Ikatan Pelajar Asrama Puteri (IPAP)

Ikatan pelajar Asrama Puteri (IPAP) merupakan organisasi asrama puteri Madrasah Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi yang menjadi wadah bagi santriwati untuk mengembangkan kreatifitas, bakat, dan kemandirian. IPAP berada di bawah bimbingan ketua asrama, pimpinan madrasah sekaligus pimpinan pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek yang dibina untuk menjadi partner pembina Asrama. Lalu, ada apa dengan IPAP ini?

Sebelas tahun yang silam saat kami saat kami resmi menjadi santri Parabek, kami juga dengan resmi mencicipi nuansa baru kehidupan asrama. Kehidupan asrama adalah tantangan yang tidak akan pernah bisa kami lupakan. Rasa senang karena punya teman dari berbagai daerah, rasa sedih karena berpisah dengan orang tua, rasa cemas karena bersalah, dan rasa tertantang karena belajar banyak hal. Kami yang berasal dari kampuang, tiba-tiba diwajibkan memakai bahasa asing. Betapa beratnya perjuangan kami menghafal vocabularies dan mufradat. Kenapa tidak? Saat SD saya hanya tahu “ane, ente, bahlul” atau sekedar “I love You, I miss U”.

Tidak hanya wajib berbahasa, kami juga harus tepat waktu menjalankan shalat fardhu. Jika terlambat? Ya mau tidak mau harus menjalankan ‘iqab atau hukuman. “Duuuuh dikit-dikit ‘iqab. Susah banget ya jadi Santri ?”. Benar, saat itu memang susah, tapi sekarang kami memetik hasilnya. Bak kata pepatah “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Paksaan demi paksaan menjadi motivasi bagi kami. Karena dipaksa kami bisa berdisiplin, karena dipaksa kami dapat berbahasa asing, karena dipaksa kami bisa bertatakrama.

Dulu, kami hanya tahu bahwa semua paksaan untuk disiplin, berbahasa asing dan berkreasi adalah aturan. Namun saat kelas I Aliyah barulah saya menyadari bahwa dalang dari peraturan itu adalah IPAP. IPAP yang terdiri dari kakak-kakak keren dan kakak-kakak hebat luar biasa. Dan saat itu jugalah akhirnya kami menjadi bagian dari IPAP. Bukan bermaksud untuk terlalu percaya diri, tapi memang benar-benar keren saat itu. Meskipun dengan gaya bahasa yang amburadul tanpa memperdulikan aturan-aturan berbahasa, kami tetap berbahasa asing. Terngiang-ngiang kembali kata-kata “Ruzun Jaa-a”, “al-maaʻ intaha”, “baʻdaki na’am!” “ukut lah ha…”

Suasana tersebut kembali kami rasakan saat kembali bergabung di Asrama Puteri Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Dulu jadi santriwati, sekarang menjadi partner mereka. Tepat pada hari Senin, 08 Agustus 2016 bertepatan dengan 05 Dzulqaidah 1437H, telah dilantik pengurus IPAP untuk masa bakti 2016/2017. Selamat dan sukses kami ucapkan kepada kepengurusan IPAP yang baru dilantik, semoga amanah dalam menjalankan tugas. Semoga ananda kami dapat menjadi partner Ustadzah di Asrama dalam menyukseskan kegiatan-kegiatan baik yang berhubungan dengan spritualitas santri, bakat, kreatifitas, kemandirian dan akhlak. Jadilah tauladan bagi adik-adikmu baik dalam sikap, perkataan, dan perbuatan. Ikhlaskan sedikit waktu luang, pikiran dan tenaga ananda untuk kemajuan asrama yang sangat kita cintai. Suatu jargon yang tidak akan pernah terlupakan “My dormitory is my palace – asramaku adalah istanaku”. Nikmati masa-masa bersama di asrama, jadikan peraturan yang ada sebagai tantangan dan sesuatu yang harus dihadapi.

Dita Trinastia

I was born in a beautiful village, Payakumbuh, West Sumatra. I graduated from public health in Syarif Hidayatullah Jakarta and Hadith and its science in Darussunnah International Institute in Ciputat, South Tangerang in 2015. Now, I am devoting myself, becoming a teacher in Islamic Boarding School, Sumatera Thawalib Parabek.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: