Hijrah Bukan Muharram

Tulisan sederhana ini kita mulai dengan sebuah fakta sejarah bahwa hijrah Rasululullah SAW dari Makkah menuju Madinah tidak pernah terjadi pada bulan Muharram, tetapi beliau melakukannya pada bulan Shafar, dan sampai di kota Yastrib pada bulan Rabiul Awal. Fakta sejarah ini tentu saja mengundang sebuah tanya,  kenapa mayoritas Umat Islam di Indonesia justru memperingati pergantian tahun baru Islam pada bulan Muharram?

Hampir 23 tahun lamanya Rasulullah SAW berdakwah dari kota Makkah dan Madinah, umat Islam tidak pernah memakai istilah kalender, sebab al-Quran memang sudah menjelaskan bahwa Sang Baginda di utus Allah kepada bangsa yang ummy (tidak pandai tulis baca) (QS. Al-Jumu’ah ayat 2). Bangsa Arab dahulu memang sudah mengenal istilah bulan-bulan Qamariyah yang kita kenal sekarang ini, tetapi mereka tidak punya kalender tahunan seperti bangsa Romawi yang memiliki  kalender Masehi dalam penetapan tahun. Mereka hanya akan menamakan sebuah tahun apabila ditahun tersebut terjadi peristiwa yang begitu besar, seperti ’Amul Fil tahun gajah, dimana tahun tersebut Allah menampakkan kekuasaanNya dengan mengirim burung Ababil, yang menghancurkan pemimpin congkak bernama Abrahah dan pasukan gajahnya yang berniat untuk menghancurkan Ka’bah, pun begitu dengan ‘Amul Huzni, tahun kesedihan, dimana di tahun itu, meninggallah dua orang yang amat Rasulullah SAW cintai dan kasihi, Istri beliau Khadijah dan Pamannya Abu Thalib. Begitulah orang Arab mengingat tahun, mereka hanya mengingat peristiwa tanpa angka.

Setelah Rasulullah SAW wafat, estafet pemerintahan Islam dipegang oleh mertua Nabi, Abu Bakar as-Shiddiq. Di pemerintahan beliau pun umat Islam juga belum mengenal kalender Islam. Hingga roda kekhalifahan berpindah kepada mertua Rasulullah yang lainnya, Umar bin al-Khattab. Pada masa ini, Islam sudah mulai banyak berkembang ke negeri-negeri yang jauh, hal ini dibuktikan pada tahun 15 H, umat Islam sudah berperang melawan Negeri  Pesia, bahkan  daerah-daerah yang dikuasai oleh Byzantium seperti Yerussalem, Mesir, Syiria tak luput menjadi negeri yang akhirnya dikuasai oleh islam.

Efek dari futuhat-futuhat ini menjadikan pemerintahan Islam bertetangga dengan pemerintahan non-Islam, maka terjadilah hubungan bilateral di antara keduanya. Kirim mengirim surat menjadi sesuatu yang tidak terelakkan lagi. Hingga sebuah surat yang berasal dari Romawi bertuliskan tanggal Masehi sampai ke tangan Umar, di pihak lain, surat-surat yang dikirim Umar bin al-Khattab kepada para gubernurnya membuat beberapa gubernur seperti Abu Musa al-Asy’ari kebingungan, sebab beberapa surat tertulis bulan Sya’ban tetapi beliau tidak tahu entah Sya’ban yang mana, dari sinilah muncul I’tikad dan niat untuk membuat tanggal Islam sendiri.

Akhir tahun 16 H, Umar mulai mengumpulkan para sahabat senior, mengajak mereka untuk bermusyawarah tentang perencanaan yang besar ini. Bagaimana cara membuat kalender Islam? Kapan dan bagaimana awal penetapannya? Maka dari pertanyaan ini, mucullah beberapa ide, di antaranya; Pertama, Mengawali tahun Islam dari tahun kelahiran Rasulullah SAW. Kedua, Mengawalinya dari tahun turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW. Ketiga, Mengawalinya dari tahun kematian Rasulullah SAW.

Ketiga pendapat ini diperbincangkan bersama-sama, tetapi belum ada satu pun dari pendapat tersebut yang memantapkan hati Umar. Hingga Ali bin Abi Thalib berkata “Al-Hijratu Tufarriqu Baynal Haqqi wal Bathil”, Hijrah itu membedakan yang benar dan yang salah (Sebahagian riwayat, ini merupakan ucapan Umar), mulailah dari tahun hijrahnya Rasulullah SAW. Ucapan Ali tersebut diterima oleh para sahabat senior dan diiyakan oleh Umar. Ditetapkanlah kalender Islam dimulai dari peristiwa hijrah Raulullah.

Akan tetapi permasalahan berikutnya muncul, yaitu perdebatan tentang awal bulan Hijriyah, apakah dimulai dari bulan Ramadhan, Syawal atau lainnya? Kembali para sahabat bermusyawarah, hingga Utsman bin Affan  mengatakan, mulailah dari bulan Muharram, karena di bulan tersebut merupakan bulan awal keinginan Rasul untuk hijrah ke Madinah setelah peristiwa Aqabah. Ustman menambahkan “ Bulan Dzul Hijjah adalah bulan berkumpulnya umat Islam dari seluruh dunia dalam ibadah haji, maka bulan Muharram adalah bulan dimana mereka mengawali hidup yang baru”. Ide ini diamini oleh Umar, maka ditetapkanlah Muharram sebagai bulan awal, Maka jadilah, 1 Muharram tahun 17 H, menjadi penetapan awal kalender hijriyah dalam Islam.

Ada banyak sekali hikmah yang dapat kita petik dari sejarah ringkas di atas, di antaranya; Umat Islam adalah umat yang mengedapankan sikap bermusyawarah, hidup berjama’ah atau bersama sama. Tidak ada istilah otoriter, ingin menang sendiri, ingin dianggap pahlawan sendiri. semuanya dilakukan bersama-sama, “Rancak dek awak, katuju dek urang” begitu pepatah Minang katakan. Selain itu, semangat beragama mesti diringi dengan ilmu, tidak boleh hanya sekedar ikut-ikutan.

Islam adalah agama yang memiliki Izzah (harga diri), bila para sahabat mau, mereka bisa saja meniru orang-orang Romawi yang menjadikan perhitungan kalender dengan hitungan tahun Masehi, tidak perlu menguras tenaga dan keringat untuk berkumpul dan bermusyawarah.

lebih dari itu, mari kita jadikan pergantian Tahun ini sebagaimana Umar menetapkan awal tahun Hijriyah. Hijrah itu membedakan antara yang Haq dan yang Bathil. Selamat Tahun Baru Islam 1438 Hijriyah

Wallahu a’lam.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: