Cinta Dunia Takkan Selaras Cinta Akhirat #1

Sayup-sayup terdengar suara ayam berkokok,membangunkan para insan yang terlelap dalam tidurnya. Beberapa senantiasa bersujud kepada Sang Khaliq, tenggelam dalam mengingat-Nya,mengingat betapa banyak maksiat yang telah diperbuat,mengingat ajal akan menjemput entah kapan waktunya.

Gemerlap bintang, sunyi dalam kehampaan. Malam. Waktu yang sangat dinanti oleh para pencari ridha-Nya.

“Hafsah,cepat selesaikan pakaian yang akan dijahit. Kita tidak memiliki waktu untuk bersenang senang saat ini. Ingat bagaimana kondisi keluarga kita nanti, siapa yang akan menjadi tulang punggung keluarga? Pikirkan itu Hafsah!”ujar Bu Nimar,ibunya Hafsah.

“Iya, sabar Bu! Sebentar lagi Insyaallah semuanya akan selesai. Ibu jangan cemas. Hafsah hanya ingin menunaikan hak seorang hamba kepada Sang Khaliq yang menciptakan semua nikmat ini, Bu” ujar Hafsah sambil menatap lembut wajah ibunya.

“Iya, Ibu tahu! Tapi jangan lama-lama! Nanti kita kehabisan waktu! Kamu mau kuliah kan? Cepat hafsah!” bentak ibunya.

Setiap Hafsah menerima bentakan itu, ia dengarkan saja seperti air yang mengalir. Karena ia juga tahu bagaimana kondisi ekonomi keluarganya saat ini. Akan tetapi Hafsah selalu bersedih jikalau ibunya memerintahkan dia untuk bersegera dalam hal pribadatan. Terkadang melintas dalam fikiran Hafsah, andai saja ia memiliki ibu yang bisa memahami nya dan bisa menyemangati nya dalam setiap keadaan. Tapi pemikiran itu senantiasa ia tepis, ia tahu apa yang diberikan Allaah itulah yang terbaik. Ia selalu mendoakan ibunya agar selalu berada dalam naungan-Nya.

Ia sudah lihai terhadap keterampilan diatas meja petak berwarna cokelat tua itu. Dengan cara menjahit itulah ia bisa membiayai kuliahnya, sekolah adiknya, dan kebutuhan dirumah. Kepiawaiannya dalam menjahit itu sudah menjadi buah bibir dikampungnya itu.

“ Cepat Shah! Bergegas!” seru Ibunya.

“Iya Bu, sabar. Sebentar lagi. Banyak yang ingin Hafshah lakukan Bu” ujar Hafshah.

“Ibu tidak mau tahu tentang pekerjaan dan rutinitas yang menyibukkan diri kamu itu. Jahitan ini harus selesai. Ibu telah berjanji kepada tetangga dan telah menyanggupi permintaan tetangga itu. Kalau kamu tidak bisa menyelsaikannya pelanggan kita akan pergi,dan Ibu melanggar janji dan Ibu tidak ingin semuanya terjadi. Kalau kamu tidak bisa menyelesaikannya, Ibu akan tahan uang jajan kamu dan kamu tidak boleh pergi kuliah!”ujar Ibu Nimar.

“Ibu jiwa dan raga yang ada pada diri Hafshah ini tulus Hafshah berikan untuk Ibu. Hafshah tak akan menyia nyiakkan waktu, Ibu. Hashah akan selalu mencari dan menuntut ilmu agar Hafsfah menjadi orang yang suses dunia dan di akhirat” lirih Hafshah dengan berlinang air mata.

Sebenarnya, uang ditahan oleh ibu tidak akan jadi permasalahan oleh Hafshah. Ia bukanlah anak yang selalu bergantung pada materi. Selama di hatinya ada Allah ia takkan pernah merasa lemah jikalau material itu tidak ia miliki. Sesungguhnya hakikat dari kekayaan yaitu cinta kepada-Nya. Hafshah pun juga bisa mencari akal dalam permasalahan keuangan. Akan tetapi tidak boleh pergi kuliah itu sangat dipermaslahkan dirinya. Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan ilmunya dan kesempatan untuk menuntut ilmu. Ia telah mengetahui bagaimana pahitnya hidup tanpa ada ilmu, dan Allah tidak suka kepada hamba-Nya yang tidak berilmu.

“Sudah selesai Hafshah?” tanya Bu Nimar dengan nada yang tinggi.

“Alhamdulillah,sudah Bu. Insyaallah semuanya sudah siap dan sudah beres Bu.”ujar Hafshah.

“ Alhamdulillah! Sekarang tolong kamu masak sambal yang ada didapur” kata Bu Nimar.

“Tapi Bu,” ujar hafshah. Belum sempat ia melanjutkan kata katanya, ibunya memotong.

“Tak ada kata tapi-tapian, jangan kamu cari 1001 alasan. Ibu yakin di balik kata tapi itu kamu sebenarnya ingin menolak kan? Apa yang Ibu katakan harus kamu laksanakan Hafshah. Kamu jangan berani membantah apa yang Ibu perintahkan!” bentak Ibu kepada Hafshah.

Sebenarnya dia sangat ingin membantu Ibunya. Ia sangat senang membantu Ibunya. Tapi, jikalau ia melakukan apa yang ibunya perintahkan tadi, kesempatan ia untuk mendapatkan bus pagi itu menjadi mustahil. Kalaupun bisa, ia tidak bisa duduk di atas kursi, ia hanya bisa berdiri bertengger menghadap jendela bus.

“Ibu semuanya sudah siap Bu.” sahut Hafshah.

“Baiklah kamu boleh pergi ke kampus sekarang, lekas pulang, dan kamu hati hati dijalan.” sahut Bu Nimar.

“Hati hati dijalan Kak” sahut adiknya.

“Insyaallah, Dik. Doakan Kakak ya!” ujar Hafshah kepada adiknya.

Hafshah meninggalkan rumahnya dengan niat untuk berjihad dalam menuntut ilmu. Mendengar kata kata Ibunya tadi ‘hati hati Nak’ membuat girah hidupnya semakin tinggi. Semakin ingin ia membuat bangga Ibunya, ia tidak tahu bagaimana cara untuk membuat bangga Ibunya, akan tetapi dia akan berusaha untuk selalu berbakti kepada Ibunya.

Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, Hafshah sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Ia harus bisa memahami bagaimana kondisi ekonomi keluarganya, dan ia harus bisa memahami keadaan dirinya yang menjadi tulang punggung keluarganya itu.

“Aku tak akan pernah menyerah. Aku akan berusaha sekuat tenaga. Bagaimana pun kondisi ku, aku harus berprestasi dan imanku haruslah kuat dan kokoh. Hidupku keras, tak semudah orang lain yang hidupnya serba berkecukupan” gumam Hafshah dalam hatinya

Ia teringat akan pesan dari Muhammad bin Al Hasan bin Abdullah dalam syairnya.

Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. Jadilah hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna.

Knalpot bus mengepulkan asap ke udara. Pagi ini polusi sudah memadati kota Jakarta. Jarak yang ia tempuh cukup jauh. Gedung gedung pencakar langit menjulang tinggi ke atas hamparan berwarna biru itu. Salah satunya adalah gedung kampus Hafshah yang sangat bergengsi di Kota itu.

“Sarah, bagaimana dengan persiapan ujiannya? Sudah berapa persenkah?”tanya Hafshah.

“Wah,aku belum mulai menghafal Shah! Waktu kita kan masih panjang Shah. Jangan terlalu cemas.” ujar sarah.

“Oh iya, makasih ya Sarah.” ujar Hafshah.

“Sama-sama.”jawab Sarah.

Hafshah memiliki waktu tak seluas teman-temannya. Terkadang ia membayangkan betapa senangnya memiliki hidup seperti mereka. Tapi pikiran itu tak akan lama bersarang di kepala Hafshah, karena ia tahu bahwa yang diberikan oleh Nya ialah yang terbaik. Sepulang dari rumah ia tidak bisa bermain sejenak saja. Ia harus melanjutkan pekerjaannya. Melanjutkan menjahit pesanan. Jumlahnya tak sedikit. Waktu luangnya ia habiskan di atas meja cokelat tua yang ia gunakan untuk menjahit.

Berbagai kegiatan ingin ia ikuti, akan tetapi mengingat waktu yang harus ia bagi seketat mungkin itu hanya menyisakan waktu sedikit, mustahil ia bisa menggunakannya untuk kegiatan lain. Ia biasanya menggunakan waktu itu untuk belajar dan beristiahat. Keadaan ekonomi yang memaksanya demikian.

“Hafshah kamu hebat ya! Kamu bisa mengetahu semua berita yang ada. Kamu seperti google berjalan saja. Bagaimana kamu bisa mengetahui sejarah sejarah yang fenomenal itu?” tanya Laras.

“Alhamdulillah Ras,tapi aku biasa biasa saja. Biasanya aku melihat berita itu dari koran bekas Ras.”

“Ah,kamu terlalu tawadhu, aku juga harus lebih rajin untuk membaca berita.”gumam Laras.

Mendengar kalimat itu Hafshah pun terkejut. Ia  beristighfar di dalam hatinya. Kata kata itu seperti madu yang penawar racun bersifat sementara akan tetapi seperti cambukan yang membekas selamanya. Itu pujian yang menyakitkan. Ia teringat kata kata seorang ustad,beliau biasa dipanggil dengan Buya Ahmad. Beliau mengatakan “Orang orang yang merasa dirinya tawadhu’ itulah orang yang paling sombong.” Ia takut pujian itu membenamkan dirinya pada dunia yang fana ini.

“Aku tidak bersifat tawadhu Ras,dan aku bukanlah masuk dari kategori orang yang bersifat tawadhu. Aku berbicara sejujurnya Ras”senyum Hafshah merekah.

“Baiklah Shah. Setelah waktu kuliah berakhir, apa kamu memiliki waktu yang luang?” tanya Laras.

“Wah, sepertinya sekarang aku tidak memiliki waktu luang Ras. Aku harus membantu Ibuku dirumah. Maaf, Ras. Jikalau aku memiliki waktu Insyaallah akan aku temani” ujar Hafshah.

“Ah,tidak apa apa kok Shah! Aku hanya ingin membawa kamu ke rumah aku” sahut Laras.

“Insyaallah akan ada waktu yang tepat agar aku bisa berkunjung ke rumah kamu Ras” jawab Hafshah.

“Baiklah,akan aku tunggu waktu yang tepat itu Hafshah” ujar Laras.

Diam-diam Laras mengagumi sifat kemandirian dan sifat ketegaran yang dimiliki oleh Hafshah. Sebenarnya ia mengetahui  apa yang dikerjakan oleh Hafshah di rumah selama ini. Ia sangat bangga memiiki teman yang hebat dan teman yang sesholehah Hafshah ini. Tidak mudah untuk membagi waktu yang sempit itu.

“InsyaAllaah, aku mau ke perpus dulu Ras. Kamu mau ikut dengan ku?” tanya Hafshah.

“Maaf,aku mau ke laboratorium Shah.” jawab Laras.

“Baiklah. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.”

“Waalaikumusssalam warahmatullah wabarakaatuh.” Senyum Laras yang indah merekah dibalik cadar yang ia kenakan.

Di sepanjang perjalanan menuju Perpustakaan Internasional yang terletak di kampus UGM yang megah, Hafshah memperhatikan tumbuhan yang selalu tunduk kepada Sang Khaliq. Hafshah mengingat betapa lemah dan hinanya dirinya. Ia tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan izin Nya. Sedikit cobaan yang diberikan kepada Sang Khaliq ia sudah mengeluh. Ia beristighfar sepanjang jalan, mengingat betapa dekatnya ajal yang kita tak ketahui kapan waktunya datang dan mengingat dosa yang telah ia perbuat.

“Aku harus kuat. Sekuat hatinya Sayyidatina Khadijah, sebening prasangka Fathimah ra, selembut nurani Asiah istri Fir’aun, dan sekokoh pendirian Bilal Bin Rabbah.”gumam Hafshah dalam hati.

Ia hanya bisa meminjam buku yangia inginkan bahkan yang ia butuhkan di perpustakaan. Ia tak memiliki uang yang cukup untuk membeli buku. Kesempatan untuk membaca buku biasanya ia selipkan dalam pekerjaan yang rumit dan butuh ketelitian itu. Ia tak ingin kesedihannya itu diketahui orang. Cukup baginya permasalahan yang ia alami sebagai ujian dari Allah SWT, ujian kehidupan yang hasilnya adalah lapor yang kekal abadi. Cukup ia saja yang merasakan bagaimana kepedihan yang menghinggap pada dirinya setiap merasakan hal itu. Tapi ia takkan pernah merasa sedih selama dihatinya terselip cahaya keimanan yang akar nya itu menghujam kedalam hatinya.

“Assalamu’alaikum Hafshah” ujar Sarah membuyarkan lamunan Hafshah.

“Waalaikumussalam Sarah, dari tadi disini?” tanya Hafshah.

“Iya, aku ingin melihat lihat buku saja, aku melihat kamu sembari tadi melamun, apakah ada masalah yang menghidap kedalam hatimu? Kalau ada, kamu bisa bercerita kepadaku, Insyaallah aku akan menjadi pendengar yang baik untuk mu dengan izin-Nya” ujar Sarah menawarkan diri.

“Ah,bukan. Tadi itu hanya kebetulan kok. Kamu ada ada saja Sar” ujar Hafshah.

Sebenarnya Hafshah ingi berbagi cerita kepada teman temannya. Ia ingin menanyakan kepada teman-temannya apa yang mereka lakukan jikalau mereka menghadapi seperti apa yang dihadapi olehnya. Pikiran yang terlintas sekejap itu langsung ia buyarkan karena ia yakin sebaik-baik teman untuk bercerita ialah Allaah SWT.

“Mungkin itu hanya firasatku saja. Kamu sangat rajin Hafshah, aku salut dengan kerajinan dan kebaikan budi luhur pekertimu” puji Sarah.

“Ah, Sarah! Kamu selalu mengatakan yang tidak-tidak tentang diriku” ujar Hafshah.

“Itu pendapatku mengenai dirimu Hafshah, aku bebas menyampaikan pendapatku” ujar Sarah.

“Baiklah Sarah, semoga perkataanmu menjadi do’a. Aamiin yaa Rabbanaa.”

“Aamiin Yaa Allaah. Petugasnya sudah mulai membersihkan ruangan ini. Bagaimana kamu masih mau berlama lama disini Shah?” tanya Sarah.

“Iya,aku duluan ya. Assalamu’alaikum Hafshah.”

“Waalaikumussalam Sarah,hati hati” jawab Hafshah.

Matahari mulai condong ke barat. Cahayanya sudah mulai menghilang. Hafshah pun bersegera meninggalkan kampusnya. Ia teringat pekerjaannya dirumah yang sudah menumpuk. Ia takut ibu akan marah kepadanya. Ia berharap ibunya bisa memahami kondisinya saat ini.

“Assalamu’alaikum” ucap Hafshah tatkala ia membuka pintu rumahnya.

“Waalaikumussalam, Kakak!” celetuk adiknya yang bernama Sofia.

“Apa kabar adikku  tersayang?” tanya Hafshah kepada adiknya.

“Alhamdulillah, Kak! Aku baik Insyallah. Kakak pasti letih kan? Aku sudah menyiapkan es jeruk spesial untuk kakak yang sangat kucintai ini” kata Sofia yang memiliki bola mata berwana cokelat.

“Tidak, Dik. Ini karena Adik terlalu cemas dengan kondisi Kakak. Kakak tidak merasakan kelelahan sedikit pun Dik” tukas Hafshah kepada adiknya.

“Habis darimana saja kamu Hafshah? Lihatlah pakaian menggunung! Kamu selalu saja terlambat pulang. Apa yang kamu lakukan saat kuliah? Apa kamu tidak mengingat bagaimana kondisi keluarga kita? Cepat selesaikan pekerjaanmu!”bentak Bu Nimar kepada Hafshah.

“Maafkan Hafshah Bu! Hafshah tidak melakukan hal yang aneh saat kuliah. Hafshah hanya menuntut ilmu dan mengunjungi perpustakaan untuk meminjam buku yang akan digunakan saat ujian Bu. Hafshah tidak bermaksud untuk melalaikan tugas Hafshah Bu. Sungguh Bu!” ujar Hafshah. Ia menahan buliran air matanya agar tidak terjatuh.

“Cepat selesaikan jahitanmu Hafshah!” perintah Bu Nimar.

“Baik,Bu.” ujar Hafshah.

Rasa lelah bercampur dengan rasa kesedihan yang mendalam itu selalu hinggap dalam hatinya. Ia teringat kepada ayahnya. Ayahnya yang selalu membahagiakan keluarganya, yang selalu memberikan masukan, nasihat,dan motivasi untuk dirinya. Dia begitu merindukan sosok ayah yang selalu hadir dalam kehidupannya. Semenjak tragedi itu, ibunya berubah. Tragedi yang selalu terbayang dalam fikirannya. Ayahnya meninggal disaat shalat disebuah mesjid. Ayahnya meninggal karna dibunuh oleh orang yang tak dikenal. Sampai saat ini keluarganya tak mengetahui apa penyebab ayahnya dibunuh. Bukan hanya itu, perusahaan ayahnya juga bangkrut karena ditipu oleh pemegang saham lain. Semenjak itulah luka yang mendalam tersimpan dalam detakan qalbu sang Ibu. Tapi Hafshah takkan pernh menyerah. Ia selalu ingin membahagiakan dan berbakti kepada orang tuanya. Sifat ibu yang berubah drastis itu tidak membuat nyalinya ciut untuk menghidupi keluarganya.

“Andaikan Ayah masih ada, Ibu pasti takkan bingung memikirikan keadaan keluarga saat ini. Senyuman Ibu sangat kurindukan,tawanya, candaanya, hirauannya. Betapa aku merindukan sosok mu yang dulu Ibu. Aku takkan pernah menyesali keadaanku saat ini,aku tak akan pernah membangkang kepadamu Ibu, karna engkau Bidadari Surgaku Ibu. Ku sangat mencintaimu,cinta yang dibalut perasaan nurani dari bathin yang Allah meridhai cintaku kepadamu. Aku sangat mencintai mu Ayah. Aku akan selalu mendokanmu. Aku begitu merindkanmu, bagaikan bulan yang selalu membutuhkan cahaya matahari untuk menerangi bumi.”gumam Hafshah dalam hatinya.[]

bersambung…

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: