Berkenalan dengan Kitab Shahih Bukhari

Tentunya sudah sangat familiar oleh orang bahwa kitab yang memuat hadits shahih yang disusun oleh Imam al-Bukhari adalah Shahih al-Bukhari. Meskipun begitu, Imam Bukhari sendiri tidak pernah menyebut kitab beliau dengan Shahih al-Bukhari. Nama asli dari kitab ini adalah al-Jami’ al-Shahih al-Musnad min Haditsi Rasulillahi Shallallahu ‘alaihi wasallam wa Sunanihi wa Ayyamihi.

Informasi judul asli tersebut diungkapkan oleh Imam Ibnu Hajar dalam kata pengantar dari kitab Fath al-Bari syarah dari kitab shahih al-Bukhari dan juga Imam Ibnu Shalah dalam kitabnya Ulum al-Hadits mengungkapkan bahwa nama kitab ini adalah al-jami’ al-musnad al-shahih al-mukhtashar min umuri rasulillahi Shallallahu ‘alaihi wasallam wa sunanihi wa ayyamihi.

Imam Ibnu Hajar menyatakan Imam al Bukhari sangat terdorong untuk menyusun kitab yang memuat hadits shahih dengan beberapa alasan. Pertama, Imam Bukhari banyak menemukan kitab yang menggabungkan hadits shahih, hasan, bahkan banyak juga yang memuat hadits-hadits dha’if (lemah). Kedua, semangat dari guru beliau, Imam Ishak bin Rahawaih, “Alangkah baiknya jika kalian menghimpun dalam satu kitab khusus sunnah (hadits) rasul yang shahih”.

Perkataan dari gurunya sangat dicamkan beliau dalam hatinya. Ketiga, Imam Bukhari mengungkapkan “Saya (bermimpi) melihat Nabi Muhammad. Ketika itu seolah-olah saya berada di antara dua tangan Nabi, sedangkan di tangan saya ada sebuah kipas. Lalu, saya menjauhkan kipas tersebut dari Nabi.” Imam Bukhari menanyakan mimpinya kepada ahli ta’bir mimpi. Ahli ta’bir tersebut mengatakan kepada Imam Bukhari “Engkau telah menjauhkan kebohongan (ta’bir dari kipas) dari Nabi Muhammad.” Hal tersebut membawa Imam Bukhari untuk mengkodifikasi al-jami’ al-shahih.

Semangat Imam Bukhari dalam menulis kitab shahih tidak perlu diragukan lagi. Imam Farbari menukil dari Imam Bukhari “Saya tidak akan menulis di kitab shahih saya kecuali saya mandi sebelumnya dan shalat dua rakaat.” Umar bin Muhammad al-Bahiri menukil juga dari beliau “Saya tidak akan memasukkan satu haditspun dalam kitab al-Jami’ al-Shahih kecuali setelah saya shalat istikharah, shalat dua rakaat, dan setelah saya sangat yakin dengan kesahihan hadits tersebut.”

Abdurrahman juga menukil dari Imam Bukhari bahwa beliau pernah menyatakan “Kitab Shahih saya ini saya susun sekitar 10 tahun. Saya pilih dari 600 ribu hadits dan saya jadikan kitab ini sebagai hujjah antara Saya dengan Allah.”

Tema yang diangkat Imam Bukhari dalam kitabnya ini adalah hadits-hadits shahih yang datang dari Rasulullah. Hal inilah yang menjadi fokus Imam Bukhari untuk menyusun hadits-hadits shahih dalam kitabnya al-jami al-shahih. Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa fokus Imam Bukhari dalam kitab ini adalah hadits-hadits shahih.

Pertama, Imam Bukhari menamai kitabnya dengan al-Jami’ al-shahih al-Musnad min Haditsi Rasulillahi Shallallahu ‘alaihi wasallam wa sunanihi wa ayyamihi. Kedua, keterangan yang sangat banyak dari murid-muridnya bahwa beliau tidak memasukkan hadits ke dalam kitabnya al-jami al-shahih kecuali hanya hadits shahih saja. Hal lain yang menunjukkan bahwa fokus Imam Bukhari adalah hadits shahih sekiranya juga sudah penulis paparkan dalam faktor yang membuat Imam Bukhari menulis kitab al-jami’ al-shahih.

Kandungan dari shahih bukhari sebagaimana yang sudah dijabarkan memuat hadits-hadits shahih dan di dalam penjabarannya juga memuat catatan-catatan (ta’liq), penetapan hukum, keterangan dari ulama-ulama salaf, dan lain-lain yang tidak termasuk konten bab tersebut. Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa Imam Bukhari menggabungkan antara riwayah dengan dirayah dan antara menghafal hadits rasul dengan memahaminya.

Para Ulama sangat memuji kegigihan dan ketelitian Imam Bukhari dalam menyusun kitab ini. Imam Ibnu Subki menyatakan dalam kitab Thabaqatu al-Syafi’iyyah al-Kubra, “Kitab al-Jami’ al-Shahih adalah kitab yang paling mulia di antara kitab-kitab islam setelah Kitab Allah (Al-Quran).” Imam Nawawi dalam kata pengantar kitabnya (syarah shahih muslim) menyatakan, “… Kitab shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih di antara dua kitab shahih (shahih Bukhari dan shahih Muslim). Kitab ini banyak memberikan faedah, pengetahuan baik yang tersurat atau yang tersirat. Bahkan, Imam Muslim termasuk salah satu orang yang banyak mendapatkan ilmu dari Imam Bukhari. Oleh karena itu tidak ada satupun yang meragukan kapabilitas Imam Bukhari dalam Ilmu Hadits.” Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: