#IASTHATanggapBencana Tuntas

Bencana banjir kembali melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat, seperti Solok Selatan, Pangkalan, dan Pasaman. Curah hujan yang tinggi selama berhari-hari mengakibatkan air sungai meluap dan memicu terjadinya banjir. Beberapa akses jalan terputus karena tingginya air. Tidak hanya itu, banyak rumah beserta harta benda milik warga yang hanyut dan tidak sedikit orang yang meninggal dunia.

Melihat kondisi tersebut, sekelompok alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek tergerak untuk mengadakan penggalangan dana untuk membantu para korban banjir. Setelah berkonsultasi dengan ketua umum Ikatan Alumni, Dr. Zaim Rais, maka pada tanggal 11 Februari, agenda #IASTHATanggapBencana dimulai.

Gerakan ini dikomandoi oleh Nursa’adah, alumni Ponpes Sumatera Thawalib angkatan 2002-2008). Penggalangan dana diselenggarakan dari tanggal 11 hingga 18 Februari 2016. Selama  waktu tersebut, terkumpul bantuan sebanyak Rp. 5.700.000. Kegiatan ini tentunya juga mendapat dukungan dari pihak sekolah. Dana yang terkumpul dari sekolah sebanyak Rp. 1.557.000 dan dari asrama puteri sebanyak Rp. 383.500 beserta baju layak pakai. Beberapa orang juga mengkhususkan bantuan untuk transportasi dan makan para relawan. Untuk itu, terkumpul dana sebanyak Rp. 800.000.

Bantuan tersebut dialokasikan untuk korban banjir di Pangkalan, berdasarkan informasi dari relawan PMI yang juga alumni dari Ponpes Sumatera Thawalib, Aidila Fitriani. Menurutnya, sejauh ini bantuan banyak didistribusikan ke daerah Pasaman dan Solok Selatan. Di samping itu, di wilayah Solok Selatan, kerusakan lebih banyak di bidang infrastruktur. Dari itulah mengapa Pangkalan yang menjadi target #IASTHATanggapBEncana.

Oleh sebab itu, bantuan yang terkumpul dibelanjakan ke dalam bentuk logistik. Beras dibeli sebanyak 450 kg dan dikemas ulang oleh relawan ke dalam bungkus-bungkus kecil ukuran 3 kg. Untuk kebutuhan siswa-siswa sekolah, relawan juga membelikan buku tulis sebanyak 16 kodi. Sisa donasi diberikan untuk membantu pembangunan posko bencana yang sempat terbakar.

Selasa, 23 Februari 2016, para relawan terjun ke lapangan. Lima orang relawan berangkat dari Padang menuju Parabek untuk mengambil bantuan dari sekolah. Pihak sekolah juga meminjamkan mobil operasional beserta sopir untuk membawa barang-barang bantuan. Pukul 10.30 WIB, para relawan yang terdiri dari Insan, Fauzan, Achrie, Milla, Adah, dan Tia berangkat ke lokasi bencana. Relawan tiba di kantor Wali Nagari Pangkalan pukul 12.30 WIB dan menyerahkan sebagian bantuan di sana. Perjalanan dilanjutkan ke Nagari Gunung Malintang yang merupakan daerah bencana terparah. Di sanalah donasi terakhir diberikan. Relawan juga tidak lupa melihat posko bantuan bencana yang sempat terbakar dan memberikan bantuan berupa uang secara khusus untuk membangun kembali kantor yang dijadikan posko tersebut. Setelah semua bantuan diserahkan, pukul 14.30 WIB tim relawan bertolak ke Payakumbuh untuk bersilaturahmi sekaligus makan siang ke rumah M. Rizqi (alumni angkatan 2000-2006). setelah beramah tamah di sana, pukul 17.30 WIB tim bertolak ke Parabek dan tiba di sana pukul 19.00 WIB.

Imroati Karmillah

Imroati Karmillah adalah alumni Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Menyelesaikan S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan S2 di pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang.

Komentar

  1. […] Pada akhirnya, kami berasumsi nama dari payung besar tersebut tidak memiliki akronim; hanya Ikatan Alumni Sumatera Thawalib Parabek, sebagaimana pada grup facebook resmi alumni. Akan tetapi, untuk kepentingan teknis, nama tersebut terlalu panjang, sehingga kami memutuskan untuk membuat akronim baru, IASTHA (Ikatan Alumni Sumatera Thawalib). […]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: