Fathul Mu`in #4: Pengertian Ilmu Fiqh

Syaikh al-Malibariy mendefinisikan ilmu Fiqh dengan ungkapan :

الْعِلْمُ بِالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمُكْتَسَبُ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ

Ilmu tentang hukum-hukum syara’ yang dapat diterapkan secara amaliy tindak-tanduk seorang hamba, yang berdasarkan ilmu tersebut kepada petunjuk syara’ yang terperinci

Definisi yang disampaikan ini sudah jami’ dan mani’. Hampir semua santri dan ilmuwan memperkenalkan Fiqh dengan pengertian seperti ini atau dengan redaksi yang sedikit berbeda namun maksud yang sama. Kata العلم   adalah jinsun (genus) pada definisi, yang dijelaskan dengan fashal (diferensia), yaitu kata الأحكام الشرعية. Ini mengekslusi ilmu-ilmu lain yang tidak membicarakan hukum syar’i yang terapan kedalam bahsan ilmu Fiqh, seperti tafsir al-Qur’an. Bahwa tafsir adalah salah satu ilmu syar’iy adalah benar, akan tetapi karena ia tidak berkaitan langsung dengan perbuatan seorang mukallaf maka tidak termasuk kedalam definisi ilmu Fiqh. Kata  المكتسب adalah na’at dari  العلم yang memberi pengertian bahwa pengetahuan dan ilmu yang dimiliki oleh Allah, para malaikat dan para Rasul tidak termasuk kajian Fiqh, sekalipun juga disebut ilmu, karena kehadiran ilmu seperti itu sudah ada sejak azaliy bagi Allah, tidak menempuh proses ijithad bagi Rasulullah, dan sekalipun Jibril alaihi Salam ilmu yang dimilikinya juga menempuh jalur kasab (diusahakan) yaitu di Lauh Mahfuzh.

Sedangkan teks أدلّتها التفصيلية  adalah khahs pada ta’rif (propium) sehingga menyisihkan ilmu Ushul Fiqh dari pengertian. Karena, sekalipun ilmu ushul fiqh berkaitan langsung dengan perbuatan hamba, namun karena dibangun atas dalil secara global seperti “ada perintah maka maksudnya wajib” maka Ushul Fiqh tidak termasuk kajian Fiqh. Kata التفصيلية  adalah ‘aradh (accidenta) dalam ta’rif. Hampir bisa dikatakan bahwa ta’rif ilmu Fiqh yang ditawarkan ini adalah jami’ dan mani’.

Mempelajari ilmu Fiqh sebagaimana ilmu lainnya jika dengan sebabnya mampu mendekatkan diri kepada Allah maka akan mengantarkan seseorang kederjat yang tinggi, dimuliakan Allah dan didoakan oleh para malaikat. Menjadi fardhu ‘ain mempelajari ilmu Fiqh atas tiap-tiap paribadi tentang hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan kewajiban sehari-hari semisal shalat. Tidak dapat luput kewajiban mempelajari tata cara, hukum dan pembatal-pembatalnya atas semua muslim, orang awam atau bahkan penuntut ilmu. Menjadi fardhu kifayah mempelajari detail-detail ilmu fiqh yang membutuhkan daya nalar dan perangkat ilmu lainnya seperti memahami seluk beluk ibadah haji dengan segala persoalannya. Ini menjadi fardhu kifayah bagi umat Islam, dan fardhu ‘ain atas penuntut ilmu, anak siak atau santri umpama.

Begitu besar faidah mempelajari detail-detail hukum Allah yang ada dalam kitab-kitab Fiqh ini hingga pantas diriwayatkan oleh Imam ath-Thabaraniy dari sanad Abi Salamah bin Abdirrahman bin Auf;

يسير الفقه خير من كثير العبادة

Sedikit memahami Fiqh lebih baik ketimbang banyak ibadah (tanpa Fiqh) (Hadits Hasan Lighairihi, riwayat Imam ath-Thabaraniy)

Maksudnya ibadah yang sedikit diamalkan lantaran masih dalam fase pemahaman dan pendalilan akan lebih bernas ketimbang banyak beribadah tanpa landasan ilmu pengetahuan, karena dengan menempuh proses pencarian dan pendalilan seseorang akan semakin yakin. Dengan demikian peluang setan untuk menyesatkannya semakin berkurang.

Ibnu Raslan bersajak

وكلّ من بغير علم يعمل — أعماله مردودة لا تقبل

Tiap-tiap orang beribadat tanpa ilmu maka kebajikannya tertolak tidak diterima

 وَاسْتِمْدَادُهُ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَالْقِيَاسِ

Penjelasan dari pengarang, huruf واو  zaidah yang tidak membahayakan makna jika tidak dituliskan, jumlah ini adalah jumlah ismiyyah. Ilmu Fiqh mesti merujuk kepada al-Qur’an, as-Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qiyas.

Diksi yang menjadi pilihan kata pengarang adalah al-Kitab. Dalam  syara’ hakikat al-kitab muradif dengan al-qur’an. Jumhur ulama menyepakati bahwa al-Qur’an adalah sumber primer bagi seorang faqih dan ushuliy untuk digali kandungannya sesuai ketentuan dan petunjuk yang benar. Dengan demikian al-Qur’an adalah sumber sekaligus menjadi dalil (petunjuk). Mengenai ta’rif al-Qur’an memang banyak ditemui keragaman redaksi yang dipengaruhi oleh perbedaan pemahaman mengenai كلام الله   itu sendiri, dan cukup dibiarkan saja perbedaan itu, tidak perlu diperdalam karena detailnya tidak memperkaya, dan sebaliknya awam akan hal itu juga tidak berbahaya. Paling tidak kami tawarkan ta’rif yang dikemukakan oleh imam asy-Syaukaniy dalam irsyad al-Fuhul nya ;

الكلام المنزّل على الرسول المكتوب في المصاحف المنقول إلينا نقلا متواترا

Kalamullah yang diturunkan kepada Rasulullah tertulis dalam mushaf-mushaf dan diriwayatkan secaa mutawatir kepada kita

Pengarang berkeyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah sebagaimana keyakinan imam Syafi’iy, imam Ahmad bin Hanbal, imam Abu Hanifah an-Nu’man dan imam Malik bin Anas al-Ashbahy bahwa al-Qur’an adalah kalamullah tidak makhluq dan inilah keyakinan yang benar, berbeda dengan keyakinan mu’tazilah pada saat berkembangnya mihnah khalqul qur’an di Iraq.

Dengan definisi di atas maka semua qira’at yang syaz, kitab-kitab yang bukan diturunkan kepada Rasulullah, dan hadits qudsy bukanlah disebut al-Qur’an, dilain hal membaca al-Qur’an dinilai sebagai Ibadah agung, yang tidak ada orang berakal yang menentangnya. Diperkirakan oleh Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazaliy bahwa tidak kurang dari 500 ayat dalam al-Qur’an yang berkaitan langsung dengan perbuatan hukum seorang mukallaf.

Pengarang memilih kata السنة  dan bukan الحديث  perlu dipelajari, karena pengarang meyakini bahwa istilah as-Sunnah lebih umum ketimbang al-Hadits, dan perlu diketahui bahwa memang terjadi sedikit perbedaan pendekatan ulama hadits (muhadditsin) dengan ulama Ushul dalam mendefinisikan al-hadits dan as-Sunnah, dalam beberapa keterangan dijumpai bahwa ketika kata al-Hadits dan as-Sunnah menjadi sebuah istilah maka keduanya muradif atau sama maknanya, adapun perbedaan redaksi yang muncul nanti hanyalah perbedaan bahasa atau dikenal dengan إختلاف لفظي  . ringkasnya kedua istilah الحديث و السنة baik dimata Ushuliy dan Muhadditsin sama dalam satu sisi dan berbeda disisi lain.

Syaikh Abdullah al-Jadi’ dalam Tahrir Ulum al-Hadits menukilkan bahwa kata al-Hadits dan as-Sunnah memiliki pengertian yang sama dalam hal keduanya adalah sebutan untuk semua yang diriwayatkan dari Baginda Rasulillah berupa perkataan, perbuatan dan ketetapan Beliau.

ما يروى عن النبي صلى الله عليه وسلم من قول أو فعل أو تقري )

Pengertian seperti ini disepakati oleh muhadditsin dan Ushuliyyin. namun bila pengertian as-Sunnah dan al-Hadits ditambah qaid أو صفة  (atau sifat) maka ulama Fiqh dan Ushul Fiqh tidak melihatnya sebagai bagian dari definisi Hadits, oleh karena itu pengertian Sunnah dan al-Hadits dalam padangan ulama Hadits lebih umum ketimbang ulama Fiqh.

 

الإجماع و القياس

Al-Ijma’ dan al-Qiyas bukan sumber hukum melainkan dalil (petunjuk) hukum, yang harus ada cantolannya dari al-Kitab dan atau as-Sunnah.

الإجماع  adalah kesepakatan seluruh ulama mujtahid umat nabi Muhammad tentang sebuah persoalan hukum, baik secara ungkapan, tulisan atau dengan diam yang ada qarinah setujunya. الإجماع  dipegang oleh semua ulma mujtahid sebagai dalil hukum. Contohnya yang populer adalah kesepakatan para sahabat Nabi untuk mengangkat Abu Bakr ash-Shiddiq untuk diangkat sebagai khalifatu Rasulillah. Ijma’ yang dapat dipastikan terjadinya adalah ijma’ para sahabat. Adapun ijma’ setelah zaman sahabat dan tabi’in banyak ditemukan perbedaan pendapat yang akan dijelaskan nanti. Begitu juga dengan القياس  juga sebuah dalil hukum bukan sumber hukum.

al-Qiyas adalah upaya menyamakan hukum sebuah kejadian atau persoalan yang baru muncul dengan sebuah kenyataan hukum yang sudah ada ketentuannya, dengan mencari kesamaan alasan logis yang melatar belakangi hukum yang sudah ada tersebut. Contohnya upaya seorang mujtahid mencai kepastian hukum terhadap prilaku mengonsumsi sabu-sabu dengan memperhatikan illatnya yaitu berpotensi besar memabukkan yang juga ada dalam al-Khamr yang sudah ada ketetapan hukumnya dalam al-hadits maka hukum meminum al-Khamr adalah haram berlaku pula pada sabu-sabu.

Alasan logis ini belakangan disebut dengan istilah العلة  . bedanya dengan السبب  (sebab) adalah , al-Illah adalah alasan yang Ma’qul ma’na bisa dinalar sedangkan as-Sabab adalah alasan selestial yang sulit dinalar, contohnya pencurian sampai satu nishab menjadi illat hukuman potong tangan, dapat dinalar bahwa hubungan antara tangan, mencuri, dan potong tangan sangat erat, berbeda halnya dengan ungkapan kentut adalah sebab membatalkan wudhu’ karena sulit dinalar hubungan antara membasuh muka, buang angin, dan pantat, oleh karena itu pilihan katanya adalah sebab bukan illat.

 

عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ) الْمُجْتَهِدِ أَبِى عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدٍ اِبْنِ إِدْرِيْسَ (الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

Menceritakan imam Quraysy ini yakni asy-Syafi’I tidak cukup hari dan lembar, ibarat hendak memetik kembang di taman bunga, sulit dimulai dari mana dimulai, imam Ahmad menceritakan bahwa nubuwwat Rasulullah akan hadirnya pembaharu umat Islam ini setiap ujung 100 tahun, pada 100 tahun pertama didapati pada diri Umar bin Abdu Aziiz, dan aku berharap untuk ujung 100 tahun kedua adalah al-Imam asy-Syafi’iy.

Beliau telah menghafal al-Qur’an sejak usia 9 tahun, kemudian mendalami bahasa arab bersama Qabilah Huzail yang fasih. Diriwayatkan bahwa pada suatu saat diusia belia, setalah menguasai adab dan kefasihan bahasa arab Qabilah huzail beliau mencoba melantunkan syair dan sajak yang mempesona, sampai pada satu bait yang agak janggal didengar oleh seorang juru tulis dari keluarga paman beliau yang bernama Abdullah bin az-Zubairiy, ia mengkritik imam Syafi’iy bahwa dengan kemampuan bahasa dan I’rab yang bagus ini akan lebih bermanfaat bila digandengkan dengan Fiqh. Inilah yang memotivasi beliau untuk mendalami dan berjuhud, diawali dengan berguru kepada Imam Muslim bin Khalid az-Zanjiy, lalu kepada Imam Malik bin Anas di Madinah dimana beliau menghafal kitab al-Muwaththa’ hanya dalam sembilan malam, sampai menyalin ilmu dari sayyidah Nafisah di Mesir.

Sehingga nama beliau harum sesuai dengan kehendak Allah, dan tidak ada seorang faqihpun setelah beliau melainkan ada berhutang budi dengan rintisan ilmu imam Asy-Syafi’iy. Semoga dilain rubrik Allah berikan kesempatan untuk menuangkan kisah agung ulama yang dicintai ini.

Untuk beliau, semua ulama serta para guru kita, al-faatihah.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: