Catatan Untuak Inyiak Muzakkir

“Baa nyo, lah sudah duo?”
“Alah, Nyiak.”
“Alhamdulillah. Lai ka manambah katigo?”
“Insyaallah, Nyiak. Minta doanyo, Nyiak.”

Tak disangka, ternyata itu dialog terakhirku dengan Beliau. Beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri tahun 2015. Ketika itu, sepulangnya menghadiri pernikahan salah seorang teman, saya dan beberapa orang teman menyempatkan diri menemui Beliau. Kembali menggenggam dan mencium tangannya. Inyiak Khatib Muzakkir. Begitulah ia dipanggil. Ah, sebenarnya sudah begitu lama ia ‘naik pangkat’ jadi Inyiak Imam Muzakkir. Tapi panggilan Inyiak Katik sudah begitu melekat baginya, paling tidak untuk siswa generasi 2000-an.

Hari itu, saya tiba-tiba tersedak, membaca PM sejumlah teman BBM menyampaikan doa atas wafatnya seorang guru kami. Sejujurnya, hatiku cukup bebal mendengar berita duka jika tidak berhubungan erat denganku. Entah kurang empati atau karena memang semua yang bernyawa akan mati, sangat jarang mata ini mengalirkan air mata mendengar berita duka. Tapi tidak demikian dengan sore itu. Pesan BBM itu, status facebook itu, begitu menusuk. Air mata tidak terbendung. Apa daya, geografi menjadikan hanya doa yang bisa kupanjatkan buat Beliau.

Siapalah diri ini kalau bukan karena jasa Beliau. Jika ada yang bertanya, siapa saja yang paling berpengaruh dalam hidupmu, maka Inyiak Katik termasuk kepada nama-nama pada daftar teratas. Kurus tapi penuh semangat. Lantang namun ceria. Blak-blakan tapi menyenangkan. Ketika hubungan guru-murid dirasuki formalisasi struktural dengan segala aturannya, dia masih segar dengan gaya ‘kampungannya’.

Tapi disitulah seninya. Itulah yang menjadikan ia begitu dekat dengan para murid. Jika ada alumni yang mengunjungi madrasah kami, Sumatera Thawalib Parabek, pasti, menemui Inyiak Katik adalah agenda utamanya.

Apalagi yang aku ingat tentang beliau? Ah, terlalu banyak untuk dibicarakan. Beliau selalu jadi perbincangan ketika berkumpul bersama teman-teman. Semenjak berkuliah di Jogja, paling tidak ada dua tempat yang menjadi basecamp kami santri lulusan 2008, di Ciputat atau Parabek ketika pulang kampung. Lazimya reuni, kami membicarakan banyak hal. Tentu saja tentang sosok guru senior, Syaikh Madrasah, Inyiak Katik yang kocak ini.

Beliau adalah seorang yang progresif. Coba perhatikan dialog di atas. Itu terjadi beberapa hari setelah lebaran, selepas menghadiri acara pernikahan seorang teman. Beliau pun hadir di acara tersebut. Sewajarnya lebaran dan acara nikahan, aku yang sudah menginjak umur 25 tahun harus menutup telinga dari pertanyaan ‘kapan kawin’ yang selalu datang. Ya semua tau, ini jadi momok bagi generasi 25an. Lihat saja sejumlah meme lebaran yang beredar, bertemakan pertanyaan trengginas ini. Tapi tidak sekalipun beliau bertanya demikian kepadaku. Justru beliau menanyakan hal lainnya, “Baanyo, lah sudah duo? Lai ka manambah katigo?” (Gimana, sudah selesai s2 nya? Masih akan lanjut s3?). You see what I mean? Begitulah, beliau tidak seperti masyarakat pada umumnya, bahkan tidak seperti guru-guru Parabek lainnya. Dalam usia senja, beliau masih berfikir ke depan.

Sekali-kali aku ingin bersombong ria. Aku, Fadhli Lukman, si kurus kering ini, memiliki reputasi cukup baik. Menjelang kepulangan saya dari Jogja, dalam sebuah acara farewell informal, seorang kawan memberikan testimoni; katanya saya cerdas. Dia baru dua tahun mengenalku. Sekitar sebulan terakhir ini, saya dinobatkan menjadi ‘penasihat’ Pasukan Februari, sekelompok mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang memperjuangkan wisuda bulan Februari 2016. Hal ini lantaran mereka merasa saya mampu menjadi pembimbing bayangan untuk tesis mereka. Di luar mereka juga tidak sedikit yang menghubungi untuk sekedar bertanya tentang judul skripsi/tesis atau bahkan mengkonsultasikan metode, teori, atau isinya.

Beberapa bulan lalu, beberapa teman konsultasi tentang presentasi makalah di seminar internasional dan menobatkan saya sebagai ‘senior’, karena saya memang sudah beberapa kali melakukannya, in English or Indonesia. Pak Kajur kami suatu ketika memperkenalkan saya kepada temannya sebagai salah seorang mahasiswa terbaik. Beberapa dosen menyebut-nyebut nama saya di kelas para junior. Cuma itu? Tidak tentu saja.

Ah, sudah lah, tak baik terlalu sombong. Karena semakin saya sombong, semakin rapuh diri ini. Karena semuanya kembali ke nama yang tadi, Inyiak Katik Muzakkir. Apalah aku tanpa Beliau. Untuk apa kau menyombongkan larimu kencang kalau sebenarnya kau tidak bisa berjalan jika bukan karena diajarkan seseorang? Apa yang bisa kau sombongkan di depannya? Pada akhirnya kau akan menunduk, menggenggam dan mencium tangannya. Pada akhirnya kau masih minta restu dan doa padanya untuk langkah selanjutnya. Itulah beliau. Beliau lah yang mengajarkan aku berjalan. Beliaulah yang memapah aku langkah demi langkah. Beliau lah yang mendirikan ‘pondasi rumahku’. Aku mungkin bisa berkreasi seenaknya menghias dinding dan memasang lampu hias di ruang tamu. Tapi semua itu tidak ada tanpa pondasi. Kesombonganku pada akhirnya hanya pujian untuknya.

Masih terngiang di kepala ini suara lantanganya. “Jari-jariiii….,” “Waba’du fa al-mantiqu li al-janani nisbatuhu ka nahwi li al-lisani,” “Fadhhhli luqqmaaaaannn…,” “Apatah lagiii……” “Hoehh, maotaaaa juo ang!” “Tulih angko satu, masuakan ka dalam talua.

Sejujurnya, ketika itu saya masih berharap pesan BBM atau status facebook kawan-kawa itu adalah hoax yang disebar secara viral. Aku masih berharap beliau masih hidup. Ketika seorang teman bertanya. “Darima ang dapek info?,” sebagian kecil dalam hati ini berharap ini bohong. Info-info tersebut salah. Tapi begitulah kondisinya. Selamat jalan, Inyiak. Tak disangka, kunjunganku ke rumahmu waktu itu adalah pertemuan terakhir kita. Engkau pernah berkata, “Kalau bisa, aku meninggal dalam keadaan mengajar.” Ketahuilah Nyiak, Engkau mendapatkannya. Engkau meninggal masih dalam keadaan mengajar. Aku masih belajar kepadamu. Terimakasih Nyiak. Selamat Jalan.[]

Sebelumnya pernah dimuat di halaman wordpress pribadi.

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Komentar

  1. Tulisan ini benar benar mengganggu. Mengganggu hati yang sudah mulai kuat menanggung sedih kehilangan beliau. Kenangan tentang beliau memenuhi hati dan pikiran, bagaimana bisa hati dengan tenang mengikhlaskan sosok yang luar biasa ini. Tulisan ini kembali memancing semua ingatan tentang beliau..bergemuruh..yang akhirnya hanya keluar sebagai tangis.
    Inyiak, engkau guru kami, engkau orang tua kami

    1. Tak ada niat hati kami untuk memancing kesedihan uni. Kami hanya ingin mencatatkan sejarah perjuangan dan pengabdian beliau. Kami tunggu tulisan uni tentang beliau. 🙂

  2. Bg Budi Akbar Ini Budi, tulis pulo lah ciek kenangan dan nostalgia bg dg Inyiak Katik ko. Kito publish pulo beko.
    Rencana surauparabek dalam sebulan ko akan fokus ka tulisan2 nan bakaik2 ka inyiak Katik…

  3. “Kalian…roman ka roman juo nan kalian baco malam, itulah, kuok kuok-i siang…hehehe… di den pailang kantuak, dikalian basamoan jo Sal Sal Mudakhal…jan salah gunoan…”, (roman: buku s*x terpadu, ada cerita dan gambar, maaf, dulu namanya Anny Arrow – yang sekaligus pengarang roman percintaan**** Sal Sal Mudakhal, kitab grammar bahasa arab, yang sudah dipakai Thawalib Parabek selama hampir 4 generasi)..
    Baarakallaah inyiak Katik Muzakir… Jam istirahat, keluar main, para guru muda kebanyakan bersenda gurau diruangannya, tidak semuanya memang, tapi aneh bagi inyiak, beliau ka parak manyambia… MasyaAllah… Kangen dengan Huaaahahahahaha nya beliau, enerjik, dan selalu positif thingking dengan para murid, pambangih, namun jauh dari dendam…

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: