Garin dan Ceritanya

Ada satu tradisi menarik di Sumatera Thawalib Parabek, yang telah bertahan lama hingga saat ini. Saya yakin tradisi yang sama juga ditemui di banyak pesantren lainnya. Bahkan, mungkin kita juga tidak bisa menyebutnya tradisi khas pesantren, karena sepertinya mahasiswa juga mengakrabinya. Apapun itu, tiada salahnya sedikit banyak kita ceritakan.

Tradisi yang dimaksud adalah hidup di Masjid. Merbot urang Betawi menyebutnya, dan Garin (gharin?) orang Minang biasa menamainya. Beberapa orang santri, memiliki keyakinan yang cukup baik atas kemandirian dan tanggung jawab dirinya. Oleh sebab itu, daripada hidup di rumah dengan orang tua atau di asrama, mereka memilih untuk mengemban tanggung jawab di Masjid.

Saya tidak memiliki pengalaman ini. Ceritanya, dulu orang tua tidak percaya terhadap tanggung jawab dan kemandirian saya. “Malipek salimuik sajo maleh, apolai mambarasiahkan musajik!” Tapi, karena tradisi ini telah mengakar di Sumatera Thawalib, saya tetap bisa bercerita tentangnya.

Secara garis besar, tanggung jawab mereka adalah persiapan dan pelaksanaan shalat jama’ah. Ini meliputi hal teknis seperti kebersihan tempat wudhu’ dan tempat shalat, sound system, dan sebagainya, serta hal non-teknis seperti ketepatan waktu, azan, bahkan mengimami shalat berjamaah jika Angku Imam berhalangan hadir.

Boleh dikata, semua masjid/mushalla di Parabek Kubu nan VII dan sekitarnya pernah dan/atau masih digarini oleh santri. Mulai dari Masjid Jami’ Parabek, Surau Batu Parabek Ateh, dan Mushalla di Durian, Sungai Tanang dan Pakan Sinayan; Mushalla Karatau, dan Bangkaweh; Kubu, Rambuti, Pisang, dan Tabek Sarojo di Guguak Tinggi. Beragam sebutannya, PGI, Pergindo, atau Pagarindo (Persatuan Garin Indonesia).

Ada banyak cerita menarik seputar dunia ‘pergarinan’ ini. Pertama sekali, menjadi garin bukan hanya berarti menjadi orang yang bertanggung jawab atas hal-ihwal terkait masjid dan shalat jama’ah, tetapi juga menjadi orang yang siap menerima kunjungan kawan-kawan sekelas atau sekelompok permainan. Masjid/mushalla tertentu yang digarini oleh santri secara otomatis biasanya menjadi basecamp bagi dia dan gerombolannya.

Dengan demikian, menjadi garin juga berarti menjadi sosok yang setia kawan, yang siap menerima kunjungan dari satu, dua, tiga, atau sejumlah teman; bersedia tidur basampik-sampik, berbagi bareh jo samba, dan sebagainya. Tentu saja tidak sang garin sendirian yang maongkosi semua itu. Tapi, paling tidak, dia adalah orang yang bersedia menjadi tuan rumah yang baik bagi teman-temannya. Di sini ikatan pertemanan biasanya menguat.

Di banyak kondisi, masjid/mushalla ini juga menjadi tempat transit dan ‘zona aman’. Tempat transit maksudnya para siswa istirahat di masjid/mushalla di sela KBM reguler di pagi hingga siang dan pelajaran tambahan atau ekstra kulikuler di sore hari. Bahkan juga ada beberapa agenda di malam hari. Biasanya ini bagi kelas 3 Aliyah/Tsanawiyah menjelang UN.

Zona aman lebih bersifat tricky. Masjid/mushalla yang digarini salah seorang siswa terkadang menjadi tempat persembunyian ketika cabut KBM. Ngakunya pergi makan siang di jam istirahat menjelang zuhur, ternyata tidur di kamar garin; salayok tapi sampai jam 5. Entah kini, dulu sejumlah siswa asrama putra menyusup kabur di tengah malam, balik lagi menjelang subuh, pergi ke tempat teman di masjid/mushalla, demi menonton liga champions. Siapa yang pernah beginian? Jari-jari..??!!

Itu hanya sekelumit kecil dari cerita-cerita dalam dunia pergarinan. Kawan-kawan yang pernah mengalaminya tentu memiliki lebih banyak cerita lagi, mulai dari mendengar suara-suara aneh di malam hari (hmm??), hingga dimanja oleh amai-amai.

***

Di atas itu semua, tradisi pergarinan adalah tradisi luhur yang harus dilanjutkan. Simple saja, karena memang banyak manfaatnya.

Pertama dan kedua, tentang disiplin dan kemandirian. Salah satu karakter pesantren adalah asrama. Melalui asrama, siswa diajarkan tentang disiplin dan kemandirian. Hal sama dengan tinggal menjadi garin. Bedanya, disiplin di asrama adalah disiplin yang ‘diajarkan’, sementara disiplin ketika menjadi garin adalah disiplin yang ‘tumbuh’. Jika pada yang pertama kedisiplinan lebih di-push oleh faktor eksternal (Pembina asrama dan segenap peraturan di asrama yang ‘mengekang’), sementara yang kedua lebih ditekankan kepada faktor internal. Bukan berarti hidup menjadi garin tidak ada aturannya. Bedanya, hidup di masjid aturannya lebih bersifat samar. Bukan aturan tertulis di undang-undang atau perturan asrama/sekolah, tapi peraturan tak tertulis di masyarakat.

Tentang kemandirian, hidup di asrama bisa dibilang masih ‘setengah mandiri’. Pagi dibangunkan, makan disediakan, jadwal ditentukan, dan sebagainya. Berbeda dengan hidup menjadi garin, hampir semua aktifitas dan rutinitas harus diatur sendiri.

Ketiga, tentang tanggung jawab. Inilah yang menjadi faktor poros yang memisahkan disiplin dan kemandirian antara hidup di asrama pada satu sisi dan hidup menjadi garin di sisi lain. Disiplin dan kemandirian di asrama hanya berkaitan dengan diri sendiri. Pertanggung-jawabannya hanya untuk diri pribadi. Akan tetapi, menjadi garin berarti menjadi bertanggung jawab dalam skala yang lebih besar, yaitu untuk mengurus orang lain (shalat berjama’ah mereka). Bertanggung jawab untuk orang lain (umat, masyarakat) ini lah yang memunculkan kemandirian dan kedisiplinan inner dari dalam diri; disiplin, mandiri, dan tanggung jawab untuk mengabdi.

Keempat dan kelima, tentang bersosialisasi dengan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab sebagai urang siak. Kedua poin ini berkait-bertaut karena tanggung jawab sebagai urang siak atau menjadi ulama bisa menjadi efektif dengan kemampuan bersosialisasi yang baik. Dengan kemampuan itu lah ia bisa menyampaikan ilmunya secara efektif kepada masyarakat. Ketika menjadi garin, seorang santri mempelajari dan menimba pengalaman empiris mengenai kedua hal secara langsung. Pastinya ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga.

Dalam hal ini lah kita terkadang melihat garin-garin tertentu begitu nyaman menjalankan aktifitas dan tanggung jawabnya di masjid/mushalla karena mampu maambiak hati amai-amai. Dia tidak perlu mengkhawatirkan lauak jo samba lado; masyarakat silih berganti datang memberi. Atau pada sisi lain, ada mungkin yang hanya diberi tanggung jawab untuk kebersihan, menjadi muazzin, dan Imam (cadangan), tapi beberapa juga dipercaya untuk mengampu kuliah subuh rutin dengan berbagai materi.

Dua poin terakhir ini begitu penting karena pada perkembangannya banyak pesantren yang menerapkan kebijakan sentralisasi asrama, sehingga para siswa tidak memiliki akses yang luas terhadap masyarakat. Oleh sebab itu, waktu untuk benar-benar berlatih menjalankan tanggung jawab sebagai urang siak menjadi minim. Padahal, mereka memiliki sedang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dan ulama di tengah masyarakat. Beruntung Madrasah Sumatera Thawalib Parabek memiliki agenda Khidmatul Ummah, tapi sepertinya itu tidak cukup.

***

Bukan sekedar dilanjutkan, sepertinya tradisi pergarinan bisa dikembangkan. Beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan seorang santri-garin. Katanya, saat ini mereka membuat perkumpulan garin, PAGAR. Akan tetapi, sepertinya itu hanya peristilahan karena banyak santri yang menjadi garin sebagaimana Pergindo/Pagarindo/PGI di atas, bukan benar-benar organisasi yang memiliki program kerja dan visi-misi. Katanya lagi, sekolah selalu memberikan perhatian kepada mereka dengan secara konsisten untuk memegang tanggung jawab kepada masyarakat dan menjaga nama sekolah.

Dari perbincangan itu, akhirnya satu ide muncul, yaitu mengorganisir dunia pergarinan ini. Mereka berkumpul dan membicarakan agenda apa yang bisa dikerjakan. Tujuannya tak usah muluk, seperti ingin membuat tabligh akbar apalagi renovasi wc dan tempat wudhu’ masjid. Cukup yang simple saja, yaitu pengembangan diri.

Misalnya, para santri-garin ini melakukan loby kepada pengurus masjid untuk diberi jadwal kuliah subuh, sekali atau dua kali seminggu (tergantung sikon). Jika meloby secara pribadi dirasa tidak mungkin, kalian minta tolong kepada Pimpinan Pondok. Selanjutnya, tentukan satu materi, misalnya fiqh Fath al-Qarib. Dari itu, kalian berkumpul secara reguler untuk mendalami Fathul Qarib. Bisa minta pertolongan pada salah seorang guru. Ini jadi kesempatan kalian untuk lebih sering berhalaqah bersama guru-guru.

Akan tetapi, sepertinya kalian telah terlalu sibuk dengan agenda KBM reguler, ekstrakulikuler, atau takhassus lainnya. Jadi, agak susah mencari waktu untuk berkumpul. Jika demikian, masih ada satu cara lagi. Bukan lagi dengan ‘mencari’ waktu senggang di antara kesibukan KBM, ekstrakulkuler, atau program takhassus yang telah terstruktur, tetapi menjadikan agenda pematangan potensi garin ini sebagai salah satu dari 3 agenda terstruktur di atas. KBM mungkin tidak, tapi ekskul atau takhassus mungkin bisa.

Jika demikian, maka berkumpul secara rutin untuk mempersiapkan kuliah subuh tidak lagi menjadi kegiatan selingan, melainkan kegiatan yang sama terstrukturnya dengan ekskul dan takhassus. Jika sudah mulai di langkah ini, maka akan banyak langkah lain yang bisa dikerjakan, seperti menambah materi training yang mencakup konten dan aspek teknis, program semacam ‘serifikasi’ garin, dan sebagainya. Tapi ini tentu saja di luar otoritas kalian. Bagaimana Irfan, sudah disarankan ke Ust. Zaki, ust. Ilham, atau Buya Deswandi?

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

2 thoughts on “Garin dan Ceritanya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: