Harapan Terakhir

 

Kehidupan rantau mulai mengalami transisi. Perubahan itu ikut aku rasakan saat rumah gadang kami telah berpindah ke tanah Melayu. Sepeninggal kakek nenek, saudara Ibuku telah kehilangan mental sebagai anak rantau. Tak terlihat keringat adik dari negeri seberang, tak ramaikan hari kakak yang sendirian.

Itulah posisi ibuku yang dirundung malang, lama ayahku meninggalkannya sama dengan lama aku hidup di dunia. Orang bilang, tak usah risau. Minang ajarkan kalau aku dan kakakku akan hidup sejahtera dengan paman yang kaya raya. Urusan sekolah, uang belanja rumah, akan kami dapatkan dengan Cuma-cuma. Tapi nyatanya, ibuku yang memenuhi semuanya. Bahkan adik bungsunya sendiri ikut menjadi beban yang dipikulnya.

Sejak tamat sekolah dasar, aku ditempatkan oleh ibu di pesantren asal sukuku. Dia bilang biar aku tau agama dan tau keluarga. Kakak perempuankuku sudah merantau sejak lama bahkan ia sudah tamat dari pesantren itu saat aku baru diantarkan kesana. Di rumah hanya ada abangku yang menemani ibu agar tetap sabar dan tegar untuk membesarkan kami. Jarak umurku dan dia cuma dua tahun. Sehingga sejak aku kelas dua aliyah, dia juga sudah meninggalkan rumah untuk mulai kuliah. Ibu benar-benar kesepian, hanya berbagi kabar yang bisa aku lakukan sekali sepekan.

Dua bulan lagi Ujian Akhir Sekolah akan berlangsung. aku belum menemukan pengganti cita-citaku yang sempat dihadang, yaitu sekolah ke luar negeri. Kakak dan abangku bilang, aku harapan terakhir mereka untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri favorit, tak ada lagi adik dibawahku. “Jangan pilih kuliah di Provinsi kita Wa, pergi saja ke Pulau Jawa, biar ibu kakak yang jaga”.

Harapan? Terakhir pula, bagaimana aku bisa mewujudkannya, bahkan tujuan PTN pun aku belum punya. Setidaknya, langkah pertama sudah dirancang kakak abangku yaitu mengeleminasikan pilihan PTN di daerah ku. Mereka ingin ada pengalaman baru untuk diceritakan saat hari berkumpul datang.

***

Semenjak abangku kuliah, ibu jadi sering bangun pagi-pagi. Menyempatkan diri untuk membuat sekilo tepung sebagai bahan utama bakwan sebelum berangkat mengajar. Hasilnya ditabung untuk uang kuliah abang. Gaji pokok PNS sudah tak bisa diandalkan, karena lebih dari setengahnya ibu bayarkan ke cicilan rumah. Sudah lebih dari lima belas tahun kami hidup dari uang hasil usaha kreditan. Kios pakaian jadi di lantai dasar plaza hanya menambah pengeluaran. Pasarnya mati, sehingga perputaran uang begitu lambat. Pembeli hanya mereka yang menetap di kota, tak ada pendatang dari luar daerah kecuali mendekati hari lebaran.

Keadaan ekonomi seperi ini membuat ibuku tak jarang direndahkan oleh teman-temannya. Rumah tak punya kursi tamu, pintu kulkas sudah lepas, muka orang di TV menjadi kuning, dan banyak barang elektronik lainnya yang minta diganti.  “Masih ada anak yang harus kusekolahkan biar jadi orang, biarlah aku memicingkan mata dari silaunya dunia”. Jawaban ibu yang kurekam sejak lama ketika ibu mencoba menjelaskan kepada teman-temannya.

Kuliah gratis, beasiswa, sekolah ikatan dinas, bidikmisi, PBSB. Kata-kata itu yang selalu kutulis di halaman pencarian web di smartphone temanku. Sasaran ku bukan sekedar PTN favorit seperti yang kakak abangku harapkan, tapi bahkan lebih dari itu. Aku tak ingin ibuku harus memutar otak lagi dan menambah pekerjaan baru untuk mencarikan uang kuliahku.

Akhirnya Sekolah Tinggi Akutansi Negara mulai menarik minatku, selain tak perlu biaya untuk belajar disana, usia produktifku juga akan semakin maju, karena cukup satu tahun untuk D1 aku sudah bisa bekerja mengumpulkan uang  untuk mengganti isi rumah itu. Buku-buku STAN mulai ku cari dan ku beli,  bahkan kumpulan soal tes selama sepuluh tahun terakhir lengkap dengan pembahasannya sudah kumiliki.

Tekadku sudah bulat, fokusku sudah tepusat. Hampir setiap saat, disela-sela istrahat sekolah, satu atau dua soal aku bahas tuntas. Bimbingan pembelajaran kuikuti bahkan sampai jam sebelas malam. Ringan tangan ku langgar peraturan.

Sosialisasi perguruan tinggi mulai membanjiri sekolah. Satu hal yang ku tangkap yaitu jangan hanya pasang satu umpan, karena ketika umpan itu lepas sudah tak ada harapan untuk dapat ikan. Sehingga hampir semua jalur penerimaan mahasiswa baru kuikuti saja, mulai dari SNMPTN, SBMPTN, mandiri UGM, SPANPTKIN, PBSB, sampai ke sekolah penerbangan.

Tabunganku sudah mulai masuk posisi kritis, banyak uang yang diperlukan untuk mendaftar dan menuju lokasi ujian. Akhirnya semua ujian seleksi kuikuti walau tanpa persiapan matang, termasuk STAN. Waktu belajar STAN banyak dicuri untuk mempersiapkan banyak umpan. Belum puas rasanya ketika belum menginjakkan kaki di kantor tata usaha sekedar untuk menanyakan perkembangan semua pendaftaran.

Berjam-jam langkahku tertahan untuk urusan PBSB yaitu Program Beasiswa Santri Berprestasi, padahal aku bukan salah satu diantara santri berprestasi itu di sekolah, masih banyak langit diatasku. Melihat antusias teman yang berambisi untuk mendapatkannya membuatku ikut termotivasi. Namun harapan tak terlalu besar ku tempatkan pada pilihan ini. Membayangkan lawan dari seluruh pondok pesantren membuatku pesimis, karena mereka orang-orang yang selalu menjaga agama Allah, sedangkan aku? Terkadang masih banyak niat yang tak lurus saat mengikuti pembelajaran dari guru.  

Masa-masa sulit sempat menyiksaku, keterlambatan pengiriman berkas karena berkasku telah pulang bersama pemiliknya ke kampung halaman. Kekesalan terbesarku saat melupakan password untuk login situs download kartu peserta. Mungkin karena tak diiringi tekad yang kuat, banyak hal yang terlewatkan. Berbagai upaya dilakukan pihak pondokku, dari mengirim email ke situs resmi PBSB, mencari kenalan yang bisa mempercepat proses perbaikan password. Sampai akhirnya upaya berhenti ketika kiriman emailku dibalas pihak PBSB H-3 ujian. Ibu bilang jangan mengalah sebelum berperang. Hasil tak akan menghianati usaha.

Hari pengumuman begitu sangat menegangkan, hanya doa yang ku kirimkan untuk jadi penenang. Malam hari bersama sujud, air mataku sering jatuh mengenang satu persatu kampus mulai menolakku. Sampailah puncak kepiluanku saat STAN ikuta-ikutan tak melirikku. Seharian aku tak mau keluar kamar, tubuhku tak bisa diajak berdamai. Air mataku semalaman tak bisa ditahan, telfon selulerku tak berhenti berdering.

Panggilan masuk dari sahabatku terpaksa aku abaikan, karena sesak didadaku belum lepas. Handphone ku terus berdering sampai pagi. Teman sekamarku mencoba paham dan membiarkanku melakukan apa yang ku mau. Harapanku hancur pilu. Sampai akhirnya karena tak tahan dengan ributnya nada dering itu, akhirnya ku angkat juga panggilan itu. Suara kesal datang dari dalam, aku hanya membalas dengan tangisan, tangisku semakin pecah. Dia kesulitan menyela untuk memberithuku bahwa aku harus mengganti tangis kesedihan dengan tangis kebahagiaan.  Tiba-tiba teman sekamarku loncat kegirangan menuju dipan yang ada aku diatasnya. Dia rebahkan dirinya tepat disampingku yang masih terisak-isak mendengar nasehat dari dalam telephone.

“Masih ada harapan yang kamu lupakan Wa”.

“Apa?”

“Harapan terakhir orang-orang”

“Maksudmu?”

“Kamu juga mengambil harapan terakhirku, kamu lupa hari ini hari apa?”

“Bukan saatnya nanya begituan.”

“Ini kan hari pengumuman PBSB, selamat ya Wa, namamu ada disana.”

Air matanya mulai berlinang, ku peluk dia dalam-dalam. Perasaan beberapa menit lalu yang singgah didadaku, kini pindah kedadanya. Ku tepis air mataku untuk menenanggkannya, tapi air mataku semakin hangat mengalir. Dua air mata membanjiri ku dan dia, entah air mata sedih ataupun bahagia, kami tak dapat membedakannya. Dia haru dengan takdirku dan dia pilu dengan takdirnya dan itu terjadi di waktu yang sama, begitupun yang kurasa.

Usaha tak menghianati hasil, begitu memang kata pepatah. Hampir saja aku tak percaya akan hal itu. Kembali kuukur dimana letak usaha terbesarku, memang PBSB lah puncak segala perjuangan, maka itulah hasilnya. Semua yang terjadi didunia memang sangat rasional. Doa yang dulu ku lantunkan bukan juga minta diluluskan di STAN, namun dimana saja asalkan bisa menyelamatkanku di dunia dan di akhirat, sehingga Universitas Islamlah yang  menjadi jawabannya. Banyak hal yang membuatku bahagia sekarang, salah satunya adalah dengan diterimanya aku di jalur PBSB ini.

Tak perlu menunggu waktu setahun untuk kuliah, tak perlu juga bekerja untuk mengumpulkan uang. Semua perabotan yang rusak dirumah dapat langsung dicarikan gantinya, karena tabungan ibuku yang dipersiapkan untuk biaya awal masuk kuliah tak jadi dibelanjakan. Satu hal yang belum dapat kutemukan jawabannya, kapan aku bisa merasakan dinginnya salju? Merasakan indahnya musim semi, dan melihat ramainya daun bergugur. Ternyata harapan manusia tak ada akhirnya, seteleh ada harapan terakhir masih ada harapan lain yang menantinya selagi hidup di dunia, kurasa titik harapan terakhir manusia hanya hidup kekal bahagia di syurga-Nya.[]

Pemenang loma cerpen pada event Harlah CSS MoRA ke-9

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: