Dinamika Intelektual Alumni Sumatera Thawalib Parabek

Sumatera Thawalib Parabek sebagai institusi pendidikan Islam telah memainkan peranan yang cukup besar dalam transformasi dan reproduksi nilai-nilai keislaman di Sumatera barat. Seribuan murid silih berganti menduduki puluhan kelas di setiap tahunnya di sekolah ini untuk mengabdikan diri mereka liyatafaqqahu fiddin.

Doktrinasi ilmu agama disalurkan kepada murid melalui tenaga kerja guru yang umumnya lulusan strata di bidang agama berikut alat bantu berupa buku-buku Islam klasik (dan sedikit buku modern). Fungsi yang dimainkan Thawalib Parabek dapat dihimpun menjadi tiga: transmisi dan transfer ilmu-ilmu Islam; pemeliharaan tradisi Islam; dan mencetak kader ulama (Lihat juga Azra, 2012: 127)

Berbagai perubahan secara konstan telah dilakukan oleh pihak madrasah terlebih pada dasawarsa terakhir. Perubahan tidak saja terlihat dalam urusan infrastruktur melainkan dari segi kurikulum dan metode pengajaran.

Menurut saya, wacana pendidikan makro menjadi salah satu penyebab diupayakannya berbagai pembaharuan dan penyeragaman. Kenyataan ini dapat dilihat dari pengadopsian isi dan metodologi pendidikan umum dalam praktik belajar-mengajar di madrasah.  Usaha ini dimaksudkan agar sekolah menjadi tidak ketinggalan dan tentunya dapat bersaing dengan sekolah-sekolah lain.

Pergumulan pendidikan yang berlangsung di madrasah secara tidak langsung telah membentuk suatu kecenderungan yang selanjutnya menjadi ciri khas bagi madrasah itu sendiri. Jika merujuk pada klasifikasi yang ditawarkan oleh Henry Giroux (Giroux membagi ideologi pendidikan menjadi tiga; konservatif, liberal dan kritis) maka Thawalib Parabek dapat digolongkan sebagai pendidikan yang bergaya liberal (liberal dalam istilah sistem pendidikan).

Ada beberapa karakteristik dalam sistem pendidikan liberal.

Pertama, Madrasah hanya sebatas media dalam mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila, keyakinan, dan nilai dasar. Madrasah, dalam konteks ini, tidak bersangkut-paut dengan gejolak ekonomi, politik, budaya, struktur kelas, dan ketimpangan sosial. Problem masyarakat dan pendidikan adalah dua hal yang berbeda.

Karakteristik semacam ini tergambar dari keindependenan madrasah terhadap wacana-wacana besar yang hangat di masyarakat. Melakukan aktivitas belajar-mengajar di dalam menara gading madrasah dengan setumpuk tradisi tanpa peduli hiruk-pikuk dinamika sosial adalah pilihan yang dipertahankan.

Kedua, di samping hal yang pertama di atas madrasah tetap menyesuaikan pendidikannya dengan keadaan ekonomi dan politik di luar pendidikan. Cara ini tergambar dari pembaharuan demi pembaharuan di bidang infrastruktur dan fasilitas (Gedung, elektronik, media belajar dsb).

Ketiga, madrasah hanya berinvestasi untuk meningkatkan metode pengajaran dan pelatihan yang efisien seperti cara belajar siswa aktif. (Lihat juga John F. Noil dalam Ideologi Pendidikan)

Gaya liberal sebagai pilihan pendidikan yang dipraktikkan madrasah sedikit banyak memengaruhi pola pikir murid terlebih setelah mereka menjadi alumni. Berbagai usaha peningkatan sembari tidak ikut berkubang dalam dinamika sosial itu telah membuat alumni terisolasi dari wacana-wacana yang berkembang di dunia sosial kontemporer.

Tidak heran bila setelah melepas ikatan belajarnya di sekolah, para alumni menjadi canggung. Karena dalam gejolak budaya yang kian ‘tembus pandang’ seperti saat ini para alumni dipaksa untuk membaur dengan banyak kecenderungan yang telah ada. Mereka mau tidak mau harus ikut terlibat dalam pertarungan budaya dan dalam percaturan ideologi-ideologi besar.

Baca juga:  Santri sebagai Pionir dalam Mengatasi Degradasi Moral Generasi Penerus Bangsa di Abad Modern (1)

Adalah suatu keniscayaan jika dalam pertemuan budaya dan dalam pertarungan wacana besar tersebut alumni menjadi terpecah ke dalam berbagai kecenderungan pemikiran. Wujud kehadiran alumni dalam pergulatan pengetahuan tersebut akan menarik diteropong melalui lanskap pemikiran keislaman karena di samping mereka alumni institusi pendidikan Islam, kebanyakan meneruskan pendidikannya di universitas-universitas Islam.

Tentunya hal ini hanya dapat dilihat dari mereka yang melanjutkan pendidikan saja. Selain tidak ingin ambil pusing dengan persoalan pengetahuan, alumni yang tidak meneruskan pendidikan justru tidak terbentur dengan wacana-wacana selain yang diperoleh di madrasah dulu.

Secara garis besar wujud kehadiran alumni dalam pertemuan budaya dan dalam percaturan wacana besar, khususnya dalam pemikiran Islam, juga bisa dilihat dalam tiga kategori: konservatif, moderat dan liberal. Pengklasifikasian ini didasarkan pada corak tulisan yang dimunculkan alumni. Tulisan tersebut bisa berbentuk publikasi ilmiah akademis, artikel di media massa, maupun caption di media sosial (facebook, twitter dan blog pribadi). Corak pemikiran alumni juga dapat dilihat dari budaya keilmuan yang diusung institusi dan daerah tempat alumni melanjutkan studinya. Selain itu kecenderungan pemikiran alumni dapat diketahui melalui kontak antar alumni.

Model berpikir konservatif ini antara lain ditandai dengan kesetiaan kepada garis orbit sekolah meskipun telah meramu dengan pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan. Tokoh-tokoh klasik seperti sahabat dan tabi’in dijadikan sumber utama. Oleh sebab itu, mereka adalah tonggak penjaga tradisi Islam klasik yang saat ini sudah banyak dilakukan revisi. Pengetahuan mereka yang mendalam tentang kitab-kitab klasik dapat dijadikan rujukan untuk mengenal literatur-literatur Islam klasik lebih jauh. Kelompok ini dominan menempuh pendidikan di Mesir, Malaysia, atau di daerah Sumatera.

Kelompok ini begitu keras mempertahankan kebenaran dalam bentuk tunggal dan menyanksikan konsep pluralitas kebenaran. Mereka juga tidak memiliki keterbukaan terhadap perkembangan baru dalam dinamika dan peta pemikiran. Tidak terlihat kecenderungan kritis terhadap konsep-konsep keislaman yang ditelurkan oleh ulama klasik, dan oleh karena itu, sangat kuat mempertahankan status quo, dan cenderung menghindarkan konflik dan kontradiksi.

Model kedua, moderat,  tidak jauh berbeda dengan alumni yang berpaham konservatif, namun mereka  lebih terbuka mengadopsi wacana-wacana keislaman baru. Hal ini dapat kita lihat dalam gaya bahasa yang mereka tampilkan, baik dalam bentuk artikel maupun caption di facebook atau twitter. Meskipun mereka belum berani keluar dari tradisi yang digoreskan oleh madrasah dahulu tetapi dalam praktiknya mereka sudah menggunakan piranti-piranti keilmuan baru termasuk yang agak kontroversial sekalipun. Kelompok ini biasanya menekuni keilmuan di daerah Sumatera, Malaysia dan sedikit di Jakarta.

Di sisi lain terdapat alumni yang merintis tradisi baru dengan menggunakan lanskap pemikiran baru pula, yaitu alumni yang berkecenderungan liberal. Dalam pemikiran mereka, sang waktu telah menyindir orang-orang yang menganut logika final dalam persoalan ilmu pengetahuan. Pengetahuan, sebaik apa pun idenya, terbukti memiliki sifat hakikinya yang terbatas dan menyejarah. Ia lebih tepatnya merupakan bentuk tindakan dialektik terhadap struktur dan praktik sosial pada masa dan ruang tertentu.

Baca juga:  Santri sebagai Pionir dalam Mengatasi Degradasi Moral Generasi Penerus Bangsa di Abad Modern (3)

Oleh sebab itu pengetahuan (agama maupun umum) semestinya bersifat terbuka dan berkembang. Kontinuitas pengetahuan hendaknya dilihat dalam kerangka ‘penjelajahan ilmiah dari satu titik menuju titik lain’ –yang tidak pernah mencapai titik akhir. Pengetahuan, dengan demikian, selalu terbuka untuk dikritik dan atau diperbaharui sesuai perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat.

Alumni yang tergolong dalam kelompok ini tetap menghargai corak pemikiran dalam lingkup madrasah yang masih serupa bahkan hingga saat ini tetapi tidak ingin mengkristalkannya. Praktik keilmuan yang mereka geluti atau yang mereka telurkan telah keluar dari orbit pemikiran madrasah meskipun tetap bersinggungan. Madrasah sendiri barangkali akan memandang mereka dengan cara yang dingin. Tetapi usaha mereka dalam menggali semangat baru, tradisi baru meskipun dengan lanskap pemikiran baru harus dihargai. Barangkali  mereka tidak ingin terjebak dalam kehampaan konsepsi untuk menghadapi berbagai gejolak sosial yang terjadi dewasa ini. Kelompok alumni dengan corak pemikiran liberal seperti ini biasanya telah menempuh pendidikan di daerah Jakarta, Yogyakarta dan Eropa.

Dari uraian di atas kita dapat melihat bahwa setelah enam tahun ditempa di madrasah, dengan segala logika yang dibangun di dalamnya, tidak serta-merta membuat para murid menyatu dalam satu payung pemikiran. Masa menuntut ilmu di sekolah dapat disebut sebagai masa formatif di mana nilai-nilai keislaman yang diterima murid berada dalam proses awal. Pada masa ini guru-guru merupakan patron dan skala kebenaran setiap persoalan. Pada saat yang sama tidak ada budaya kritis. Murid hanya disuap dengan nilai-nilai yang paling baik menurut guru, sedang murid dengan pasrah menerima. Keadaan ini berubah drastis setelah murid menjadi alumni. Alumni tidak lagi terikat pada tradisi dan otoritas tertentu yang berarti. Kenyataan ini menyebabkan alumni bebas untuk mengambil langkah dan membuat pilihan.

Dari data-data sementara yang dapat kita saksikan bersama melalui tulisan ilmiah, artikel di media masa, begitu pun caption di media sosial hasil goresan tangan alumni, kita dapat membuktikan dinamika dan keragaman pemikiran pada alumni Sumatera Thawalib Parabek.

Rahmat Fauzi

Rahmat Fauzi adalah alumnus Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Saat ini adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: