Benda itu bernama ‘Hati’

Tak ayal lagi, “penampilan” adalah monster terganas yang mampu mengalihkan pandangan jernih setiap manusia. Melalui penampilan, hati yang jernih dapat dinilai kotor. Begitu juga sebaliknya, hati yang kotor dapat dinilai jernih. Ah, lagi-lagi masalah hati. Ya, sebuah eksistensi yang wujudnya hanya dapat dirasakan oleh naluri yang tak kasat mata. Merupakan tempat bergantungnya segala tindak tanduk perilaku manusia.

Suatu ketika, tepatnya di sebuah persimpangan di salah satu sudut kota Jogja, seorang pemuda berkaos oblong dengan celana jeans yang sudah lusuh, tiba-tiba memegang pundak seorang lelaki tua yang mengenakan koko putih lengkap dengan peci hitam di kepalanya. Aku yang saat itu tengah menemani seorang teman membeli sepatu, hanya diam menyaksikan tindakan si pemuda kepada seorang bapak tua yang dalam asumsiku bukanlah orang yang ia kenal.

Bapak tua itu seketika menoleh ke belakang, melihat siapa yang barusan menepuk bahunya. Tiba-tiba ia tersentak, sedikit mundur ke belakang, sembari memegangi motornya. Aku bisa memahami ekspresi tersebut. Yaitu sebuah ekspresi ketakutan dan kewaspadaan.

Tanpa alasan yang jelas, ia segera berlalu meninggalkan pemuda berkaos oblong itu. Belum sepatah kata pun yang keluar dari bibir kedua orang itu. Yang aku saksikan hanya lah sebuah komunikasi bisu yang maknanya sedikit dapat ku mengerti melalui tindakan yang mereka lakukan.

Rasa penasaran ku akhirnya memaksaku untuk menghampiri pemuda polos tadi. Aku hanya ingin memastikan bahwa ia bukanlah orang yang patut dicurigai sebagaimana yang dilakukan si bapak tua. Pemuda itu memakai seutas kalung di lehernya, matanya bercalak, lengkap dengan sebuah gelang di tangannya. Sebuah ransel lusuh yang menggantung di pundaknya memberi sinyal bahwa ia baru datang atau hendak pergi ke tempat yang jauh. Ia masih dengan posisi sebelumnya, berdiri terpaku memandangi kepergian si Bapak tua.

“Maaf, mas. Perkenalkan nama saya Hamdi, mahasiswa UIN.” Sapa ku sembari menjulurkan tangan untuk menyalaminya.

“Oh, nggeh mas. Perkenalkan nama saya Raja.” Jawabnya dengan senyum lebar penuh antusias.

“Sebelumnya saya minta maaf karena ikut campur dengan urusan sampean. Saya cuma mau bertanya, bapak tua tadi siapa ya? Kenapa dia langsung pergi sewaktu sampean sapa?”

“Oo, yang barusan? Hehe, entahlah kang. Saya sebenarnya juga nggak kenal sama bapak itu. Tadi saya cuma mau tanya alamat ke beliau. Kebetulan saya datang dari Cirebon. Barusan sampai di terminal.” Jawabnya penuh antusias, dengan logat khas Sunda.

“Lho, jadi sampean cuma ingin menanyakan alamat?” Aku balik bertanya.

“Iya kang. Cuma itu. Saya nggak punya niat buruk sama sekali. Tapi biarlah, mungkin bapak itu terburu-buru, saya juga nggak enak ngerepotin beliau. Hehe..” Raut wajahnya sama sekali tak menunjukkan perasaan jengkel atau kecewa.

Ya, begitulah peristiwa singkat yang menyentrum perasaan ku. Sebuah peristiwa yang memutarbalikkan persepsiku seratus delapan puluh derajat dari yang sebelumnya. Seorang pemuda berpenampilan preman, masih saja menaruh penghormatan yang tinggi terhadap seseorang yang baru saja menzhaliminya.

Aku bisa melihat secara langsung bagaimana raut kecurigaan menghiasi gerak-gerak bapak tua tadi. Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba niat baik si pemuda berpenampilan preman itu harus dibayar dengan sebuah sikap yang tidak mencerminkan penampilannya yang begitu menyihir pandangan. Penampilannya yang selama ini dianggap sebagai suatu symbol keelokan oleh kebanyakan orang, ternyata tidak tercermin sama sekali dari sikapnya.

Justru sebaliknya, penampilan si pemuda bertampang preman tadi tak lantas membuatnya bersikap buruk terhadap seseorang yang –dalam tanda kutip– telah menzhaliminya. Sungguh sebuah peristiwa yang sangat bermakna!

Peristiwa di atas hanyalah satu dari sekian banyak peristiwa serupa yang terjadi di dunia ini. Lihatlah bagaimana “simbol-simbol” mampu menyihir pandangan manusia terhadap seseorang. Kita sering latah dengan apa yang tampak dari luar, tanpa berusaha untuk memahami apa yang sesungguhnya ada di dalam hati.

Betapa banyak oknum-oknum yang berlindung di balik kemuliaan simbol-simbol yang semu. Simbol-simbol yang melindungi hati-hati yang busuk dari keterbukaan kedoknya di hadapan manusia-manusia yang lain. Namun tidak di hadapan Tuhan. Kembalilah berfikir dengan jernih.

Inilah sebab nya, mengapa Rasulullah mewanti-wanti umatnya untuk mengembalikan asumsi dasar pemikiran kita kepada “praduga tak bersalah” terhadap siapa saja. Bukan hanya terhadap orang-orang yang tampak baik (dari segi penampilan), namun kepada semua. Baik dalam perbedaan suku, etnis, status sosial, bahkan berseberangan akidah. Ya, ini adalah prinsip. Prinsip yang melindungi kita dari kemunafikan. Prinsip yang mengajarkan kita mengenai arti penting kesucian hati.

Baca juga:  Selamat Natal tentang Sejarah Indonesia

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: