Ikatan Alumni: Kapan Mau Bangun?

 

Beberapa minggu yang lalu, salah satu tulisan di surauparabek membahas ikatan emosional yang masih bertahan antara guru dan murid meskipun setelah kelulusan dan berpisah fisik dalam waktu dan jarak yang jauh. Tulisan tersebut bak luapan emosi dan refleksi penulisnya, sekaligus bentuk berbagi pengalaman bagi alumni terbaru Madrasah Sumatera Thawalib Parabek yang baru saja diwisuda beberapa hari sebelumnya.

Beranjak ke beberapa bulan yang lalu, ikatan alumni Sumatera Thawalib Parabek yang berdomisili di Jabodetabek menggalang silaturahmi di Ragunan. Agenda ini mempertemukan alumni-alumni Sumatera Thawalib Parabek seluruh angkatan, dari angkatan yang paling muda, hingga yang sangat sepuh. Kadang, para alumni-alumni muda tersebut merasa sungkan untuk menggunakan panggilan resmi ‘uda-uni’ terhadap alumni-alumni yang sudah sepuh yang bukan hanya seangkatan orang tua, melainkan nenek dari mereka.

Tidak terlalu lama berselang, alumni-alumni Sumatera Thawalib Parabek di Yogyakarta juga berkumpul. Secara resmi, barangkali pertemuan tersebut adalah yang pertama kali. Tidak begitu banyak alumni yang berdomisili di kota pelajar tersebut. Tapi, jumlah yang sedikit tidak menyurutkan semangat mereka untuk berkumpul, bercerita, bernostalgia, baik membahas hal remeh-temeh hingga hal yang sangat penting.

Di Sumatera Barat sendiri, minggu lalu IMASTHA Padang bangkit dari tidur panjangnya. Konon kabarnya, IMASTHA Padang nir aktifitas dan komunikasi semenjak gempa bumi Padang. Pulas tertidur, memang agak susah sepertinya untuk terjaga. Tapi dengan rasa cinta dan tekad, mereka berhasil melaksanakan mubes. Mari kita tunggu aktifitas-aktifitas mereka.

Hanya seperti itulah cara yang paling mungkin untuk mebicarakan tentang gerakan dan perkumpulan alumni Sumatera Thawalib Parabek; parsial, tak bersatu. Secara regional, yang di Jakarta punya agenda sendiri, yang di Jogja begitu pula, yang di Padang tak berbeda. Higga saat ini, tidak mungkin membicarakan alumni Sumatera Thawalib Parabek sebagai sebuah kesatuan.

Surauparabek sejak awal didedikasikan sebagai media pemersatu alumi Sumatera Thawalib Parabek; untuk mangumpuakan nan taserak. Iya, alumni-alumni Sumatera Thawalib saat ini taserak di segala penjuru, tanpa ada ikatan yang solid.  Apakah tidak ada payung besar perkumpulan alumni Sumatera Thawalib Parabek? Ada. Tapi nyaris kita tidak pernah mendengar agendanya. Ketidakpastian agenda tersebut pada akhirnya hanya bermuara pada kegiatan-kegiatan seremonial yang tidak memiliki bekas positif selain bertemu muka, nostalgia kosong, dan berkelakar.

Salah satu indikasi ketidaksolidan ini adalah persoalan kejelasan nama. Apa sebenarnya nama dari ikatan alumni Sumatera Thawalib Parabek? Ketika bencana banjir dan longsor menimpa beberapa daerah di Sumatera Barat dan Riau beberapa bulan yang lalu, kami menemukan masalah ini. Nama yang cukup familiar adalah IMASTHA. Akan tetapi, jelas IMASTHA bukan payung besar perkumpulan alumni. IMASTHA hanyalah salah satu segmen dari payung besar tersebut. IMASTHA adalah Ikatan Mahasiswa Sumatera Thawalib, bukan keseluruhan alumni Sumatera Thawalib.

Pada akhirnya, kami berasumsi nama dari payung besar tersebut tidak memiliki akronim; hanya Ikatan Alumni Sumatera Thawalib Parabek, sebagaimana pada grup facebook resmi alumni. Akan tetapi, untuk kepentingan teknis, nama tersebut terlalu panjang, sehingga kami memutuskan untuk membuat akronim baru, IASTHA (Ikatan Alumni Sumatera Thawalib).

Ketika akronim tersebut telah dibuat dan disebar luas ke publik, salah seorang alumni junior bertanya, “apakah itu typo? Bukankan seharusnya IMASTHA?” Pertanyaan ini, kembali, mengindikasikan kebingungan para alumni tentang nama dan akronim resmi dari Ikatan Alumni Sumatera Thawalib Parabek, sehingga mereka merancukan IMASTHA (Ikatan Mahasiswa Alumni Sumatera Thawalib) sebagai payung besar perkumpulan alumni.

Kerancuan yang bahkan menyentuh aspek yang paling luar, cukup fundamen, dan mendasar ini, tentang nama, melambangkan kekaburan yang begitu besar. Ketidaktahuan para alumni tentang nama organisasi alumni berarti ketidakhadiran organisasi ini di ruang baca, lihat, dan dengar para anggotanya. Jika kita sering mendengar nama organisasi yang tidak memiliki agenda berarti, maka organisasi perkumpulan alumni Sumatera Thawalib lebih parah dari itu.

Hal ini merupakan kerugian besar, baik bagi Madrasah sebagai institusi pendidikan, ikatan alumni sebagai organisasi pemersatu, maupun individu-individu alumni itu sendiri. Ada banyak hal-hal positif yang seharusnya bisa dicapai dengan perkumpulan yang solid. Tapi kenyataannya, bak pungguk merindukan bulan.

Mari kita ambil satu contoh sederhana. Dengan sejarah panjang yang telah dilalui Sumatera Thawalib Parabek, dan dengan ribuan alumninya, seharusnya ikatan alumni sudah bisa membangun koperasi atau semacamnya. Setiap alumni adalah anggotanya, oleh karena itu menikmati bagi hasil dari aktifitas koperasi ini.

Contoh yang lebih praktis misalnya berkaitan dengan keinginan para alumni untuk mengantarkan anaknya untuk belajar fiqh, ushul fiqh, qur’an, hadis, mantiq, balaghah, dsb ke Buya dan Syaikh al-Madrasah di Sumatera Thawalib Parabek. Tidak semua alumni bernasih baik secara ekonomi. Sangat dimungkinkan sejumlah alumni terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengantar anaknya ke sekolah tempat ia belajar dahulu karena persoalan ekonomi. Tapi jika organisasi alumni alumni solid, pasti ada mekanisma yang bisa dibuat untuk menanggulangi problem ini. Bayangkan, jika program ini berjalan, akan banyak alumni yang akan meneruskan sejarahnya di Madrasah melalui anak-anak mereka.

Itu hanya dua contoh kecil. Saya yakin, setiap kita bisa membayangkan banyak agenda yang bisa dilakukan, banyak tujuan yang bisa dicapai, banyak upaya yang bisa dijalani jika perkumpulan alumni Sumatera Thawalib ini solid. Jika IMASTHA Padang telah bangkit dari tidurnya, mengapa Ikatan Alumni Sumatera Thawalib tidak?

Apakah kita siap untuk bangun?

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: