Besar karena Konflik

Dalam sebuh diskusi dengan seorang guru beberapa waktu yang lalu saya mengambil kesimpulan penting. Kesimpulannya tersebut adalah; orang jadi besar karena konflik, sebuah lembaga, masyarakat besar karena konflik. Minangkabau dahulu terkenal karena tokoh-tokohnya, dan semua besar karena konflik. Tan Malaka, pejuang revolusioner bahkan hingga akhir hayatnya tak pernah lepas dari konflik. Hatta  juga begitu,

dibuang diasingkan diteror, semua adalah konflik. Hamka yang disebut oleh orang sebagai salah satu ulama tersohor sekaligus budayawan juga besar dari konflik. Cerita tentang Hamka kecil yang usil dan nakal hingga membuat ayahnya putus asa mendidiknya pasti sudah melekat dalam ingatan kita.

Tidak berbilang konflik di tanah Minangkabau. Mulai dari konflik asal mula peletakan dasar sumpah sati marpalam, konflik paderi, konflik kaum agama dan kaum komunis/sosialis, hingga konflik PRRI. Semua konflik dikemas begitu rupa. Belum lagi konflik di tengah masyarakat, konflik kaum agama dan kaum adat. Konflik mamak dan kemenakan. Mengapa dinamakan kamanakan? Menurut guru saya tadi, karena dia yang akan menekan (ka manakan) mamaknya. Soal tanah waris, pusako tinggi dan sebagainya. Jika anda pernah membaca Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk karya Hamka, anda akan ingat bagaimana konflik antara mamak dan kamanakan diakhiri dengan tumpahnya darah mamak dan memaksa si kamanakan, bergelar Pandeka Sutan (ayahnya Zainudin-tokoh utama cerita)terusir dari kampung halamannya.

Lebih jauh, Rasulullah sendiri dibesarkan oleh  konflik. Konflik pertama tentu saja kematian ayah beliau ketika masih di dalam kandungan. Seorang anak yang lahir tanpa sempat melihat wajah ayahnya adalah seberat-berat konflik dalam masyarakat Arab ketika itu. Bagaimana tidak, di dalam masyarakat Arab yang wanitanya tidak mewarisi apa-apa dari suami, maka kehidupan sudah jelas sangat susah. Tidak cukup sampai di sana, muncul konflik lainnya. Ibu beliau pun menyusul ayahandanya di saat usia beliau belum genap enam tahun. Seorang anak, yatim piatu di usia yang sangat belia. Cobaan apa lagi yang lebih berat. Konflik demi konflik akhirnya selalu setia mengiringi perjalanan beliau. Konflik dengan kaumnya sendiri dalam menyampaikan dakwah, konflik dengan pamannya sendiri yang justru berada di garda terdepan yang menolak dakwah beliau. Bahkan hingga wafat beliau pun masih menyisakan konflik. Konflik tentang siapa yang berhak menjadi pengganti beliau. Konflik Fathimah putri Rasulullah dengan Abu Bakar tentang warta waris nabi. Tak perlu diceritakan pun, setiap umat Islam tahu bahwa ada konflik yang terjadi.

Dari begitu banyak konflik yang terjadi, pada akhirnya siapa pun yang mampu mengelola konflik dan menjadikan konflik sebagai energi pendorong lah yang akan berhasil. Ibarat lomba lari,  seorang sprinter bisa melakukan start secepat kilat karena sebuah tumpuan kaki belakang yang menghasilkan energi pendorong. Lihat sejarah, Rasulullah dengan segala tempaan konflik akhirnya berhasil menyebarkan Islam ke seluruh Jazirah Arab. Prestasi yang tidak pernah mampu dilakukan oleh orang Arab manapun sebelum beliau. Siapa yang menyangka, seorang yatim piatu di usia belia bisa menjadi pemimpin umat terbesar di dunia. Yang diagungkan hingga hari kiamat oleh manusia-manusia yang bahkan tidak pernah melihat wajahnya.

Begitu juga dengan masyarakat Minangkabau. Dahulu adalah masyarakat yang disegani karena kebesaran tokoh-tokohnya, karena peradabannya, adat dan budayanya. Semua itu dihasilkan tidak dengan “ongkang-ongkang kaki” seperti “rang kayo basawah laweh”. Ia adalah hasil kemampuan tokoh-tokoh Minangkabau ketika itu mengelola konflik dan memanfaatkannya menjadi energi pendorong kemajuan.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang-orang yang ingin maju dan berkembang tidak takut pada konflik, tidak alergi dengan konflik. Konflik lah yang akan menempa seorang pemimpin, apakah ia berhasil membawa yang dipimpinnya keluar dari konflik dan memanfaatkannya menjadi lompatan kemajuan. Kuncinya, selalu berpikir positif untuk semua konflik. Ada hikmah di balik semua konflik. Rasulullah selalu berpikir positif ketika masyarakat Thaif melempari beliau dengan kotoran, tanah dan sebagainya. Agaknya masih ingat dengan doa beliau; Allahummahdi Qaumi  Fainnahum La Ya’lamuun (Ya Allah tunjukilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui). Buya Hamka ketika dipenjara oleh Sukarno juga tidak menyalahkan Sukarno. Beliau justru bersyukur, karena di dalam penjara, beliau bisa menyelesaikan Tafsir al-Azhar yang lama tertunda.

Thomas Alfa Edison, ketika masih saja gagal menciptakan bola lampu pada percobaannya yang ke 900 pernah berucap. “Aku bukannya gagal menciptakan bola lampu. Aku hanya menemukan 900 cara lain untuk membuat bola lampu ini tidak menyala”.

Semoga kita selalu berpikir positif untuk semua konflik.[]

Minas, kosong empat kosong dua dua kosong satu enam.

Komentar

  1. ‘siapapun yang mampu mengelola konflik, dan menjadikan konflik sebagai energi pendoronglah yang akan berhasil’….
    *manajemen konflik ala Shun Tzhu, memanfaatkan kekuatan lawan untuk menaklukkan lawan. ‘Lawan’, adalah kemarahan, ketakutan, keraguan, kegalauan, kemalasan, ketidak disiplinan. Lawan sangat dekat dan ada dalam sesosok pribadi.
    Inspiratif……daram terus writer… Tere Liye..ternyata belum apa-apa…. hhhhhhhh

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: