Celaka Bagi Orang yang Berpuasa

Sebuah kejadian yang tidak biasa pernah terjadi ketika Rasulullah hendak menyampaikan khutbah di hadapan kaum muslimin. Ketika hendak menaiki tangga mimbar, Rasulullah berucap amin, amin, amin sebanyak tiga kali. Kejadian itu mengundang tanda tanya dikalangan para sahabat. Karena  itu adalah kejadian yang tidak biasa mereka lihat selama ini bersama Rasulullah.  Apa sebenarnya yang terjadi pada diri Rasul ? Kenapa beliau berkata amin? Apakah perkataan amin adalah sesuatu yang mesti diucapkan sebelum khutbah dimulai? Berbagai macam pertanyaan yang muncul dalam pikiran para sahabat pada waktu itu. Setelah Rasulullah selesai berkhutbah, para sahabatpun langsung menuju Rasulullah dan mengajukan pertanyaan terkait dengan kejadian yang mereka lihat dan alami. “Ya Rasulullah, tadi kami mendengar engkau mengucapkan amin, amin dan amin ketika menaiki tangga mimbar, Apa sebenarnya yang terjadi ya Rasulullah ?” tanya sahabat kepada Rasulullah. Rasulullah pun menjelaskan kejadian yang tidak biasa mereka lihat selama ini. Rasulullah menjelaskan bahwa pada saat beliau berjalan dan menaiki tangga mimbar, Jibril turun sembari berdoa kepada Allah SWT. Mendengar doa itu Rasulullah pun berucap amin, amin dan amin. Sebanyak tiga kali, sesuai dengan doa yang dipanjatkan oleh Jibril. Kemudian Ia melanjutkan penjelasannya

Adapun tiga doa yang dipanjatkan oleh Jibril pada waktu Rasulullah hendak naik ke atas mimbar itu adalah :

  1. Celakalah bagi mereka yang mendapati bulan Ramadhan tetapi mereka tidak memperoleh ampunan
  2. Celakalah bagi mereka yang masih mempunyai kedua orang tua atau salah satunya tetapi tidak memasukkannya ke dalam surga
  3. Celakalah bagi mereka yang mendengar namum tidak bershalawat kepadamu

Tiga doa inilah yang dipanjatkan oleh malaikat jibril yang di amini oleh Rasulullah ketika beliau hendak naik ke atas mimbar. Sebagaimana kita tahu Jibril adalah salah satu makhluk Allah yang tidak pernah durhaka kepadaNya, tentu  doa yang dipanjatkannya pun akan langsung diterima oleh Allah SWT. Selain itu, amin yang diucapkan oleh Rasulullah tentunya itu juga bukanlah amin yang sembarangan, sebab yang mengucapkan itu adalah Rasulullah. Jadi jelas akan terdapat perbedaan amin yang diucapkan Rasulullah dengan amin yang  diucapkan oleh kebanyakan orang. Sehingga dapat dipastikan bahwa tiada alasan tertolaknya doa yang disampaikan oleh Jibril itu.

Doa pertama, celakalah bagi orang-orang yang mendapati bulan ramadhan namun mereka tidak memperoleh ampunan. Tentu pertanyaannya sekarang adalah, siapa mereka yang mendapati bulan ramadhan itu namun tidak memperoleh ampunan. Jawabnya adalah mereka yang orang hanya memahami puasa itu hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum di siang hari serta menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa secara hukum fiqih saja. Padahal esensi dari puasa itu sendiri telah Rasulullah sampaikan melalui sabdanya.

Rasulullah bersabda : apabila engkau berpuasa, maka puasakanlah pendengaranmu, lisanmu dan penglihatanmu.

Kembali pertanyaannya adalah, sudahkah kita mempuasakan panca indera yang selama ini terdapat di tubuh kita sebagaimana yang telah Rasulullah sampaikan di atas. Panca indera yang disebutkan di atas sejatinya itu adalahi representasi dari seluruh anggota tubuh yang kita miliki. Termasuk  gerak yang muncul dari setiap gerakan kita itu merupakan hasil dari sebuah sistem yang tersusun dari berbagai komponen yang saling terkait antara satu dengan yang lain di mana itu semuanya melekat pada bagian tubuh kita. Seperti mulut, yang tidak akan mengeluarkan suara, sebelum menangkap suara yang ditangkap oleh telinga. Seperti telinga yang sejatinya adalah mendengar, tidak akan merespon jika tidak menangkap suatu suarapun. Makanya orang yang  bisu itu biasanya tuli.

Oleh karena itu mari kita ingat kembali, sudah sejauhmana kita mampu untuk menjaga setiap anggota tubuh yang kita miliki. Kalau sekiranya boleh jujur, hari ini saja, adakah kita dengar berita yang sejatinya itu adalah aib dari saudara kita sendiri yang kita bicarakan dengan orang lain. Kalau boleh jujur, hari ini, adakah kita berkata sesuatu yang bilamana orang yang kita bicarakan itu marah bila mendengar perkataan yang kita sampaikan. Kalau boleh jujur, hari ini, adakah kita melihat orang-orang yang berada di tengah sekitar kita, di mana mereka membicarakan keburukan saudaranya yang lain lalu kita hanya sebagai penonton saja.

Pertanyaan inilah yang mesti kita jawab terlebih dahulu. Sebelum kita yakin bahwa kitalah yang disebut dengan  orang yang sebenarnya berpuasa itu. Sebab bila tidak itu yang menjadi pembeda kita, maka apa bedanya puasa yang kita lakukan dengan puasa yang dilakukan anak kecil, di mana mereka juga ikut berpuasa bersama kita, sahur bersama kita dan juga ikut menahan makan dan minum di siang hari. Lalu apa yang menjadi pembeda kalau bukanlah mampunya kita mempuasakan setiap anggota tubuh yang kita miliki.

Namun bagaimana kalau sekiranya kita dihadapkan dengan kondisi yang sulit untuk lepas dari orang-orang yang belum mampu mempuasakan organ tubuhnya, seperti seseorang yang bertamu ke rumah kita, lalu kemudian ia membahas hal-hal menurut kita itu adalah termasuk membuka aib saudara kita atau mengungkit suatu keburukan yang terdapat pada saudara kita yang lain. Maka pada saat itu, langkah pertama yang mesti kita lakukan adalah, beri ketegasan kepada diri kita, bahwa setiap pembicaraan yang akan merusak pahala ibadah puasa kita terlarang untuk kita lakukan. Tetapi kadang-kadang perasaan yang muncul bila yang bertamu itu adalah teman dekat atau tamu yang kita anggap penting sering membuat kita kurang tegas, lalu membiarkan begitu saja pembicaraan yang ternyata telah melampaui batas. Bahkan begitu menghargai orang yang bertamu, kita malah memberikan kebebasan kepada orang untuk berbicara apapun di rumah kita, padahal kita pada waktu itu dalam keadaan berpuasa. Oleh sebab itu, tegaskan diri agar kita mesti mencegah yang mungkar itu tidak terus berlanjut. Jangan hanya karena malu atau dianggap “sok” atau “jaim” melunturkan semangat kita untuk menegakkan amar na’ruf nahi mungkar. Buang jauh pikiran seperti itu. Anggap mereka  yang berkata kita adalah “ sok siak atau sok alim” itu sebagai orang yang belum mendapat petunjuk. Dan pastikan kita adalah diantara orang yang Allah beri petunjuk untuk menunjukinya. Kemudian jangan sekali-kali kita balas perkataan meraka dengan ucapan yang sama, sebab membalas berarti kita sama dengan mereka. Kemudian langkah kedua yang mesti kita lakukan adalah ucapkan kalimat tolakan yang lembut kepada mereka. Kata maaf diawal kalimat tentu adalah kata yang tepat kita gunakan, ditambah dengan intonasi yang seolah-olah memohon. Seperti contoh berikut : mohon maaf bapak, buk kita sekarang dalam berpuasa, sepertinya pembicaraan kita tadi telah jauh melenceng.

Mudah-mudahan cara yang demikian,  dapat memberikan pengertian kepada orang-orang yang belum memahami hakikat puasa itu, bahwa hakikat puasa itu sesungguhnya bukanlah menahan dari makan dan minum saja tetapi hakikat puasa  itu bagaimana kita mampu mempuasakan seluruh anggota tubuh kita, termasuk anggota tubuh yang selalu kita bawa setiap saat.

Selanjutnya, doa malaikat jibril kedua yang di aminkan oleh Rasulullah adalah celakalah bagi mereka yang masih mempunyai kedua orang tua atau salah satu diantara keduanya, namun tidak memasukkannya ke dalam surga. Maksudnya adalah sungguh rugi bagi orang-orang yang masih mempunyai orang tua namun ia tidak berbuat baik kepada keduanya. Padahal jika diingat perjuangan orang tua untuk menghadirkan kita ke atas permukaan dunia ini, dan menjadikan kita menjadi orang sukses sekarang, itu tidak mudah. Begitu besar perjuangan mereka. Oleh sebab itu, ketika akhir hayat hidup mereka, kalau boleh jujur, tanya kepada hati orang tua kita masing-masing. Apakah emas,berlian atau mutiara yang mereka harapkan kepada kita? Apakah rumah  mewah, mobil yang bagus  dan sawah yang luas yang mereka inginkan? Bukan itu yang sesungguhnya mereka inginkan. Keinginan terbesar mereka adalah perhatian dari anak-anak yang selama ini telah mereka perjuangkan.

Maka alangkah durhakanya jika selama ini jika masih ada diantara saudara kita yang menghilangkan kesempatan baik ini dengan memasukkan orang tua mereka  ke panti-panti khusus orang tua (jompo). Lalu setiap bulan mereka kunjungi dengan memberikan donasi kepada pihak pengurus. Oleh sebab itu, jangan pernah sekali-kali terbersit di dalam hati kita untuk melakukan hal yang demikian, walau bagaimanapun kondisi dan alasannya. Ingat, mereka adalah orang tua kita yang butuh kasih sayang dari anak-anak mereka, bukan dari orang lain.

Semoga kita terhindar dari doa ke dua yang diucapakan oleh malaikat jibril yang di aminkan oleh Rasulullah itu dengan selalu senantiasa berbuat baik kepada kedua oran tua hingga kematian yang memisahkan kita dengan mereka.

Doa malaikat jibril yang ke tiga adalah celakalah bagi mereka yang mendengar namamu (Muhammad), namun tidak mengucapkan shalawat kepadamu.

Nabi Muhammad adalah contoh yang paling baik yang Allah ciptakan di atas permukaan bumi ini, beliau juga adalah sosok yang telah sukses mengangkat harkat martabat manusia dan meletakkan pada posisi yang tinggi. Maka jangan sekali-kali kita turunkan kembali kedudukan  itu kepada yang lebih rendah, tidak mengamalkan ajaran agama serta syariat yang dibawa oleh nabi Muhammad adalah sebagai bukti bahwa tiada berharganya perjuangan yang telah dilakukan oleh Rasulullah selama ini. Oleh sebab itu, mari dalam setiap kesempatan yang ada, jangan pernah lewatkan untuk mengenang kembali perjuangannya dengan bershalawat kepada beliau. Karena shalawat yang kita ucapkan itu juga kelak akan kembali kepada kita, melalui syafaat yang diberikannya di akhirat nanti.

Semoga kita juga terjauh dari orang yang paling bakhil menurut Rasulullah, siapakah mereka orang yang paling bakhil itu. Mereka adalah orang-orang yang bilamana mendengar nama Rasulullah Muhammad namun dia tidak bershalawat kepadanya. Ternyata kebakhilan sesungguhnya itu bukanlah tidak mau berbagi bersama dengan orang lain. Bakhil sesungguhnya adalah orang yang tidak mempunyai kesempatan sedikitpun untuk bershalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Mudah-mudahan kita selalu terhindar dari doa yang disampaikan oleh malaikat Jibril yang diaminkan oleh Rasulullah itu dengan selalu senantiasa memohon kepada Allah agar selalu memberikan kemerdekaan diri agar mampu mengendalikan setiap segala yang kita lakukan, termasuk menjaga diri dari yang dapat merusak ibadah puasa. Kemudian kita juga bermohon kepada  Allah agar diberi kesempatan untuk dapat terus menjaga, merawat dan berbuat baik  kedua orang tua, sebab tanpa keduanya, siapalah kita. Terakhir kita bermohon kepada Allah agar kita termasuk kepada golongan yang bersama Rasulullah di hari akhir nanti dan golongan yang memperoleh syafaat dari Rasulullah Muhammad SAW. Amin ya rabbal alamin. Wallahu a’lam.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: