Dilema dalam Berdakwah

Dakwah merupakan suatu metode penyebaran agama yang sangat efektif dilakukan untuk menarik kembali sisi-sisi kerohaniaan dari masyarakat. Dari masa ke masa dakwah itu sendiri memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam. Baik di tanah kelahiran para nabi sampai negeri nusantara, dakwah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menarik simpati adan empati masyarakat tentang keagamaan.

Secara umum dakwah dibagi menjadi dua kategori, yaitu dakwah dengan lisan dan dakwah dengan tulisan. Dakwah dengan lisan adalah kategori dakwah yang paling populer dan lebih digandrungi oleh masyarakat karena hanya cukup mendengarkan apa yang disampaikan oleh seorang da’i atau penceramah. Karena kelebihannya tersebut dakwah secara lisan lebih sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Ada yang berupa ceramah agama di televisi, masjid, bahkan sampai ke hal-hal sederhana seperti nasehat orang tua kepada anaknya.

Konten dari dakwah berbentuk lisan ini pun bentuknya sederhana dan berkaitan dengan permasalahan sehari-hari. Lebih cenderung mengajarkan akhlak dan budi pekerti.
Berbeda dengan dakwah secara lisan, dakwah secara tulisan biasanya hanya digandrungi oleh beberapa kalangan. Pada umunya dakwah dengan metode ini dilakukan oleh kalangan terpelajar, beberapa golongan muballigh, dan ulama-ulama besar yang ingin mengabadikan pendapatnya lewat tulisan.

Meskipun dakwah secara tulisan ini tidak sebanyak peminat dakwah secara lisan, namun dakwah dengan metode ini mampu bertahan lebih lama. Karena isi dari dakwah itu sendiri dapat diabadikan lewat tulisan sehingga memiliki peluang yang besar untuk sampai ke generasi selanjutnya dan menyebar lebih luas.

Di sisi lain, umat Islam memiliki tantangan dakwah yang berbeda di setiap generasinya. Menyampaikan apa yang patut dan wajib diketahui oleh masyarakat umum dan awam oleh seorang muballigh tidaklah mudah. Pemahaman dan wawasan yang tinggi serta basic yang kuat dalam agama merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki seorang muballigh dalam menyampaikan ajaran Allah.

Maka dalam zaman modern seperti saat ini, berdakwah menjadi lebih mudah dan terkadang dimudah-mudahkan. Banyak orang yang dapat menyampaikan aspirasi maupun pendapatnya secara global tanpa landasan dan anpa pengetahuan tentang permasalahan yang ia sampaikan. Akhirnya muncullah para muballigh yang hanya bermodalkan gadget tanpa basic agama yang jelas.
Ilmu memiliki posisi yang tinggi dalam Islam. Allah membedakan orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu, dan meninggikan derajat mereka yang berilmu di atas orang-orang yang tidak berilmu.

Secara logika, tidak mungkin suatau pendapat dapat dipertanggungjawabkan oleh seseorang yang bahkan tidak paham dan tidak memiliki ilmu tentang hal tersebut. Bagaimana mungkin seseorang dapat menjelaskan buah apel jika ia belum pernah melihat dan belum mengetahui apel sebelumnya. Tentu saja pernyataan orang seperti ini tidak bisa dipertanggungjawabkan dan dibuktikan kebenarannya.

Masalah dakwah yang lebih dimudah-mudahkan ini tentu saja ada kaitannya dengan masalah ilmu yang setengah-setengah dan tanpa landasan. Contohnya saat ini banyak muslimah yang menggunakan kerudung sesuai dengan trend busana tanpa memperhatikan bagaimana tuntutan syari’at. Menjadikan kerudung sebagai trend busana tersendiri tentu saja juga menjadi peluang dakwah yang sangat besar untuk memantik para muslimah yang belum berkerudung menjadi lebih tertarik untuk menggunakan kerudung.

Namun di sisi lain, kerudung yang dijadikan trend busana menjadi longgar akan nilai-nilai agama. Maka adalah hal yang wajar jika hari ini ditemukan para muslimah yang asal berkerudung. Berkerudung dengan baju yang ketat, berkerudung dengan pakaian yang transparan, atau berkerudung dengan rambut yang terlihat.

Di sisi lain ada orang-orang yang menggunakan kerudung sesuai tuntutan syari’at, tapi dengan mudah menyatakan orang-orang yang tidak berkerudung telah melakukan hal haram dan melanggar perintah Allah sehingga ditakut-takuti dengan neraka. Hasilnya orang yang sama sekali tidak paham dengan agama akan semakin takut dengan golongan tersebut.

Bahkan sebagian orang yang tidak memahami agama akan cenderung menyatakan bahwa orang-orang seperti itu adalah Islam aliran keras, bahkan ada yang menyatakan sesat. Padahal apa yang mereka sampaikan tersebut adalah benar dan sesuai dengan ketentuan syari’at.
Secara umum masyarakat menyukai orang-orang yang bisa menyesuaikan diri dengan zaman. Namun kebanyakan pendapat mereka tidak sesuai dengan syari’at daripada pendapat orang-orang yang dengan tegas menyatakan halal dan haram padahal yang mereka sampaikan sesuai dengan tuntutan agama Islam.

Ketimpangan sosial ini tentu saja terjadi akibat rendahnya pengetahuan sebahagian muballigh tentang agama sehingga menjadi tasaahul dalam urusan agama, sedangkan sebahagian yang lainnya kurang bisa menyesuaikan diri dengan zaman sehingga begitu mudah untuk mengharamkan suatu hal.

Sederhananya ada muballigh yang ajarannya sesuai dengan tuntutan syari’ah tapi caranya dalam menyampaikan ajaran tersebut kurang tepat dan di sisi lain ada muballigh yang ajarannya kurang sesuai dengan syari’at namun cara penyampaiannya dapat mempengaruhi umat.
Maka da’i atau muballigh yang dapat memahami kondisi umat serta dapat berterus terang dalam menyampaikan ajaran agama sangatlah diperlukan.

Hal ini tentu saja untuk memperbaiki kondisi dakwah Islam yang semakin kritis dan semakin membutuhkan kejelasan. Sehingga umat Islam dengan mudah memahami suatu perkara dalam agama secara utuh dan sempurna.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: