Fenomena Guru Berlapis

Ada satu hal menarik yang mungkin familiar terjadi di lingkungan pesantren. Saya ingin menyebutnya dengan fenomena Guru Berlapis. Ini tentang rentetan hubungan guru dan murid dari generasi ke generasi.
Bukan, ini bukan seperti silsilah keluarga atau jalur isnad dalam periwayatan hadis. Fenomena guru berlapis ini pastinya juga terjadi dalam isnad hadis. Dari situlah kemungkinan terjadi hadis Mursal. Ah, sudahlah. Kita tidak akan membicarakan mustalah hadis di sini. Kita cukup membicarakannya pada lingkungan terdekat, di Madrasah Sumatera Thawalib Prabek.

Kita mulai dari contoh kongkrit saja. Santri Parabek sekarang belajar kepada guru-guru alumni muda nan enerjik. Seperti Ustaz Zaki, Herri Arief, Habibi, Irwan, Anggi, Taufik Hidayat, dan sebagainya atau Ustazah Riska, Alfi, Faizah, dan sebagainya. Dulu, ketika masih belajar di sekolah ini, mereka juga belajar kepada Buya Deswandi, Ustaz Jendrizal, Abizar, Erinal, Zulfahmi, dan sebagainya atau Ustazah Yusmaini, dan seterusnya. Nah, jika lajur sejarah ditarik lebih jauh ke belakang, Ustaz-ustazah yang terakhir juga belajar kepada guru yang lebih senior, seperti Inyiak Khatib Muzakkir.

Kita sudah dapat satu gambaran di sini. Ini cukup lazim terjadi di pesantren. Tapi, apakah ini terjadi di sekolah-sekolah lainnya? Saya meragukannya. Mari kita renungkan. Apa sebenarnya yang diperlihatkan oleh fenomena ini. Sejarah! Itulah jawabannya. Fenomena ini memperlihatkan sejarah tumbuhnya Madrasah kita melewati waktu. Menurut Pimpinan YASIM dalam pidatonya lima tahun silam, satu abad bukanlah masa yang singkat untuk sebuah sekolah. Kita telah melihat betapa banyak sekolah-sekolah yang tidak bertahan hidup dalam gempuran sejarah. Tapi, sekolah kita telah melewati masa itu. Fenomena di atas merupakan monumen atau archive yang menyimpan sejarah tersebut.

Kita belum sampai pada sisi paling menarik dari fenomena ini. Sisi paling menariknya adalah bahwa santri Parabek saat ini pun juga belajar kepada guru dari guru-guru mereka. Muridnya Ustaz Zaki dan kawan-kawan pada saat yang sama juga belajar kepada Ustaz Deswandi dan kawan-kawan. See what I mean?

Bukan hanya itu, bahkan masih ada yang mendapatkan kesempatan belajar kepada guru dari generasi Ustaz Deswandi ini, guru yang telah berpulang pada 22 September 2015 lalu, Inyiak Khatib Muzakkir. Sedikit membingungkan? Oke, kita ambil contoh sederhana dengan satu nama untuk setiap generasi. Sebutlah seorang santri saat ini, namanya Zaid. Zaid belajar Ushul Fiqh kepada Ustaz Zaki. Dulu, waktu masih sekolah, Ustaz Zaki belajar Tasawuf kepada Buya Deswandi, akan tetapi, pada saat yang sama, si Zaid ini juga belajar Tauhid kepada Buya Deswandi. Ditarik lebih jauh ke belakang, dulu Buya Deswandi belajar Fiqh ke Inyiak Khatib Muzakkir, pun demikian denga Ustaz Zaki. Ternyata, si Zaid ini cukup beruntung masih punya kesempatan belajar Qawaid dan Mantiq ke Inyiak Khatib Muzakkir.

Saya rasa kita sudah dapat gambarannya di sini, meskipun saya yakin pemetaan yang lebih akurat lebih rumit dari itu. (Saya menantang santri saat ini untuk membuat peta yang lebih akurat dari fenomena guru berlapis ini; ya bisa jadi untuk tugas keterampilan santri kelas enam).

Fenomena ini memberikan keuntungan kultural sendiri bagi atmosfir sekolah kita. Sebutlah itu dengan dua kata, rasa hormat. Ya sudah sewajarnya murid hormat kepada gurunya. Sejatinya, guru-guru ataupun tim disiplin di sekolah kita tidak akan kesulitan untuk mengajarkan bagaimana semestinya seorang murid menghormati gurunya. Mengapa demikian? Karena, ketika Zaid dituntut untuk hormat kepada Ustaz Zaki, ia juga melihat secara langsung bagaimana Ustaz Zaki hormat terhadap buya Deswandi, begitu seterusnya. Para santri bukan hanya diajarkan tentang hormat, tetapi juga diperlihatkan bagaimana itu menghormati. Cukup simpel bukan?

Bukan hanya itu, pola ini juga memberikan keuntungan secara akademis. Konon dulu ada istilah guru tuo. Ini merupakan sebutan bagi para senior yang berganti status menjadi guru di Madrasah. Sebagai guru baru, grogi tentu saja menjadi teman hidup mereka, untuk beberapa saat. Dalam kondisi ini, para guru senior sering maasuang seorang murid dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaan tersebut akan ditujukan pada guru tuo ini. Semacam tes keilmuan dan mental di lapangan, apakah mereka berhasil menjawab pertanyaan tersebut atau apakah mereka bisa menyikapinya dengan bijak jika mereka tidak bisa menjawabnya.

Keuntungan akademis ini bukan hanya dalam bentuk rekayasa tes lapangan seperti ini. Dalam bentuk yang lebih santai, cukup lazim seorang guru junior kembali membuka kitab di hadapan guru senior ketika mendapatkan permasalahan di kelas. Bukan hanya itu, terkadang seorang guru secara sengaja memberikan pertanyaan tantangan di dalam kelas. Hal ini supaya mereka secara langsung bertanya kepada guru yang lebih senior, supaya mereka mendapatkan penjelasan ekstra.[]

Pernah di muat di halaman catatan fadhli

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Komentar

  1. […] sisi, tradisi ini lah yang menjadikan pesantren sebagai lapangan efektif untuk pendidikan karakter. Setiap hari siswa melihat guru-guru mereka begitu menghormati para guru senior, Syaikh al-Madrasah, … Dari situ lah mereka belajar tentang penghormatan. Guru-guru yang bertanggung jawab dalam bidang […]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: