Berawal dari Kata

Hidup ini indah, kawan, seindah bidadari. Buat apa mengeluh? Mengeluhpun tidak akan menyelesaikan masalahmu sob. Bangkitlah!Itulah nasehat seorang sahabat ketika semangatku mulai redup dimakan usia. Sederhana memang, namun efeknya tidak sesederhana kata-katanya. Itulah hebatnya kata-kata. Imam Bukhari yang kita kenal sekarang juga termotivasi dengan sebuah kalimat sederhana. Saat itu beliau sedang menghadiri manjelis gurunya yang bernama Imam Ishaq bin Rahuyah (Rahawaih).

“Aku ingin kelak diantara kalian ada orang yang mengumpulkan hadis-hadis shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam satu kitab,” ujar salah seorang santri dalam majelis tersebut.
Kata-kata tersebut begitu membekas dalam hati Imam Bukhari muda. Dari sinilah muncul tekad beliau untuk mengumpulkan hadis-hadis shahih yang beliau seleksi dari 600.000 hadis. 16 tahun beliau berusaha siang dan malam hingga muncullah karya monumentalnya yaitu Shahih Bukhari.1Kata-katanya sederhana dan tidak sulit untuk diungkapkan namun dampaknya luar biasa.Tidak hanya kata-kata positif, kata-kata negatifpun terkadang mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik. Kata-kata tersebut bisa menjadi motorik untuk melangkah lebih maju dan membuktikan kekeliruan orang yang mengucapkan kata-kata tersebut.

Siapa yang tidak mengenal Imam Khalid Al-Azhari.Pensyarah kitab Audhahul Masalik karangan Imam Ibnu Hisyam yang merupakan syarah dari bait alfiyah Ibnu Malik, nazham 1000 bait nahu. Imam di bidang Bahasa Arab dan Nahu yang hidup sezaman dengan Imam Suyuthi pada abad ke-9 H. Dahulu, beliau bekerja sebagai waqqad(orang yang menyalakan lampu) diMesjid Al-Azhar Mesir. Seperti biasa tatkala senja menyapabeliau mulai menyalakan lampu. Tak dinyana, sumbu lampu yang hendak beliau nyalakan jatuh ke buku seorang santri.Lantas si santri memaki dan mencela beliau sebagai orang bodoh yang tidak menghargai ilmu. Yang menarik, beliau tidak merespon kata-kata tersebut dengan celaan dan hinaan yang sama. Bahkan beliau tidak menaruh dendam dan amarah. Sebaliknya, celaan tersebut beliau jadikan sebagai pemantik semangat untuk melangkah maju menuntut ilmu nahu hingga beliau mampu menyalakan lampu-lampu ilmu kepada generasi setelahnya.2

Maka, jangan pernah meremehkan kata-kata. Kata sederhana menurut kita kadang tidak sesederhana bagi orang yang mendengarnya. Kata-kata tersebut kadang mampu mengubah hidup seseorang 180 derajat keatas atau kebawah, 180 derajat lebih baik atau sebaliknya. Itulah energi yang ditimbulkan sebuah kata. Meskipun kata-kata negatif bisa memberikan energi positif, namun energi negatifnyajuga mampu menenggelamkan hidup orang yang mendengarnya. Mereka tidak mampu lagi bangkit membuktikan dirinya sebagai aktor penting sejarah dan peradaban dunia. Kata-kata itu laksana bius dan bisa yang mematikan kreatifitas dan semangat orang yang mendengarnya.

Dampak yang ditimbulkan oleh sebuah kata memang masih misteri dan penuh tanda tanya. Tapi bukankah kita selalu dianjurkan untuk selalu berkata baik? Kalau tidak mampu maka diam bisa menjadi alternatif daripada menimbulkan bencana. Dengan sebuah kata kun-lah Allah ciptakan dunia dan segala isinya. Dengan kalimat syahadatlah amalan kita dianggap dan diterima. dengan kata ijab qabul-lah Allah satukan dua makhluk yang saling mencinta. Dan karena kata talaklah menjadi pemisah diantara mereka berdua.

Inilah refleksi dari sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata-kata baik atau (kalau tidak bisa) diamlah.”3

Wallahu a`lam

Referensi:
1. Imam Az-Zahabi, Siyar A`lamin Nubala,jilid12, (Beirut: Muassasah Arrisalah, 2001), cet.12, hal.401-402, 405.
2. Muhammad Thanthawi, Nasyatun Nahwi Wa Taarikhu Asyharin Nuhaah, (Kairo: Darul Ma`arif, 2011), cet.4, hal.290.
3. Ibnu Hajar Al`asqalani, Fathul Bari Bisyarhi Shahih Albukhari, jilid 13, (Riyadh: Darut thibah, 2011), cet.4, hal.565.

Muhammad Awaluddin

Muhammad Awaluddin adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2010. Saat ini adalah mahasiswa S2 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Komentar

  1. Tulisan ini, sangat menggambarkan kepribadian penulisnya. Terbukti dengan tulisannya yang mengalir dan mudah dicerna, mengingatkan kembali akan sosoknya yang gemar mengoleksi buku bacaan sewaktu di Parabek. Salam untuk kakak kelas ku yang super inspiratif di sana. 🙂

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: