Ikatan Alumni; Subjek Hadir atau yang Dihadirkan?

Ikatan alumni secara fungsional maupun politis dapat dilihat dalam hubungannya dengan dua hal; institusi pendidikan terkait dan antar alumni itu sendiri. Membicarakan ikatan alumni tanpa mengaitkankannya dengan institusi pendidikan terkait tentu akan mendistorsinya. Oleh karena itu, menurut hemat saya, pembicaraan harus diawali dari sini. Hubungan antar alumni, di sisi lain, juga harus dibicarakan karena pada dasarnya diri alumni adalah subjek sadar yang memiliki orientasi nilai dan kepentingan tertentu.

Mendeskripsikan ikatan alumni hanya pada dataran permukaan –sebagaimana yang telah ditulis oleh kakanda Zaim Rais, Budi Irawan, dan Fadhli Lukman– tidak menyentuh sisi dalam, baik kaitannya dengan unsur-unsur pembentuk maupun kepentingan yang menggerakkannya. Tulisan ini beranjak dari pemikiran bahwa tidak ada yang muncul secara tiba-tiba dengan arti suatu aktivitas didahului oleh kepentingan atau keinginan tertentu. Pemikiran seperti inilah yang akan mengiringi seluruh tulisan ini.

Mempertanyakan motif dasar pembentukan ikatan alumni –yang mungkin sengaja tidak disuarakan atau bahkan tidak disadari sama sekali– adalah penting. Penelanjangan ini akan menguak detail-detail intern dan extern dari aktivitas tersebut. Dengan pengetahuan ini juga, selanjutnya, para anggota dapat mengukur diri dan menyikapi ikatan secara bijak.

Ikatan Alumni dan Institusi Pendidikan; Titik Balik diri

Aktivitas manusia sangat di pengaruhi oleh kekuatan tersembunyi yang ada di alam bawah sadarnya. Alam bawah sadar merupakan dorongan jasmaniah manusia paling dasar. Bergabungnya dorongan-dorongan tersebut dengan ide kesan, image, emosi, dan jejak-jejak memori pengalaman masa lalu akan membentuk jalinan yang luar biasa, yang sangat penting bagi kehidupan yang ada di lantai atas (baca: alam sadar). Kendati pikiran sadar tidak menyadarinya namun dia tetap ada dan memberi pengaruh tidak langsung yang amat dahsyat terhadap pikiran dan perilaku manusia.

Alam bawah sadar lah, dengan begitu, yang memproyeksikan perilaku sadar manusia. Angan-angan dan emosi-emosi manusia pada masa lalu turun dari permukaan pikiran sadarnya dan kemudian masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Mereka sebenarnya tidak hilang disebabkan berbagai situasi kompleks yang terjadi sesudahnya. Justru, mereka tersimpan dalam bentuk dokumen pengalaman masa lalu yang suatu waktu berusaha untuk berfungsi kembali.

Berdasarkan logika di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kemunculan ikatan alumni pada dasarnya merupakan titik balik diri seorang siswa yang saat ini telah menjadi alumni. Kehendak untuk kembali menghadirkan diri ke dalam institusi pendidikan merupakan suatu pelampiasan. Transkip masa lalu yang bersemayam dalam alam bawah sadar alumni kembali berfungsi. Kita melihat kenyataan bahwa apa yang selama ini terpendam muncul kembali. Pernyataan ini akan menjadi jelas jika kita memerhatikan keterangan berikut:

Di institusi pendidikan –terlebih institusi pendidikan dengan sistem boarding school– para alumni dahulu ditempa. Di sini mereka berinteraksi dengan banyak hal, baik dengan diri mereka sendiri, manusia dan alam sekitarnya. Di tempat ini selama bertahun-tahun mereka melakukan banyak hal yang tentunya tidak dapat dikalkulasikan (dari hal-hal baru hingga hal-hal yang sama berulang-ulang, dari hal-hal kecil hingga hal-hal yang besar, dari hal-hal sepele hingga hal-hal yang luar biasa). Di tempat ini mereka melihat, mendengar, belajar dan berbahasa. Di tempat ini mereka bersosialisasi, menjalin kekeluargaan, permusuhan, persahabatan hingga percintaan. Di tempat ini para alumni … (daftar ini dapat diperpanjang tanpa batas). Dari rentetan sejarah panjang yang mengiringi dirinya tentunya tidak sedikit image, kesan dan emosi yang telah diserap.

Selepas menyelesaikan pendidikan, angan-angan dan emosi-emosi tersebut dilupakan untuk sementara. Fase ini kemudian diikuti dengan fase pemendaman. Berbagai realitas yang datang kemudian membuatnya berjalan biasa-biasa saja. Namun pada tahap selanjutnya kehendak-kehendak tersebut muncul kembali dalam bentuknya yang lain. Di sini kita dapat melihat kenyataan bahwa apa yang selama ini terpendam dalam diri alumni muncul kembali. Berdasarkan pengalaman-pengalaman masa lalu di sekolah, alumni memproyeksikan wadah eksternal tentang ikatan alumni.

Menakar Kepentingan Institusi Pendidikan atas Ikatan Alumni.

Adalah suatu rahasia umum jika disebutkan bahwa institusi pendidikan akan mengambil manfaat dari keberadaan anak-nya (baca: ikatan alumni). Nama Buya Hamka dan Adam Malik, dan beberapa nama lainnya yang masih hidup seperti Prof. Dr. Amiur Nuruddin, Dr. Nifasri, dsb. selalu disebut untuk menghadirkan daya jual yang cukup tinggi bagi institusi sekolah untuk menjaring banyak calon siswa baru. Pengalaman di kampus dahulu juga mengajarkan saya –meskipun tidak pernah ikut serta- betapa ikatan alumni didaya-gunakan usahanya untuk menyebar-luaskan undangan, pamflet dan menemani sekolah menemui pihak-pihak tertentu. Untuk menggaet siswa baru pun, ikatan alumni dibebani tanggung jawab. Sayangnya, saat itu, ketika ikatan alumni membutuhkan sesuatu, sekolah seakan acuh.

Secara umum, pemanfaatan peran alumni oleh institusi pendidikan dapat dilihat dalam tiga peran; sebagai katalis, sebagai spider web-nya institusi pendidikan termasuk di dalamnya regenerasi, dan perannya dalam pengembangan ekonomi institusi pendidikan.

Kenyataan dunia yang semakin kompleks, secara tidak langsung, menuntut seseorang untuk melanjutkan pendidikannya. Tidak sedikit alumni yang melanjutkan pendidikannya bahkan hingga ke jenjang doktoral. Sebagian yang lain mungkin telah aktif di dunia pekerjaan. Hal yang tidak terelakkan di sini adalah, terdapat alumni-alumni, dengan kelebihan akademis dan jam terbangnya yang tinggi, menjadi lebih senior dari guru-gurunya dahulu. Kenyataan ini akan memunculkan dampak positif. Alumni dapat berfungsi sebagai katalis bagi institusi pendidikannya. Ide, konsep, dan solusi-solusi konstruktif mereka dapat di manfaatkan untuk mengembangkan kualitas institusi pendidikan.

Pegiat usaha multi level marketing (MLM) memanfaatkan jaringan untuk menjual produk mereka. Agen adalah struktur terpenting dalam cara kerjanya. Semakin banyak agen yang terjaring maka semakin banyak produk yang dapat dijual. Meski dalam bentuk yang sedikit berbeda, cara kerja dengan memanfaatkan agen sangat dibutuhkan oleh institusi pendidikan. Agen dibutuhkan sebagai perpanjangan tangan sekolah untuk menjaring calon siswa.  Semakin banyak agen, semakin banyak pula calon siswa yang akan terjaring. Dalam konteks ini, alumni-alumni-lah para agennya atau spiderweb-nya institusi pendidikan.

Di satu sisi keberadaan Ikatan alumni dapat disebut menghadirkan kembali kedirian alumni di dalam institusi pendidikannya (sebagaimana dijelaskan di atas). Namun di sisi lain, mereka tidak dapat untuk terlibat aktif lagi. Selain bergabung di ikatan alumni, me-regenerasi-kan diri lewat anak, sepupu atau saudara akan menjadi obat alternatif. Hal ini akan dimanfaatkan institusi pendidikan

Peran alumni dalam perkembangan ekonomi institusi pendidikan merupakan buah dari perannya yang pertama dan kedua. Pada satu sisi, menampilkan ketokohan (kesuksesan) alumni adalah cara yang sangat jitu untuk meningkatkan animo calon siswa baru terhadap institusi pendidikan. Peran strategis alumni di dalam dunia pekerjaan maupun nama besarnya secara tidak langsung akan membentuk cara pandang masyarakat terhadap institusi pendidikan. Di sisi lain, alumni-alumni (baca: agen-agen) dapat berfungsi sebagai perpanjangan tangan sekolah untuk mengenalkan, menyosialisasikan serta mengajak calon siswa untuk mendaftarkan diri ke sekolah. Cara ini sangat efektif dan telah terbukti. Dengan begitu, tak perlu menunggu waktu lama, institusi pendidikan ini akan menjelma menjadi sekolah favorit, terkenal, diminati oleh jutaan calon siswa. Seiring dengan hal itu, pertumbuhan ekonomi di lingkup institusi pendidikan akan semakin meningkat pula.

Tidak sulit bagi suatu institusi pendidikan, setelah peningkatan kualitas dan kuantitasnya, untuk memasok harga yang cukup tinggi kepada calon siswa yang hendak menembus institusi pendidikannya. Keinginan untuk meningkatkan biaya sekolah seiring dengan meningkatnya permintaan dan kepercayaan-diri institusi sekolah. Di sinilah fase di mana pertumbuhan ekonomi dengan cepat mengisi pundi-pundi institusi pendidikan. Keuntungan besar ini tidak saja menguntungkan institusi itself tetapi juga pihak-pihak yang terlibat aktif di dalamnya.

Pragmatisme antar Alumni

Pembahasan tentang titik balik diri Alumni telah panjang lebar kita bicarakan. Keseluruhan itu secara sederhana dapat disebut sebagai pelampiasan. Namun begitu, ada yang dapat disebut sebagai pelampiasan yang bijaksana. Pelampiasan disebut bijaksana jika alumni melihat peluang-peluang dalam ikatan tersebut.

Tidak ada yang menyangkal tentang istemewanya kebersamaan. Alumni, dengan demikian, melihat kelebihan-kelebihan dalam ikatan alumni ini. Ikatan diyakini akan membuka jalan-jalan baru bagi mereka. Koneksi, informasi, akses, peluang kerja perluasan bisnis begitu juga keilmuan dan nasihat-nasihat adalah salah banyak aspek yang akan dibidik. Dengan memanfaatkan kelebihan satu antara yang lain, alumni dapat saling membangun –meningkatkan taraf hidup masing-masing.

Pola relasi yang ditunjukkan alumni kepada alumni lainnya tentu akan berbeda, tidak seperti bagaimana mereka menyikapi orang lain pada umumnya. Keuntungan tersebut dapat meningkatkan “produktivitas bersama” alumni. Sebuah hadis menyebutkan “… siapa yang ingin dimudahkan rezekinya maka jalinlah silaturrahmi”. Hal tersebut ditemukan dalam ikatan alumni. Inilah yang kita sebut pragmatisme antar alumni.[]

Rahmat Fauzi

Rahmat Fauzi adalah alumnus Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Saat ini adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: