Galau

 

Galau, kata ini sering kita dengar, mulai dari kegalauan tingkat rendah sampai galau tingkat tinggi. Kegalauan ini dialami oleh dari orang awam sampai orang yang berpendidikan tinggi. Seperti kegalauan karna pacar selingkuh, kegalauan karna skripsi nggak selesai-selesai, galau karena belum juga dapat pasangan, atau berbagai macam bentuk kegalauan lainnya. Sehingga fenomena galau ini telah menjadi tren abad 21.  Galau adalah adanya kekacauan pikiran, begini salah begitu salah, begini gelisah begitu gelisah, kesini tidak benar kesana tidak benar, bukan sebuah dilema tetapi karena pikiran tidak mengalami keputusan secara rasional, galau bukan lah stres, frustasi ataupun depresi,tetapi galau merupakan bagian dari stres, frustasi dan depresi. Kenapa kegalauan ini bisa terjadi?

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi kenapa manusia bisa galau, antara lain, karena mempunyai banyak masalah, atau bisa karena akan menghadapi sesuatu yang besar, atau karena mengkhawatirkan sesuatu, atau bisa jadi karena memikirkan sesuatu yang tidak jelas. Namun demikian, kegalauan ini bisa terjadi karena ketidaksanggupan menyelesaikan masalah dengan cepat dan rasional. Dalam penyelesain masalah, dibutuhkan kemampuan untuk menganalisa masalah tersebut, sehingga keputusan-keputusan yang kita ambil tidak keliru. Contoh kasus sederhana dapat kita liat pada kegalauan mahasiswa yang baru lulus.

Kegalauan yang sering dialami adalah bagaimana menentukan langkah hidup kedepan, bagaimana mencari uang untuk menghidupkan diri sendiri, mau kerja seperti apa dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan galaunya. Seharusnya ketika masahasiswa yang baru lulus, tidak mengalami hal seperti ini, mereka harus tela mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan matang, karena telah banyak dibekali berbagaimana ilmu pengetahuan di kampus, tetapi fakta dilapangan masih banyak kita temui sarjana-sarjana galau. Hal ini juga terjadi dikalangan elit politik, seperti kegalauan terhadap meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menentukan kebijakan ini menguntungkan masyarakat  atau tidak, terlepas dari pertarungan kepentingan di dalamnya.

Banyak lagi contoh kasus kegalauan yang bisa kita amati. Hal ini semua terjadi karena ketidaksanggupan menyelesaikan masalah secara rasional.  Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa ketidaksanggupan ini bisa terjadi?. Hal ini sangat berkaitan erat dengan kemampuan berfikir manusia tersebut. Orang yang mengalami kegalauan maka fikirannya mengalami kekacauan sehingga tidak mampu melihat sesuatu secara jernih, apabila fikiran kacau maka tindakan akan kacau. Fikiran yang kacau berarti ada yang salah pada fikiran tersebut. Salah satu kesalahan dalam berfikir itu adalah logika yang dangkal.  Logika dapat dipahami sebagai segala upaya untuk menjelaskan mengapa suatu hal terjadi. Logika yang dangkal adalah ketidakmampuan untuk membedakan mana sebab dan mana akibat, sulit berfikir runtut, tidak mampu membangun argumentasi yang memadai dan akhirnya salah mengambil keputusan. Ketika salah mengambil keputusan maka akan keliru dalam bertindak.

Oleh karena itu, ketika seseorang ingin melepaskan dirinya dari kegalauan, maka dia harus memulainya dengan cara mengubah pikirannya, dia harus memperbaiki logikanya. Dia harus mulai mendisiplinkan diri untuk berpikir dengan memanfaatkan pengetahuannya. Dia harus mulai menganalisa, menghargai dan meningkatkan pemikiran-pemikirannya.

 

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: