Biografi Inyiak Khatib Muzakkir

Inyiak Khatib Muzakkir, atau yang lebih dikenal dengan panggilan ‘Inyiak Katik’ merupakan salah satu ulama Sumatera Barat yang kini namanya hanya bisa dikenang. Beliau lahir pada tanggal 5 Juni 1942 (masa penjajahan Jepang) dengan nama asli Muzakkir. Beliau meninggal pada tanggal 22 Septemper 2015 pada usia 74 tahun. Merupakan anak ke-3 dari pasangan Bapak Amir St. Sati dan Ibu Ruqayyah dan memiliki 3 saudara lainnya yaitu; Sa’adah, Bustimar, dan Zahnir.

Dilahirkan dalam keluarga yang memiliki pemahaman agama yang tinggi, membuat Inyiak Khatib Muzakkir memiliki pribadi yang baik, pekerja keras, dan kreatif. Inilah yang selalu masyarakat dan santri katakan jika ditanya tentang beliau. Inyiak Khatib Muzakkir adalah orang yang tidak mengenal lelah, hal ini dibuktikan dengan kegigihan beliau dalam mengajar para santrinya. Pada usia senja pun, beliau masih mau menerima murid yang talaqi kendati beliau dalam kondisi yang tidak fit dan sudah beberapa kali keluar-masuk rumah sakit.

Nama kecilnya Muis, bukan Muzakkir seperti yang dikenal sekarang. Waktu kira-kira umur dua tahun beliau sering sakit. Dari itu, Inyiak Datuak mengganti nama beliau menjadi Muzakkir. Pada tahun 1964 beliau diangkat menjadi khatib pada usia muda yakni 22 tahun yang otomatis merubah panggilan beliau menjadi Khatib Muzakkir. Setelah beliau menunaikan ibadah ke tanah suci pada tahun 1996, masyarakat menambahkan gelar Haji kepada beliau. Lama dipercaya oleh masyarakat sebagai Khatib, beliau kemudian diangkat menjadi imam masjid, sehingga gelar ‘Imam’ pun diberikan kepada beliau. Kendati demikian, sampai hari ini beliau lebih dikenal dengan nama ‘Inyiak Katik Muzakkir’. Gelar ‘Inyiak’ beliau dapatkan karena beliau dianggap sebagai orang yang sepuh dalam hal agama. Gelar ‘Inyiak’ itu sendiri sama halnya dengan gelar ‘kiyai’ di Jawa atau pun ‘Syaikh’ di Arab.

Pada Juli 1970 atau 1 Muharram, beliau menikah dengan Masnida. Pernikahan inyiak dengan Masnida dijodohkan oleh kedua orang tua. Orang tua Inyiak dan Ibu masnida sepergaulan dan memiliki jarak rumah yang dekat (hanya dibatasi parit) dan berhadapan yang membuat komunikasi kedua orang tuanya lancar. Inyiak terpaut jarak tiga tahun lebih tua dari istri dengan suku Simabua dan istri bersuku Sikumbang. Seumur hidup, Inyiak hanya memiliki seorang istri. Dari pernikahan beliau dengan Masnida, Inyiak dikaruniai enam orang anak, yaitu; Alm. Fuadi (anak pertama Inyiak, meninggal setelah dilahirakan namun sempat diberi nama), Muhammad Asyraf, Nely Rahmi, Nila Hidayati, Ira Sumarni, dan Neni Syurfa Wardati.

Inyiak Katik merupakan seorang ulama yang cinta akan ilmu dan memilki nurani sejak dulu terhadap ilmu agama. Hal ini dibuktikan dengan riwayat pendidikan inyiak. Inyiak menamatkan SR (Sekolah Rakyat) di Padang Lua. Setelah menamatkan SR Inyiak Katik meneruskan pendidikan ke SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama), namun hanya berlangsung selama tiga bulan. Beliau memilih berhenti dari SMEP karena takut terbawa arus pergaulan teman-teman yang dianggap menyalahi nurani beliau. Inyiak akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Parabek. Keputusan ini beliau ambil berdasarkan hati nurani beliau dan dukungan penuh dari kedua orang tua. Beliau merasa mempelajari ilmu agama adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan, semangat akan ilmu agama inilah yang membuat Inyiak mampu menyelesaikan pembelajaran selama tujuh tahun di Parabek. Setelah menamatkan sekolah di Sumatera Thawalib Parabek, Inyiak Katik melanjutkan studi beliau di IAIN Imam Bonjol. Belum genap setahun, beliau memutuskan berhenti. Hal ini bukan karena masalah pergaulan yang sebelumnya dihadapi Inyiak, melainkan karena pembelajaran yang diajarkan di IAIN sama halnya yang sudah Iyiak dapatkan di Parabek. “Kalau iko yang diajaan di siko, aden pandai maajaan” begitulah tutur istri beliau menirukan gaya bicara Inyiak saat menceritakan hal tersebut. Inyiak Katik pun memutuskan untuk kembali ke Parabek dan langsung diangkat menjadi guru pada tahun 1963.

Kiprah beliau sebagai seorang guru tidak menghentikan langkah beliau untuk terus menimba ilmu. Hal ini dibuktikan dengan kegigihan Inyiak mengikuti Kuliyatud Diyanah dan talaqqi serta halaqah bersama ulama-ulama besar saat itu. Diantara guru-guru beliau adalah; Inyiak Imam Salim, Ust. Muncak, Inyiak Idi (Guguak Tinggi), Inyiak Ibrahim, Ust. Labiah (Karatau), Inyiak Gafar, Ust. Katik Janan, Inyiak Ibrahim Musa, Ust. Labai(Parik Lintang), Ust. Munir, Ust. Ibrahim Said, dan Ust. Ibrahim Jalil.

Dari sekian banyak guru beliau, hanya ada satu sanad beliau yang ditemukan. Adapun sanad tersebut merupakan sanad yang beliau dapatkan dari pembelajaran kitab Fathul Mu’in. Sanadnya adalah Inyiak Khatib Muzakkir bersanad kepada Syaikh Ibrahim Jalil kepada Syaikh Ibrahim Musa kepada Syaikh Ahmad Khatib Alminangkabawiy kepada Syaikh Abu Bakar Syatha Addimyathi kepada Syaikh Nawawiy Albantaniy kepada Syaikh Ahmad Zainiy Dahlan kepada Syaikh Abdullah bin Umar (Waliyu Makkah) kepada Syaikh Muhammad Shalih Arraisiy kepada Syaikh Ali Alwananiy kepada Syaikh Ahmad Bujairimiy kepada Syaikh Ahmad bin Ramadhan (Mesir) Syaikh Sulaiman Albaabiliy kepada Syaikh Aziz Zamzamiy kepada Syaikh Zainuddin Almalibariy kepada Ibnu Hajar Alhaitamiy kepada Zakariyya Al Anshariy (Syaikhul Islam) kepada Al’alamatul Mahalliy.

Dalam menimba ilmu, inyiak punya cerita tersendiri. Dikenal sebagai orang yang giat dan tekun, tidak heran rasanya Inyiak Katik mampu menamatkan beberapa kitab bersama guru beliau, diantaranya; kitab Madaarijus Saalikiin, I’anatut Thalibin, Kawaakib Duriyah, Tafsir Khazin, Qatrun Nida’, dan masih banyak lagi. Saat mengaji kitab Qatrun Nida’ beliau bercerita bahwa sambil guru beliau memberi oli pada rantai sepeda, Inyiak Katik berhasil menamatkan kitab tersebut.

Selama mengajar di Parabek, beliau sealau memegang mata pelajaran yang berkaitan dengan ilmu alat seperti nahwu, saraf, mantiq, dan yang berkaitan dengan ilmu syari’ah. Mata pelajaran tersebut memanglah keahliaan inyiak, karena saat mengajar inyiak sama sekali tidak melihat kitab yang menjadi rujukan, inyiak melihat kitab hanya untuk menguji bacaan santri. Inyiak mengajar nahwu menggunakan kitab Kawakib Durriyah dan Nahwu Waadhih, Fiqih menggunakan I’anatut Thalibin, dan Mantiq menggunakan Ilmu Mantiq karangan Muhammad Nur Ibrahimiy.

Inyiak termasuk seorang guru yang aktif dan inovatif. Keaktifan Inyiak dalam mengajar dibuktikan dengan lamanya inyiak mengajar di Parabek. Selama mengajar di Parabek Inyiak selalu senang menerima murid untuk belajar tambahan pada malam hari, Bahkan saat hampir menjelang ajal, beliau tetap mau menerima murid yang datang untuk menimba ilmu walaupun saat itu inyiak dalam kondisi yang kurang baik. Sakit bahkan tidak menjadi alasan bagi beliau untuk menurunkan volume suara, inyiak tetaplah mengajar dengan suara lantang, karena memang itulah ciri khas dari seorang Inyiak Katik Muzakkir. Istri beliau menuturkan bahwa inyiak senang melihat televisi untuk mencari cara mengajar baru agar para santri terhibur. Misalnya saat lagu Si Jali-jali sedang populer, Inyiak menggunakannya sebagai bahan ajar. Inyiak juga pernah membuat permainan jari-jari dan banyak lainnya semata-mata untuk membuat santri lebih semangat belajar.

Setelah lama menjadi salah satu guru di Parabek, Inyiak dipercaya memangku beberapa jabatan. Diantaranya; menjadi bendahara Yayasan Syaikh Ibrahim Musa, bendahara MST Parabek, Kepala Asrama MST Parabek, Pimpinan Pondok sampai tahun 2010, Syaikhul Madrasah sampai akhir hayat beliau, dan merupakan salah satu anggota MUI. Istri beliau menceritakan bahwa beliau merupakan orang yang teliti, karena saat menjadi bendahara beliau akan menghitung ulang uang perbendaharaan tersebut jika hasilnya tidak sama dengan catatan yang beliau buat. Inyiak mengatakan pada istri beliau bahwa seluruh uang tersebut adalah amanah dari Allah, sepeser saja dapat menyeret ke neraka.

Jika masalah perbendaharaan inyiak saat teliti, maka masalah gaji inyiak adalah orang yang sangat acuh. Semenjak menikah inyiak bahkan tidak lagi tahu berapa gaji beliau, hal ini karena setiap kali inyiak menerima gaji, beliau tidak pernah membuka amplop gaji beliau. Setelah mendapatkan amplop gaji tersebut beliau langsung menyerahkannya pada isteri. Inyiak takut dengan melihat gaji tersebut akan menggoyahkan semangat beliau dalam mengajar santri. Begitulah ungkapan dari isteri beliau sambil mengenang sosok Inyiak Katik.

Selain memiliki kiprah yang panjang di MST Parabek, Inyiak juga memiliki andil besar dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kedudukan adat beliau merupakan seorang ‘niniak mamak’ dalam suku Simabua dan ‘Pangatuo’ di Parabek sehingga sering dijadikan tempat bertanya. Selain dalam urusan adat beliau juga menjadi tempat bertanya dalam masalah agama karena ilmu beliau yang sangat luas dalam ilmu fiqih. Beliau sering ditanya dalam masalah kewarisan dan sengketa rumah tangga. Beliau juga sering dijadikan penghulu atau pun saksi pernikahan.

Sampai akhir hayat beliau masih sering memberi khutbah dan ceramah agama di berbagai tempat. Contohnya Inyiak masih rutin memberikan ceramah subuh di Masjid Jami’ Parabek. Saat Inyiak masih dalam kondisi yang memungkinkan pun Inyiak sering dijemput untuk mengisi ceramah dimana-mana. Istri beliau mengungkapkan bahwa karena kesibukan beliau mengisi ceramah, sang istri sering ditinggal sampai malam hari, saat subuh pun beliau sudah kembali mengisi pengajian hingga sibuk mengajar di sekolah dan baru akan kembali lagi saat menjelang tengah malam setelah selesai mengisi pengajiaan di berbagai tempat.

Inyiak memang sosok yang sangat kuat. Diantara waktu kosong mengajar pun beliau akan menyempatkan pergi ke ladang untuk sekedar mengisi waktu kosong. Meskipun hanya ada satu jam pelajaran yang kosong beliau akan pergike ladang, atau mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat lalu akan kembali mengajar. Beliau seperti tak mengenal lelah.

Kekuatan seorang Inyiak Katik tentu ada batasnya. Sosok yang selalu dikenal memiliki kegigihan dan ketekunan ini, pada usia senjanya mulai berkurang. Pada tahun 2005, saat kekutan Inyiak mulai menua bersama tubuh beliau, Inyiak sering melimpahkan tanggung jawab memberi pengajian di masjid-masjid yang jauh pada murid-murid beliau. Kendati demikian semangat beliau tidak pernah ikut menua. Dengan sisa- sisa tenaga beliau, Inyiak bersama guru-guru tua lainnya juga ikut mengkader guru-guru muda agar mahir dalam memahami kitab.

Inyiak Katik juga dikenal sebagai sosok yang sabar dan sederhana. Jika ada satu orang saja murid beliau yang belum memahami materi yang diajarkan, beliau akan mengajarkan terus sampai murid tersebut paham. Kesederhanaan beliau terlihat dari cara berpakaian, beliau sering mengenakan baju kaus atau batik sederhana, dengan sarung(jika tidak dalam keadaan mengajar), sehelai sorban yang melingkar di bahu dan sebuah peci haji di kepala.

Di akhir hidup beliau, keteguhan, kegigihan, kesederhanaan, dan kesabaran masih terlihat jelas dari tubuh beliau yang renta. Usia tidak mampu menghapus seluruh sifat itu dari seorang Inyiak Khatib Muzakkir. Sampai hari ini, masih banyak yang mengingat beliau karena limpahan ilmu beliau. Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi Inyiak Katik di sisi-Nya. Amin ya rabbal ‘alamiin. (Nadyya R.A., dkk.)

Tim Redaksi

Merupakan Garin Termuda di surauparabek.com lahir bersamaan dengan munculnya surau parabek, Salam Kenal Semua Keluarga Besar Surauparabek, -http://toko.surauparabek.com (Pelanggan Setia Toko)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: