Bermazhab Masih Mungkinkah?

Mengapa mengikutinya? Dunia kita lebih terang dari dunianya. Mengapa mengikutinya? Bukankah perubahan meniscayakan perbedaan. Mengapa mengikutinya? Toh ia  juga sinaran sosial zamannya. Dan mengapa mengikutinya? Ia juga menerawang-menerka psikologi Tuhan.

Suatu ketika, dalam sebuah diskusi lepas, dialog sekitar persoalan Sunni dan Syiah mengambil tempat. Pertentangan-pertentangan biner antar pendukung kedua kubu berlangsung cukup panas. Meski demikian, secara pribadi saya tidak ingin ikut bermain; saya lebih memilih mengambil jarak atas setiap konsep yang mereka utarakan. Sedikit naïf, tergesit di dalam hati. Di belahan dunia barat sana, para sarjana tengah berkompetesi menyaingi pemikiran-pemikiran post modernis, sementara umat Islam masih terjebak dalam pelbagai persoalan klasik, tidak penting, yang tak kunjung menuai titik temu sejak ratusan tahun lalu. Sungguh sebuah pertentangan ideologi berdarah, yang memantik sederet konflik yang tidak berprikemanusiaan yang berkepanjangan.

Tepat kiranya yang disampaikan Buya Syafi’i Ma’arif, ‘kotak Sunni, kotak Syi’i; tinggalkan kotak!’. Jelas ia menyeru kita untuk tidak terkerangkeng dalam ideologi buta, sembari melupakan sisi urgent yang semestinya menjadi prioritas pertama dan utama yaitu sinaran zaman kita.

Manusia dan realitas selalu berubah dan berkembang dalam skala yang tidak terbatas. Sementara itu, teks yang menjadi wadah tempat manusia berinteraksi terbatas. Oleh karena itu, dekontruski sekaligus rekonstruksi atas teks perlu diupayakan agar Islam applicable untuk setiap zaman (shalih li kulli zaman). Thomas Khun menengarai, seseorang akan menjumpai berbagai fenomena yang tidak bisa diterangkan dengan teori sebelumnya. Pada saat inilah terjadi suatu anomali, yang apabila menumpuk baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya akan muncul krisis. Dalam situasi krisis ini, paradigma status quo diperiksa dan dipertanyakan, dan keadaan ilmiah keluar dari ilmu normal. Dengan demikian, krisis menjadi situasi yang bisa menyebabkan revolusi ilmiah.

Dalam upaya mengatasi krisis itu, menurut Khun, kita bisa kembali pada cara-cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara itu, atau dapat juga mengembangkan suatu paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah. Terobosan yang terakhir lah yang disebut dengan revolusi ilmiah, yaitu peralihan ilmiah dari paradigma lama ke paradigma baru. Hal ini senada dengan Muhammad Syahrur yang menyatakan bahwa dalam sejarahnya, masing-masing generasi menafsirkan al-Qur’an berdasarkan pada realitas tertentu, pada masa mereka hidup. Oleh karena itu, menurut Syahrur, kita yang hidup pada zaman abad modern juga berhak menafsirkan al-Quran berdasarkan semangat zaman yang mencitrakan kondisi masa sekarang. Lebih jauh, menurutnya generasi Muslim modern ini lebih berhak menafsirkan Al-Quran daripada generasi sebelumnya. Hal ini lantaran peradaban masyarakat modern lebih maju dan tentunya memiliki perangkat analisis yang lebih lengkap dan lebih baik untuk memahami makna wahyu dari pada pendahulunya.

Seorang filosof Jerman, Gadamer menggaungkan wirkungsgeschchtliches bewusstsein; pemahaman seorang penafsir terhadap teks dipengaruhi oleh situasi hermeneutis tertentu yang melingkupinya, baik itu berupa tradisi, kultur maupun pengalaman hidup. Oleh karena itu, meskipun nash bersifat Ilahi, interpretasi terhadap nash senantiasa tunduk pada pandangan dunia seorang mufassir (atau fatwa-fatwa mujtahid). Senada dengan Gadamer, seorang filosof Musim asal Mesir, Hasan Hanafi, mengatakan bahwa kondisi sosial seorang mufassir pada akhirnya menentukan corak penafsiran, karena perbedaan antara berbagai penafsiran merepresentasikan perbedaan kondisi sosial antar mufassir. Hal itu karena setiap mufassir mengidentifikasikan diri dengan kelas sosial tertentu dan setiap penafsiran mengungkapkan loyalitasnya pada kelasnya. Oleh karena itu apa yang kita butuhkan adalah tafsir zamani bagi generasi kita, yang memberi kemanfaatan kepada kita dan diarahkan untuk memecahkan problem kita.

Berangkat dari pernyataan di atas, kita dapat mengajukan beberapa catatan. Pertama, fatwa-fatwa mazhab seluruhnya bersifat relatif dengan artian ‘rentan’. Banyak fenomena yang tidak bisa diterangkan dengan fatwa-fatwa sebelumnya disebabakan konteks-konteks yang berkembang dan berubah, semisal the raise of education. Jika tidak direspon dengan segera, anomali-anomali akan muncul, dan jika makin menumpuk baik secara kuantitas maupun kualitas akan terjadi krisis. Inilah sepertinya yang menyebabkan Nasr Hamid menekankan sisi signifikansi dalam setiap penafsiran. Kedua, kognisi (pemahaman rasio) seorang mujtahid sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-historis yang melingkupinya. Dengan kata lain, corak hukum yang difatwakan mencirikan kebutuhan realitas objektif masanya. Oleh karena itu, sebagai catatan ketiga, dewasa ini kita juga berhak menafsirkan al-Quran berdasarkan semangat zaman yang mencitrakan kondisi masa sekarang. Dengan pelbagai kemajuan keilmuan yang telah mapan, dan perkembangan kondisi sosial, tentunya fatwa yang dikeluarkan lebih sophiscated dan melek realitas.

Saya melihat, adanya kesalahan-kesalahan fundamental tentang image atau konsep ilmu yang telah dielaborasi oleh kaum (modern) ortodoks; sebuah konsep ilmu yang dengan membabi-buta mempertahankan dogma-dogma yang diwarisi dari mazhab-mazhab klasik. Mereka tidak berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah. Mereka justru membakukan sejarah. Terlebih-lebih fatwa-fatwa mazhab/fikih sering diyakini sebagai perintah-perintah Tuhan dan oleh karena itu tidak boleh dilanggar/diperbaharui. Jika sebaliknya maka cap kafir dengan sangat mudah menjurus.

Bukankah celaka, jika sekat-sekat antara Tuhan dan manusia telah dikaburkan. Oleh karena itu sudah selayaknya kita menggeser fikih dari bidang pengetahuan Ilahiah menuju bidang kognisi manusia terhadap pengetahuan Ilahiah (yang rentan sekaligus signifikan dalam keterpengaruhan sosial) yang berada di luar lingkaran Ilahiah. Think again!

Rahmat Fauzi

Rahmat Fauzi adalah alumnus Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Saat ini adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Komentar

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: