Bundo Kanduang sebagai Limpapeh Rumah Gadang

Istilah Bundo kanduang dan Limpapeh rumah gadang merupakan julukan masyarakat Minangkabau  kepada  perempuan Minang. Istilah ini mempunyai makna masing-masing dan mendalam.

Secara harfiah bundo kanduang terbentuk dalam dua kata yaitu bundo dan kanduang. Bundo artinya ibu, sedangkan kanduang adalah sejati; bundo kanduang adalah ibu sejati. Istilah bundo kanduang ini merupakan personifikasi suku Minangkabau sekaligus julukan yang diberikan kepada perempuan yang memimpin suatu keluarga dalam  Minangkabau.

Secara etimologi, bundo kanduang bermakna pemimpin perempuan di Minangkabau yang menggambarkan sosok seorang perempuan bijaksana yang membuat adat Minangkabau lestari semenjak zaman sejarah

Di tinjau dari segi sejarah meskipun belum dapat dibuktikan kebenarannya bahwa kata bundo kanduang merupakan gelar yang diberikan kepada Dara Jingga, dia merupakan putri dari raja Tribuana, raja Mauliawarmadewa yang dinikahi oleh seorang bangsawan kerajaan Singasari pada waktu ekspansi Pamalayu.

Sedangkan istilah limpapeh rumah gadang juga terdiri dari dua kata; limpapeh dan rumah gadang. Limpapeh dalam istilah Minang bermakna tiang penyangga, sedangkan Rumah Gadang adalah sebuatan lain dari rumah tangga. Jadi dapat dipahami bahwa limpapeh rumah gadang adalah tiang penyangga rumah tangga.

Dari penjabaran di atas, kita dapat memahami bahwa makna dari bundo kanduang sebagai limpapeh  rumah  gadang adalah perempuan bijaksana yang merupakan tiang penyangga dari keutuhan rumah  tangga.

Sebagai tiang penyangga, ada beberapa sifat-sifat yang harus di miliki  oleh  seorang bundo kanduang agar dia dapat menjadi tiang penyangga yang kokoh.

 Pertama, budo kanduan harus memahami adat dan sopan santun. Adat dan sopan satun  atau juga biasa di sebut dengan tata krama atau etikat telah menjadi bahagian dalam hidup manusia. Dalam adat Minangkabau ada banyak sopan santun yang di ajarkan, dari cara berbicara, berpakaian, berjalan, bergaul dan lain sebagainya yang berkaitan dengan cara berinterkasi dengan orang lain. Tata cara berinteraksi ini lah yang harus dipahami dengan baik oleh seorang bundo kanduang agar tidak terjadi “sumbang” dalam masyarakat. Oleh karena itu setiap bundo kanduang harus memiliki kepribadian yang sesuai dengan adat sopan santun yang di ajarkan oleh kebudayaan Minangkabau.

 Kedua, ia harus mengutamakan budi pekerti. Budi pekerti di terdiri dari dua kata yang berbeda. Budi artinya sadar atau yang menyadarkan, sedangkan pekerti adalah kelakuan. Jadi budi pekerti dapat didefenisikan sebagai prilaku manusia yang sadar dilakukan. Budi pekerti selalu berkaitan dengan prilaku manusia yang baik. Prilaku yang baik berkaitan dengan norma dan moral yang berlaku. Dalam setiap wilayah, norma dan moral mempunyai perbedaan pemaknaan dan implentasi, khusus di Minangkabau, budi pekerti harus berdasarkan ajaran adat yang bersandikan kepada syarak, yaitu al Alquran dan Sunnah Rasullulah. Jadi seorang bundo kanduang harus mengutamakan prilakunya dengan dasar Alquran dan Sunnah.

Ketiga, memelihara harga diri. Harga diri adalah sesuatu yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Harga diri merupakan penilaian individu terhadap sejauhmana dirinya mempunyai kemampuan, keberartian, ataupun dalam segi kompoten terhadap sesuatu. Harga diri juga berkaitan dengan kehormatan seseorang individu dan bagaimana dia mengekspresikan dirinya dalam manyarakat. Penilaian ini sangat penting agar seorang individu tidak salah menempatkan dirinya dan dapat menjaga kehormatannya. Oleh karena itu adat Minang mengharuskan kalau seorang bundo kanduang itu harus dapat memelihara harga dirinya.

Keempat, mengerti agama. Agama dapat diartikan sebagai pedoman, pedoman yang dapat memandu manusia kejalan yang benar. Bagi seorang bundo kanduang agama yang harus di mengerti dan jadikan sebagai pendoman hidup yaitu agama Islam. Karena adat Minang itu basandi syarak dan syarak basandi kitabullah”, maka jelaslah agama Islam menjadi pegangan hidup bagi setiap orang Minangkabau khususnya bagi bundo kanduang. karena dia menjadi pedoman, maka harus lah untuk memahaminya.

Kelima, bundo kanduang harus memelihara dirinya dan masyarakatnya dari dosa. Maka jelaslah seorang bundo yang mengerti aturan adat,  aturan agama, dan selalu menjaga harga dirinya sudah tentu dapat memelihara dirinya dari perbuatan dosa. Tetapi seorang bundo kanduang tidak hanya baik untuk dirinya saja, tetapi harus baik terhadap lingkungannya, artinya dia dapat mempengaruhi lingkungannya untuk sama-sama menjadi orang baik. Ini lah yang disebut dengan bundo kanduang yang menjadi suri tauladan bagi masyarakat.

Sifat bundo kanduang tersebut dinyatakan dalam pusako, “di hias jo budi baiak, malu sopan tinggi sakali, basa  jo basi bapakaian, nan gadang basa batuah, kok  hiduik tampek banzar, kok mati tampek baniat, tiang kokoh budi nan baiak, pasak kunci  malu jo sopan  hiasan dunia jo akhirat, awih tampek minta aia, lapa tampek minta  nasi.

Menurut Hakymi Dt. Rajo pangulu, bundo kanduang itu merupakan golongan perempuan yang memiliki budi pekerti yang baik, tawakal kepada Allah, sopan dan hormat kepada sesama. Sifat ini terlihat dalam ungkapan “budi tapakai taratik dengan sopan, memakai basa basi ereng jo gendeng, tau jo nan sumbang, takut kepada Allah dan rasul, muluik manih  baso katuju, pandai  bagaua  samo gadang,, hormat  pada orang tua  maupun jo nan di tuoan.”

Dari pemaparan di atas dapat dipahami bahwa adat Minang sangat menjunjung tinggi derajat perempuan, karena denggan  perempuan baik akan tercipta keluarga yang baik pula. Perempuan Minang sebagai limpapeh rumah gadang tidak sama dengan perempuan yang dipahami secara umum. Perempuan Minang mempuyai tanggung jawab besar dalam membina rumah tangga dan menjaamin  keutuhan rumah tangganya.

Hal ini dapat kita bandingkan dengan fenomena sekarang  bahwa  tingkat perceraian di Minangkabau cukup tinggi. Derdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI 2011, angka perceraian di Sumatera Barat, masuk dalam urutan 2 besar nasional, yaitu sekitar 2,53 persen. Hal ini di sebabkan berbagai faktor, internal maupun faktor eksternal. Artinya ada pergeseran kualitas perempuan Minang. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh terjadinya pergeseran kebudayaan khususnya pergeseran pemaknaan terhadap peran perempuan dalam rumah tangga.

Faktor internal dapat kita lihat dari tingkat kesiapan seorang perempuan dalam membina rumah tangga. Contohnya sekarang banyak kita temukan dalam masyarakat fenomena pernikahan dini. Data plan mengungkapkan bahwa 10 juta anak perempuan terpaksa atau dipaksa menikah dini setiap tahunnya. Di Indonesia, 33,5 persen anak usia 13-18 tahun pernah menikah. Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah menetapkan bahwa umur ideal untuk menikah bagi wanita adalah 20-35 tahun dan pria 25-40 tahun. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar pasangan tidak menikah pada usia muda. Tentunya pertimbangan tersebut diambil dari beberapa aspek seperti medis dan psikologis pasangan untuk menjalankan kehidupan rumah tangga nantinya. Dari pertimbangan tersebut dapat dipahami bahwa Pernikahan dini akan rentan sekali dengan pergolakan rumah tangga yang pada akhirnya terjadi perceraian.

Sedangkan faktor eskternal yaitu adanya pengaruh pandangan barat  tentang emansipatoris perempuan terhadap laki-laki. Pandangan emansipatoris adalah sebuah cara pandangan yang mengakui kesamaan peran antara perempuan dengan laki-laki dalam dunia sosial. Implementasi pandangan ini dalam kehidupan sosial salah satunya yaitu perempuan itu harus berkarir. Dalam satu sisi pemikiran ini sangat positif, tetapi banyak di salah artikan oleh sebagian perempuan, dimana karir menjadi prioritas pertama dari pada keluarga sehingga mengakibatkan terjadinya krisis sosok seorang ibu dalam sebuah rumah tangga. Hal ini memunculkan akibat yang sangat buruk karena rumah tangga kehilangan sosok yang bisa menjadi tauladan. Inilah yang menjadi salah satu penyebab ternyadinya kenakalan remaja.

Dengan melihat dari fenomena diatas, kita sebagai masyarakat Minang khususnya pada perempuan Minang, marilah kita mulai kembali kepada jati  diri seorang perempuan Minang yang diberi gelar sebagai bundo kanduang limpapeh rumah gadang. Memberikan pengajaran kepada masyarakat Minang terutama perempuan Minang yang didukung oleh semua  kalangan organisasi baik formal maupun informal yang ada di Minangkabau.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: