaha kecil warga dengan bentuk pinjaman. Istimewanya, cara kerjanya tidak seperti Bank; jika ternyata usaha warganya bangkrut, pihak takmir tidak menuntutnya untuk dikembalikan.

Inovasi lainnya adalah kontak sedekah khusus beras. Dari kotak sedekah tersebut, warga sekitar yang miskin disantuni secukupnya. Bahkan, sembako pun mereka diberikan. Sangat dimaklumi jika masyarakat menjadi begitu dekat dengan masjid, sehingga ia selalu dan semakin ramai.

Kreatifitas dan progresifitas takmir Masjid Jogokariyan semakin terlihat menjelang bulan Ramadhan. Mereka merancang sejumlah program agar malam-malam Ramadhan di masjid semakin semarak. Hampir setiap tahun mereka menggaungkan program ‘Kampung Ramadhan Jogokariyan’. 

Ciri khas kampung Ramadhan Jogokariyan adalah manajemen pasar sore di sepanjang jalan Jogokariyan. Semua pedagang adalah warga bahkan mahasiswa yang tinggal di sekitar Masjid. Dengan agenda tersebut, warga yang tidak berdagang di siang hari, masih memiliki income di sore hari. 

Untuk Ramadhan 2016 tahun ini program tersebut bahkan telah menginjak usia ke-12. Jadi, dapat diasumsikan semua masyarakat Jogjakarta telah mengetahui pasar Ramadhan ini. Tidak mengherankan jika jalan Jogokariyan begitu ramai di sore hari didatangi calon pembeli dari seluruh penjuru kota. Perputaran uang di sana bahkan mencapai angka 4 milyar rupiah; keuntungannya kembali kepada Masjid, dan tentu saja bagi masyarakat.

Penantian waktu berbuka diisi dengan dengan obrolan sore penuh makna dengan tajuk KOLAG (kajian Obrolan dan Lagu). Beberapa agendanya adalah musik Islami, Es Doger (eh semua suka dongeng Geeerr) bagi para anak-anak dan Kicak (Kajian kocak). Sementara itu, takmir mempersiapkan 1000 porsi takjil untuk pengunjung yang berbuka di masjid. Takjil tersebut dibiayai kas masjid dan menunya dikelola oleh ibu-ibu jamaah masjid Jogokariyan. Pada malam harinya diisi dengan Shalat Tarawih 1 Juz untuk orang umum. Sementara anak-anak dibuatkan jama’ah khusus yang dikelola oleh para pelajar dari tingkat SMP hingga kuliah. Pengelolaan Tarawih ini juga melatih para remajanya sebagai kader dalam manajemen, termasuk dana setiap kegiatan anak-anak dan juga keberaniannya dalam berceramah selama Ramadhan.

Ceramah agama di malam Ramadhan juga dihangatkan dengan suasana angkringan khas Jogja. Obrolan penuh makna tersebut diisi oleh berbagai tokoh dari berbagai kalangan masyarakat. Takmir masjid menghadirkan para ustaz, sejarawan, pebisnis Muslim, walikota hingga artis untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Selain itu, subsidi sahur juga diberikan agar masyarakat tidak saja diceramahi kewajiban puasa, namun juga dibekali sembako. Di situlah fungsi sosial masjid dalam menopang ibadah puasa jama’ahnya. Inilah fungsi data ‘Sensus Masjid’ yang tidak saja mengontrol ibadah jamaahnya, tapi juga profesi dan ekonomi warganya.

Pada 10 hari terakhir, masjid Jogokariyan mengadakan kegiatan i’tikaf dengan berbagai fasilitas dan kegiatan. Takmir masjid menyediakan Program Paket Khusus I’tikaf dengan biaya pendaftaran yang ditentukan. Selain mendapat tempat penginapan di lingkungan masjid, makan sahur dan buka bersama, kegiatan i’tikaf diisi dengan kajian tematik agama setiap harinya dengan berbagai narasumber. Tidak heran jika banyak pengunjung dari berbagai daerah berdatangan untuk menghabiskan Ramadhannya di Jogokariyan hingga di akhiri Syawalan bersama pada Hari Raya Idul Fitri.

Banyak yang bisa dipelajari dari Masjid Jogokariyan sebagai masjid percontohan dewasa ini. Setidaknya studi banding masjid ini membuat masjid-masjid lainnya turut meneladani bagaimana seharusnya masjid menjadi tempat yang melayani jamaah dan menghidupkan perekonomian warganya. Mungkin inilah makna lain dari orang yang terpaut hatinya ke masjid. Dengan demikian masjid memang menjadi solusi setiap lini hidup, baik itu dalam peribadatan, pembelajaran, perekonomian, pengaderan generasi muda dan pengikat hubungan masyarakat.

Saya membayangkan jika fungsi ‘Surau’ dahulu tidak digeser dan beralih dengan keberadaan TPA dan MDA yang cenderung dikotomis di Sumatera Barat dan wilayah lainnya, sangat dimungkinkan progresifitas surau telah kita nikmati saat ini. Surau yang dahulunya berfungsi sebagai tempat pemuda-pemudi belajar agama, tadarus al-Qur’an, belajar bela diri hingga bermalam di sana, kini kehilangan perannya satu demi satu. Lembaga dan instansi dibangun, bukannya untuk menopang eksistensi surau, tapi justru mengikisnya. Saat ini surau terpaksa kehilangan taringnya dan penggiatnya pun tidak memiliki generasi penerus semangatnya.

Masjid-masjid pada umumnya memang mengelola peribadatan dan pembelajaran jamaahnya. Tidak bermaksud untuk menggeneralisir, akan tetapi kenyataannya ada masjid yang sepi jamaah hingga waktu zuhur dan asar pun hanya diisi imam dan muazin saja. Bahkan, tidak jarang kita melihat masjid yang ‘dikunci’ karena rentan dari tindak tak terpuji pengunjungnya. Lebih ironi, semakin banyak masjid yang menjadi semakin mewah, tapi tidak memiliki inisiatif untuk menarik lebih banyak jama’ah; Masjid hanya dihias dari segi fisik, tapi nir fungsi dan substansi.

Inilah fakta yang kita lihat sekarang. Masyarakat semakin enggan ke mesjid, muballigh ‘berceramah’ menyalahkan para jama’ah, sementara donatur hanya tau memperbaiki fisik Masjid. Masjid Jogokariyan memperlihatkan bahwa dengan pengelolaan yang pas, masjid bisa menjadi ‘Masjid’.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: