Detik-detik Kepergian Syaikh Ibrahim Musa

Syekh Ibrahim Musa merupakan tokoh ulama Sumatera Barat yang terkemuka di era 1900-an. Beliau dilahirkan pada tahun 1882 M dan wafat di usia kurang lebih 82 tahun pada hari Kamis, malam jum’at 25 Juli 1963 M. Ayahnya juga merupakan tokoh ulama yang bernama Syekh Musa dan ibunya bernama Uraih. Dengan latar belakang tersebut, dimaklumi jika semenjak kecil orangtuanya sudah menanamkan nilai-nilai Islam ke dalam dirinya. Setelah belajar kian kemari ke sejumlah ulama di Minangkabau, ia bertolak ke Makkah untuk memperdalam ilmunya.

H. Naswir, sebagai salah satu warga Parabek yang pernah bertemu langsung dengannya bertutur bahwa Syekh Ibrahim Musa dikenal dengan sifatnya yang baik hati, lembut, tegas, murah senyum, selalu bersuara halus dan tidak pernah bersuara keras. Beliau adalah panutan bagi masyarakat Parabek dan sekitarnya. Cerita H. Naswir dibenarkan oleh Hj. Faridah Hanim, salah seorang cucu Inyiak Parabek. Ketika bercerita tentang Inyiak Parabek, salah satu memori yang beliau simpan adalah detik-detik berpulangnya Inyiak ke Rahmatullah.

Hj. Faridah Hanim menceritakan secara detail bahwasannya Inyiak sudah lama mengalami masalah buang air besar. Pagi itu, tanggal 25 Juli 1963, beliau masih bisa melakukan aktifitas seperti biasa.Beliau mandi dan pergi ke belakang rumah dekat kolam untuk menghirup udara segar. Di sana, beliau saling bertegur sapa dengan masyarakat Parabek yang lewat.

Di waktu Zuhur, seperti biasa, Inyiak melaksanakan shalat di rumah dan mengadakan pengajian bersama para guru Madrasah di rumahnya. Ust. Zakiruddin menceritakan apa yang ia dengar dari Inyiak H. Abdul Ghaffar, bahwa beliau tetap bersemangat mengajar seperti biasa. Para guru Madrasah yang sedang menunggui Inyiak mulai terkejut karena tiba-tiba Inyiak bangun dan duduk bersandar bantal. Akan tetapi, Inyiak masih melanjutkan aktifitas mengajarnya. Kitabuzzakah!”, tuturnya, sebagai isyarat bahwa yang akan dibahas ketika itu adalah tema zakat. Beliau menjelaskannya dengan bahasa Arab yang fasih. Sesekali beliau bertanya, “fahimtum?”

Hanya saja, ketika Ashar, badan Inyiak mulai lemas. Beliau mulai merasa kesulitan untuk melaksanakan shalat. Ketika itu, beliau didiktekan oleh salah seorang guru Madrasah. Sebelum Maghrib, Hj. Faridah Hanim menyuapkan bubur untuk beliau. Akan tetapi, setelah itu kondisi beliau semakin melemah. Masyarakat Parabek, pemuka-pemuka masyarakat, dan lain-lain berbondong-bondong mulai mendatangi rumah Inyiak.

Hj. Faridah berkata bahwa saat itu ia duduk di samping Inyiak bersama beberapa orang lainnya. Ada Inyiak Danang, Inyiak H. Abdul Gafar, Nenek Jawa, Izzati dan Safrida . Beliau membacakan surat Yasin sampai pertengahan ayat dan dilanjutkan oleh Bapak Ghazali dari Kapeh Panji hingga akhir surat.

Seketika beliau membaca lā ilāha illallāh, mengucap takbir dengan cukup lantang, dan mengatur posisi lipatan tangannya sendiri. Ia bersedekap seperti sedang shalat. Kira-kira pukul 09.20, beliau pulang ke hadirat Allah. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Inyiak meninggal dalam keadaan husnul khatimah, diiringi isak tangis oleh seluruh kalangan ulama, pemuka masyarakat, guru-guru Madrasah, masyarakat Parabek yang mencintainya. Semoga ilmu-ilmu yang sudah Inyiak turunkan kepada kita para penerusnya selalu menjadi amal jariyah untuk beliau. Aamiin aamiin ya rabbal ‘aalamiin.[]

Rahmi Edriyanti

adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Saat ini merupakan mahasiswa Master Ekonomi International di Islamic University Malaysia

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: