Cinta Dunia Takkan Selaras Cinta Akhirat #2

seri pertama baca di sini!

Matahari malu-malu menampakkan diri, bertasbih kepada-Nya. Hafshah senang berjalan di pagi hari yang sejuk. Ia ingin melangkahkan kakinya ke tempat yang penuh dengan keilmuwan,yang diisi dengan pengetahuan. Ia ingin pergi ke kampus. Hari ini, tidak seperti hari yang sebelumnya, ibu tidak membentaknya dan tidak menyuruhnya untuk menjahit pakaian. Ia sangat senang pagi ini. Ia bisa melihat ibunya tersenyum dengan indah. Alangkah indahnya hidupnya jikalau ia selalu mendapatkan senyuman yang tulus itu dari seorang Ibu. Sambil berjalan ia mengulang hafalan Al Qur’an yang ia hafal.

“Hafshah!” sapa Sarah.

“Iya Sarah, kenapa kamu jalan kaki? Bukankah biasanya kamu diantar, Sar?”tanya Hafshah.

“Ah! Tidak apa kok. Aku ingin menikmati udara pagi ini” jawab Sarah.

“Alhamdulillah. Sarah kamu tidak malu memiliki teman seperti aku?” tanya Hafshah lagi. Pertanyaan yang selalu mengganggu hati dan pikirannya. Pertanyaan yang sejak jauh hari ia simpan, yang baru hari ini berani ia utarakan.

“Kenapa aku harus malu memiliki teman yang lembut nurani nya, halus tutur bahasanya? Kenapa aku harus malu? Justru pertanyaan yang kamu lontarkan tadi aku tanyakan kembali padamu, Hafsah!”sahut Sarah.

“Bukan begitu Sarah, aku serius! Aku ini teman mu yang tidak sekufu’ dengan teman temanmu yang lain. Aku selalu tertutup tentang diriku, aku tidak bisa menyediakan waktu untuk memberimu solusi dalam suatu permasalahan. Aku tak mampu menyediakan kesempatan kepadamu. Maafkan aku selama ini Sarah.”

“Kenapa kamu berbicara seperti itu Hafshah? Sungguh aku bangga memiliki teman sepertimu. Bagaimana pendapatmu jikalau ada dua sekawan dan orang yang ketiganya Allah? Bagaimana Hafshah? Tidak ingatkah kamu dengan kalam-Nya? Innamal mu’minuna ikhwah. Begitulah Allah mengajarkan kita untuk menjaga ukhuwah.”

“MasyaAllah! Maafkan aku selama ini Sarah! Aku telah menjauhimu sebisa diriku. Maafkan selama ini aku tak bisa menjalankan wahyu-Nya itu. Aku berusaha untuk menyelesaikan masalahku ini dengan seorang diri. Tapi aku tak sanggup,Sarah. Hatiku kecut untuk memendam itu semua. Maukah kamu mendengarkan cerita ku sesungguhnya?” tanya Hafshah pagi itu.

“Wahai sahabat surgaku, aku akan menyediakan waktuku untukmu. Aku akan berusaha menasihatimu dikala sifatmu tergores. Begitu juga dengan diriku, nasihatilah pula diriku. Berceritalah Hafshah! Akan kudengar kau sebagai sebaik-baik sahabat yang mendengar.”

“Kan kuceritakan permasalahan ku ini kepadamu, aku harap kamu bisa menjaganya. Karena aku tak ingin ada orang selain dirimu yang tahu”ujar Hafshah

“Akan kucoba, Hafshah. Itu sebuah amanah untuk diriku.”sahut Sarah.

“Aku memiliki masalah dalam keluargaku Sarah. Sebagaimana yang kamu ketahui, ayahku telah meninggal disaat aku menyelesaikan sekolah menengah. Lalu sifat Ibuku berubah drastis. Sangat drastis. Aku tidak mengerti mengapa. Akhirnya aku menyimpulkan bahwa Ibuku memutuskan untuk mendidikku seperti itu.Aku merasakan bagaimana kerasnya hidup.

Aku sudah biasa dibentak oleh Ibuku karna aku terlambat pulang. Aku tak pernah melakukan hal-hal yang aneh Sar, aku hanya berniat untuk menuntut ilmu. Sungguh, tak ada yang lain. Ibuku selalu tidak suka jikalau aku terlalu banyak belajar. Bahkan waktu yang kumiliki untuk belajar sangatlah minim, Sar. Terkadang aku sangat ingin menjadi seperti dirimu! Begitulah keadaan diriku Sar, aku telah mencoba untuk tidak membicarakan kepada orang lain, aku telah berusaha sekuat tenagaku Sar. Akan tetapi kekuatanku hanya sampai ini, aku tak bisa menahannya Sar. Terimakasih selama ini kamu menjadi teman terbaikku.” cerita Hafshah. Bebannya telah tertuang sedikit demi sedikit.

“Masalah yang membebanimu adalah masalahku juga Hafshah. Aku telah membayangkan diriku dan dirimu sebagai satu jiwa. Apabila jiwa yang satu merasakan sakit, yang satu akan ikut merasakannya juga Hafshah. Aku akan membantumu sebisa ku dan dengan izin-Nya.”sahut Sarah.

“Terima kasih, Sar! berdirilah disampingku dalam ikatan ukhuwah,bimbing  diri yang lemah ini,Sar. Saling mengingatkan dalam jalan-Nya.”pinta Hafshah.

“Sama sama,Shah. Dalam dekapan ukhuwah, aku berusaha untuk merangkulmu, dan dirimu memberikan nasihat terhadap kesalahan yang telah aku perbuat” ujar Sarah.

“Kamu harus perbanyak bersabar Shah! Sabar tiang semuanya. Dengan bersabar itulah kita bisa menemukan hakikat cahaya-Nya. Kamu jangan pernah sungkan untuk bercerita denganku, karena aku dan kamu itu satu jiwa, dan yang ketiganya ialah Allaah.”ujar Sarah.

“Iya, InsyaAllah, Sar.”ujar Hafshah.

Bercerita adalah salah satunya cara untuk mengungkapkan perasaan yang sedang dialami. Hafshah telah berusaha untuk menceritakan masalahnya kepada sahabatnya. Ia memutuskan akan selalu berusaha untuk memperbaiki dirinya, memuhasabahi dirinya.

Matahari telah beranjak. Alunan terbang burung yang indah menghiasi langit. Di sudut kota, Hafsah, wanita yang berkerudung biru dan memakai gamis berwarna putih berjalan bergegas. Pandangannya lurus. Ia memiliki wajah yang cerah dan sinarannya bak cahaya matahari. Ia dikejar oleh waktu. Ia tak ingin membuat ibunya kecewa. Ia sangat menyayangi ibunya.

Hafshah berjalan lurus. Ia tak melihat ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang. Tubuhnya terlindas. Pendarahan yang serius menghantam kepalanya. Ia tak sadarkan diri. Masyarakat sekitar membawa Hafshah ke rumah sakit.

Kabar yang satang seperti halilintar menderu di hati Ibu. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Ia menyesal terhadap apa yang dilakukannya selama ini. Yang ia lakukan selama ini adalah salah. Ia selalu menyiksa anaknya itu. Ibu macam apa dirinya ini. Ia bergegas menuju rumah sakit dengan perasaan yang sangat sedih. Akankah ia bisa melihat anak yang sangat ia cintai terebut ataukah ia harus mengikhlaskan apa yang telah terjadi pada anaknya tersebut? Ia hanya bisa berdoa kepada Allah.

“Maaf, anda ibunya Hafshah?” tanya suster.

“Iya suster.”

“Anak anda akan segera di operasi.”

“MasyaAllaah lakukan dengan sebaik mungkin Sus.”

“Kami akan mengusahakan sebisa kami Bu.”

Yang ia lakukan saat ini hanyalah berdoa dan berzikir. Agar anaknya yang sangat ia cinta di beri kekuatan. Ia menyesal terhadap apa yang telah di lakukannya selama ini. Yang ia lakukan selama ini adalah pelampiasan rasa kekecewanya terhadap harta yang telah ditinggalkan almarhum ayahnya. Ia teringat nasihat seorang ustad “Cinta Dunia Takkan Selaras dengan Cinta Akhirat”.

Selama 3 jam operasi berjalan. Alhamdulillaah operasi berjalan dengan lancar. Ibu berjanji bahwannya tidak akan menyakiti anaknya Hafshah.

“Hafshah,maafkan ibumu yang selalu menyakitimu,yang selalu menghalangimu. Ibu sangat menyesal Nak,Ibu sangat menyayangimu sungguh. Jangankau tinggalkan Ibumu nak. Maafkan ibu.”pecah tangis Ibu.

“Ibu,Hafshah sangat sayang kepada Ibu,sungguh Bu.”

“Hafshah,kamu sudah sadar Nak?”

“Alhamdulillah Ibu,maafkan selama ini Hafshah sering membuat Ibu kecewa.”

“Kamu jangan minta maaf Nak,Ibu yang semestinya harus minta maaf,maafkan Ibumu yang tak pantas ini Nak.”

“Ibu,Ibu tak ada memiliki kesalahan apapun Ibu,apa yan Ibu perintahkan kepadaku itu semuanya ada hikmahnya Bu,sungguh Bu. Aku sangat mencintaimu Bu. Sungguh Bu.”

“Terimakasih Nak,terimakasih.”

“Sama sama Ibu.”

“Terimakasih kamu sudah menjadi anak yang sangat penyabar dan sangat membanggakan Nak.”

“Terimakasih Bu,Engkau sudah mengajarkan kepadaku hakikat hidup sebenarnya. Mari kita sama sama meraih cintaNya,dan menebarkannya dalam dekapan kebersamaan kita Ibu.”

“Kamu harus kuat Nak,kamu tak boleh rapuh. Banyak zikir. Ibu yakin kamu kuat  Nak.”

“Ibu,aku ingin menjadi anak yang berbakti di dunia dan di akhirat padamu Ibu,aku ingin engkau ridha padaku Ibu,oh Ibu jika engkau adalah matahari,aku tak ingin datangnya malam hari,jika engkau adalah embun aku ingin selalu pagi hari. Ibu,durhakakah aku,jika ditelapak kakimu tidak aku temui surga itu?”

“Kamu sudah lebih dari apa yang Ibu inginkan Anakku,kamu adalah anak yang shalehah yang akan menjadi penjamin bagiku di akhirat nanti wahai kekasih hatiku.”

“Ibu,engkaulah penyemangat hidupku.”

“Terimakasih Anakkku.”

“Ibu,bacakanlah Al Qur’an di sisiku Ibu,aku ingi beristirahat Ibu.”

“Istirahatlah Nak,tampaknya kamu lelah sekali,Ibu akan membacakan Al Qur’an untukmu Nak.”

“Terima kasih Ibu,bantulah aku untuk melafadzkan kalimat thayyibahNya Bu,aku telah melihat ada yang akan menjemputku Bu,ikhlaskan aku Bu.”

“Ibu,aku memiliki wasiat Bu.”

“Apa itu Nak?”

“Ibu jangan sedih kehilangan aku Bu,ibu harus kuat dan tabah sebgaiamna kehilangan Ayah dahulu Bu,dan Ibu harus mengamalkan nasihat Cinta Dunia Takkan Selaras dengan Cinta Akhirat Bu ia memiliki makna yang sangat dalam Bu.” Ujar Hafshah

“InsyaAllaah Nak.”

Mendengar kata kata yang terurai dari mulut anaknya,ia merasa rapuh. Seakan akan bumi ini berguncang,bergetar hebat. Tapi taqdir siapa yang bisa menolak.

“Laa ilaha illallaah.”

“Laa ilaha illallaah.”

Air mengalir deras turun ke bumi. Seakan akan bumi menangisi kepergian Hafshah.Walau wasiat itu telah Hafshah berikan,Ibu tak mampu menahan Sedihnya dan tak mampu menahan air matanya. Ibu berjanji kepada dirinya sendiri agar ia bisa mengamalkan “Cinta Dunia Takkan Selaras dengan Cinta Akhirat.”

Alhamdulillah cerpen yang penulis tulis telah selesai dengan izinNya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari cerpen tersebut.

END

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: