Berita Kepulangan Syekh Ibrahim Musa dalam Majalah Gema Islam

Majalah Gema Islam (Majalah Pengetahuan dan Kebudayaan Islam : Mengisi dan Melaksanakan Pola Pembangunan Semesta Berencana) No 38/39 1 September 1963/11 Rabiul Akhir 1383 TH II

versi ejaan lama bisa dilihat di sini!

 

Telah berpulang ke rahmat Allah

Syekh Ibrahim bin Musa Parabek (1301 – 1383 H)

 

Telah berpulang ke rahmat Allah guru kita yang kita cintai Syekh Ibrahim bin Musa Parabek meninggal pada hari Kamis pukul 9 malam, pada tanggal 3 Rabiul Awwal 1383 H bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1963.

Nama beliau terlukis dalam hati setiap pejuang Modernisasi Islam di Minangkabau, melanjutkan usaha ulama-ulama terdahulu, sejak zaman Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku “Harimau nan Salapan”.

Beliau dilahirkan pada 13 Syawal 1301 H bertepatan dengan tahun 1884. Usia beliau menurut tahun qamariyah adalah 82 tahun, sedangkan menurut tahun syamsiyah adalah 80 tahun.

Jika pada permulaan abad ke-19, ulama-ulama Minangkabau berjuang melawan penjajahan dengan cara berperang melawan kekuasaan penjajah Belanda, maka Ulama-ulama Minangkabau yang muncul pada awal abad ke-20 berjuang menegakkan paham Islam dan membangkitkan semangat yang sesuai dengan panggilan zamannya. Beliau –almarhum  termasuk ke dalam “Harimau nan Salapan” abad ke-20 di daerah itu.

Harimau nan Salapan awal abad ke-20 itu adalah:

  1. Dr. H. Abdulkarim Amrullah
  2. Dr. H. Abdullah Ahmad
  3. Syekh Muhammad Jamil Jambek
  4. Syekh Muhammad Thaib Tanjung Sungajang
  5. Syekhh Ibrahim bin Musa Parabek
  6. Syekh Daud Rasyidi Balingka
  7. Syekh Abbas Abdullah Padang Jepang
  8. Syekh Mustafa Abdullah Padang Jepang

 

Sebagaimana kawan-kawannya yang 7 orang itu, Syekh Ibrahim bin Musa memulai pada tahun 1910, sekembali beliau dari Mekah, dan mendirikan Madrasah pengajian di Parabek, kampong halamannya. Setelah murid-muridnya mendirikan “Sumatera Thawalib” padatahun 1918, yang berada di Padang Panjang, maka pada tahun 1918 beliau menjadikan madrasah beliau menjadi Sumatra Thawalib. Kemudian semua pengajian yang sepaham diberi nama Sumatera Thawalib dan bergabung menjadi satu dengan pusatnya di Padang Panjang.

Parabek – sebagaimana Padang Pandjang – pernah ramai dengan murid-muridnya yang dating berlajar dari seluruh pelosok pulau Sumatera. Penulis sendiri pernah belajar di Parabek dari tahun 1922 sampai 1923.

Pribadi beliau tawadhu, tunduk hidup dalam latihan shufi menurut ajaran Imam Ghazali. Wajahnya menyinarkan kasih sayang. Meskipun beliau bukanah lipidato, tetapi pribadi beliau yang membayangkan khusyu itu sangat mempesona murid-muridnya. Saat beliau marah, kemarahan itu hanya terbayang pada muka saja, tidak keluar dari perkataannya.

Murid-murid beliau diantaranya Al-Ustad Djama’in Abdul murad Bukittinggi, A. Ghaffar Isma’il Muballigh Islam yang terkenal, Tuanku St. Zainal Abidin Lubuk Alung, dan almarhum Amran Jamil Padang Panjang (Meninggal di Lampung pada tahun 1942).

Sebagaimana juga ketujuh teman, beliau adalah murid yang utama dari Tuanku Syekh Ahamd Khatib di Mekkah.

Berita wafatnya beliau yang kita terima sehari setelah beliau wafat melalui telegram  menancapkan kesedihan yang mendalam di hati sanubari kita Alam Minangkabau yang pernah kaya dengan ulama setali adat dengan syara’ yang membuka perjuangan gemilang dalam sejarah perkembangan Islam di seluruh tanah air sampai ke Semenanjung Tanah Melayu, dipelopori oleh ulama-ulama besar dari Minang.

Selain delapan ulama besar yang kita sebutkan di atas tadi, terdapat juga ulama-ulama jang lain. Seumpama Syekh Khathib Ali Padang, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Abdul Wahid Tebat Gadang, dan Syekh Muhammad Zain Simabur. Beliau-beliau ini pun telah mendahului kita. Tinggal hanya satu, yang usia beliau telah lebih dari 80 tahun dan lebih tua dari Syekh Ibrahim bin Musa, yaitu Tuan Syekh Sulaiman Rasuli Tanjung. Karena beliau telah sakit-sakitan dan tenaga pun tidak ada lagi, rasanya masa beliau buat dipanggil Tuhan pun telah dekat.

Padahal  Syekh Ibrahim bin Musa danSyekh Sulaiman Rasuli inilah sisa terakhir dari pada ulama-ulama yang telah tua tsb.

Setelah itu, timbul generasi kedua, yaitu Syekh Abdul Hamid Hakim Tuanku Mudo Sumpur, dan Syekh Zainuddin Payakumbuh.

Putera mereka yang diharapkan, tidak banyak yang menjadi ulama. Ada yang luas ilmu pengetahuannya, sesuai dengan ulama zaman modern, yaitu Muhammad Zain Jambek, telah meninggal pada 27 Mei 1963 yang lalu. Ada pula yang lain yang diharapkan menggantikan ayahnya, seumpama penulis sendiri, Alhamdulillah telah mendapat gelar Doktor sebagaimana gelar ayahnya dalam hal Agama Islam –hanya  title saja yang turun, namun kebesaran pribadi ayah belum turun.

Syukurlah, dengan kehendak Allah Yang Maha Mengetahui, di minggu-minggu wafatnya Syekh Ibrahim bin Musa ini, seorang ulama muda dan putra dari ulama besar di antara yang delapan itu, yaitu saudara Mansur Daud Dt. Palimo Kayo telah kembali pulang ke Minangkabau setelah kira-kira tujuh tahun beliau tinggalkan. H. Mansur Daud bertekad kembali pulang buat menyambung tugas dua Syekh kita itu. Memupuk dan membangkitkan kembali semangat Islam yang nyaris padam. Saudara Mansur Daus Dt. Palimo Kayo sendiri adalah putera dari Syekh Daud Rasyidi.

Kepergian Shahibul Fadhilah, Hadratus Syekh Ibrahim bin Musa disaat Minangkabau hendak memulihkan gerak agamanya kembali, sangatlah meninggalkan kesan kesedihan yang mendalam di hati kita. Tetapi kita percaya bahwa ada hikmah tertinggi dari Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Pengalaman pahit yangberkali-kali diderita oleh daerah itu moga-moga akan membuat lebih matangnya tekad buat mempelopori kebangkitan agama sebagaimana yang telah dipusakai turun temurun. Semoga semangat Iman jang telah ditanamkan oleh nenek moyang tidak akan hilang dalam menghadapi gelora zaman. Dan semoga pula ulama-ulama angkatan muda akan bekerja keras meneruskan tugas yang beliau tinggalkan.

Ulama-ulama muda itu, selain H. Mansur adalah H. Harun Ma’any Padang Panjang, Zulkarnaini Payakumbuh, Abdurrahim Munafi Pariaman, H. Darwas Padang, dan Mawardi Muhammad Padang Pandjang. Dengan wafatnya yang tua-tua itu semoga yang muda akan sadar bahwa kewajiban sekarang telah tidak dapat dielakanlagi.

Maka atas wafatnya Almarhum guru kita, Baqijatus Salaf Syekh Ibrahim bin Musa, kepada anak-anak, cucu,  dan keluarga beliau seluruhnya kita menyampaikan ta’ziyah yang mendalam. Diantara puteranya ialah Taher Ibrahim Jakarta, Drs. Anis Ibrahim Jakarta, dan Prof. Bustami Abdul Gani Dekan Fakultas Al Adab IAIN Ciputat Jakarta, menantu beliau.

 

(Dalam artikel ini tidak ditemukan nama penulis tapi kemungkinan besar ditulis oleh Prof. Dr. Hamka, merujuk kepada informasi dalam artikel bahwa penulis pernah belajar di Parabek untuk waktu yang singkat yaitu tahun 1922-1923, dimana hal tersebut juga dapat kita jumpai di buku autobiografi beliau berjudul Ajahku. Kemudian penulis menyebutkan bahwa beliau baru saja mendapatkan gelar doktor seperti ayah beliau yang menerima gelar doktor yaitu Dr Abdul Karim Amrullah. Diantara ulama generasi awal abad dua puluh hanya Syekh Abdul Karim Amrullah (HAMKA) dan Dr. Abdullah Ahmad yang menyandang gelar Doktor (Honoris Causa) dari Universitas Al Azhar. Disampingitu, Prof Hamka juga tercatat pernah menjadi penulis dan editor di Majalah Gema Islam ini. Wallahu ‘alam)

 

*Artikel ini disalin dari koleksi microfilm perpustakaan ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies) Singapore

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: