Desekularisasi Ulama

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti perbincangan yang menarik dalam grup WhatsApp forum surauparabek.com. Tema yang diperbincangkan ketika itu adalah tentang keulamaan; apa dan bagaimana seharusnya seorang ulama.

Dalam perbincangan itu, saya menangkap kesan bahwa idealitas ulama diukur dengan profil ulama pada zaman dahulu, abad 18-19 atau lebih ke belakang lagi. Pemahamannya tentang  ilmu alat adalah perioritas,  dan keterlibatan dalam urusan-urusan di luar itu dikesampingkan. Dalam kata lain, seorang ulama harus ekslusif dengan ilmu-ilmu itu, dan terpisah dari ilmu-ilmu lainnya.

Percakapan itu sedikitnya mengelitik saya. Membicarakan itu setidaknya kita harus melihat ke belakang, bagaimana sebetulnya Islam itu lahir dan dikembang oleh Rasulullah.

Hemat saya, kehidupan dari generasi dahulu sampai ke generasi yang ada sekarang substansinya sama. Situasi temporalnya yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, idealitas ulama saat ini bisa kita refleksikan dari sejarah. Mari kita cek sepintas bagaimana kemunculan Islam dalam konteksnya.

Islam lahir sebagai sebuah pembebasan terhadap penistaan terhadap nilai-nilai, baik ilahiah dan kemanusian.  Penistaan yang masif inilah yang akhirnya mejadikan bangsa Quraisy disebut dengan jahiliyah.

Bangsa Quraisy mendiami teritorial dengan yurisdiksi  yang berlaku ketika itu. Mereka mampu memainkan peranan politis yang baik ditengah kekuasaan dua negara adi daya, Persia dan Romawi.  Bangsa Quraisy yang miskin dengan sumber daya alam, berhasil eksis dalam percaturan perdagangan dunia internasional.

Kabilah-kabilah perdagangannya menembus beberapa.  Mekkah menjadi kota religi yang setiap tahunnya dikunjungi oleh berbagai kabilah Arab yang menjadi perputaran uang yang sangat besar setiap tahunnya. Kemampuan diplomasinya sangat diakui. Efek domino dari itu semualah yang menjadikan mereka dikenal dengan bangsa yang sangat hedonis dan meneyampingkan nilai-nilai humanisme.

Kedatangan Islam akhirnya merubah itu semua. Islam melahirkan kader-kader yang luar biasa. Generasi Assabiqul awwalun, menurut hemat saya, merupakan  prototipe ulama yang dibutuhkan. Tidak ada dikhotomi keilmuan ketika itu. Sebutlah misalnya, Abu Bakr ahli  tata negara dan pemerintahan, pengusaha dan ulama. Abd al-Rahman bin Auf, ulama dan seorang pengusaha. Ustman bin Affan. Khalid bin Walid, ulama dan seorang ahli  militer.

Jika kita tarik ke konteks Islam di Indonesia, kita juga melihat kenyataan yang sama. Kedatangan Islam ke Indonesia dibawa oleh para ulama yang sekaligus aghniya, para saudagar. Karena itu, rasanya jauh tertinggal ke belakang, jika ulama dikotakkan ke dalam keilmuan keagamaan semata. 

Pendikotomian ini  sebetulnya adalah akibat pertarungan kekuasaan dalam menguasai sumber-sumber daya dalam konteks pergeseran pandangan dunia yang materialistik . Penguasaan alat-alat produksi oleh mereka-mereka yang memiliki modal yang kuat sedemikian rupa merancang cara agar terjadi pemisahan antara agama dan negara.

Karena itulah setidaknya  apa yang di kemukan oleh Ali Syariati perlu menjadi sebuah pemikiran untuk kembali menjadikan Islam bahagian yang terintegrasi antara satu dengan lainnya; Islam mencakup bidang-bidang keduniaan, mental, dan sekaligus ketuhanan. Dengan demikian teologi (Tauhid) memiliki fungsi vital dalam pemikiran umat Islam, dalam lembaga-lembaga sosial politik Islam, dan dalam peradaban. Tauhid haruslah bermakna penyatuan atau kesatuan antara dimensi transenden (spiritual) dan imanen (sosial).

Antara realitas ilahiyah yang transenden dengan realitas alam dan manusia yang imanen tak ada keterpisahan yang kaku sehingga harus diposisikan secara biner. Secara universal, seluruh aspek kehidupan sosial Islam harus diintegrasikan ke dalam “jaringan relasional Islam”. Jaringan ini diderivasikan dari pandangan dunia Tauhid, yang mencakup aspek keagamaan dan keduniawian, spiritual dan material, individual dan sosial. Jaringan relasional Islam ini akhirnya teruji dalam bentuk praksis ibadah ritual yang merupakan kewajiban yang mesti dijalankan oleh umat Islam.[]

Baca juga:  Selamat Natal tentang Sejarah Indonesia

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: