Gaya Lulus STH Parabek

Beberapa hari yang lalu, pada saat pengumuman kelulusan, ayah saya sempat hampir melarang saya untuk datang ke sekolah. Ia bahkan sampai menahan kunci motor dan uang jajan. Barulah setelah saya jelaskan secara rinci tentang bagaimana biasanya kelulusan di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, beliau melepas saya berangkat ke sekolah.

Kekhawatiran yang wajar, sepertinya. Sudah jadi pemandangan umum, bahwa kelulusan UN siswa-siswi SMA selalu dibarengi dengan aktifitas-akfitas yang bukan sekedar tidak bermanfaat, tapi juga penuh dengan penyimpangan dan pelanggaran.

Beberapa tahun yang lalu, yang saya ketahui tentang kelulusan adalah kegiatan corat-coret seragam sekolah. Hal ini sepertinya mengindikasikan ‘kebebasan’ yang baru didapatkan karena semenjak saat itu, waktu kelulusan, mereka tidak lagi berhadapan dengan rutinitas menjemukan di sekolah. Akan tetapi, karena dibarengi dengan suasana suka cita kelulusan, agenda corat-coret tersebut mengandung nuansa pesta.

Saat ini, pesta corat-coret baju mengalami evolusi. Beberapa tahun belakangan, ketika semakin banyak siswa SMA/sederjat yang dipersilahkan mengendarai sepeda motor ke sekolah, corat-coret seragam diikuti dengan konvoi dan parade. Dan tahun ini, evolusinya sudah sampai di titik yang sangat memprihatinkan.

Akhir-akhir ini memang kita dapati banyaknya perilaku menyimpang dari generasi muda. Baik dari segi pergaulannya, etika, bahkan sampai konsumsi obat terlarang yang tentunya membuat semua orang resah. Ketika kelulusan, semua agenda kenakalan tersebut menjadi satu dalam sebuah pesta.

Jika kita menyempatkan diri mengetik ‘kelulusan SMA 2016’ di mesin pencari google, kita bisa menemukan gambar-gambar lain yang serupa tampil ratusan dalam hitungan detik saja. Bahkan mungkin dalam media sosial, tak jarang wajah yang kita kenal pun ikut melakukan ritual yang katanya milik kelas XII.

Walau pun demikian, kita juga tak bisa menafikan kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan dalam rangka merayakan kelulusan. Seperti SMAN 3 Yogyakarta yang memutuskan merayakan kelulusan dengan cara membagikan nasi bungkus kepada pekerja di jalanan.

Menurut saya pribadi, kelulusan bukanlah hal yang istimewa. Kelulusan hanyalah salah satu capaian kecil dalam proses. Yang istimewa adalah perjuangan dan proses yang kita lewati selama sekolah, dan kesiapan untuk menghadapi proses selanjutnya secara lebih siap dan dewasa.

Di samping itu, kelulusan dari sekolah adalah pengakuan bahwasanya siswa tersebut telah menjadi orang yang berpendidikan. Sekolah adalah tempat para siswa dididik. Lulus dari sekolah, idealnya berarti mereka telah menerima pendidikan yang layak. Dengan demikian, para lulusan adalah mereka yang mampu bersikap layaknya orang terdidik. Akan tetapi, kenyataan ‘masuknya bodoh, lulusnya konyol’ memperlihatkan ada banyak hal yang menyimpang dari idealitas tersebut.

Sebagai santri Parabek saya merasa bangga bahwa para santri tidak ikut berpesta kelulusan dengan pelanggaran dan maksiat. Acara kelulusan hanya berlangsung seperti hari-hari lainnya; tidak ada hal yang begitu istimewa. Sebagaimana biasanya, acara pengumuman kelulusan berlangsung tenang dan penuh rasa syukur. Setelah selfie sedikit banyak, hari itu ditutup dengan tukar kado guna menambah rasa kekompakan dan kasih sayang antar sesama.

Sebagai saran, mungkin tahun depan santri Parabek bisa melakukan hal yang bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga orang lain. Membagiakan almatsurat atau hadist arbain ke warga sekitar mungkin bakal jadi kegiatan yang menarik.[]

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: