Iman bukan (sekedar) Percaya

Sebagai seorang Muslim, kita seringkali berpikir bahwa percaya kepada Allah sebagai Tuhan sudah cukup untuk membuat kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman. Bahwa kita mempercayai Allah sebagai Pencipta, sebagai Pemberi Rezeki, sebagai Penentu takdir, itu sudah cukup untuk membuat kita terbebas dari ancaman pedihnya siksa neraka. Ketahuilah bahwa iman dan percaya bukanlah dua hal yang sama. Meskipun secara bahasa kedua istilah itu tampak sama, namun sebenarnya mereka jauh berbeda.

Mengapa demikian? Berikut penjelasannya.

Kita tahu, Al-Quran menjelaskan bahwa Iblis mengakui Allah sebagai Tuhannya. Bahkan dalam sebuah kondisi ia pernah meminta suatu permohonan kepada Allah. Permohonan, atau doa, adalah otaknya sebuah ibadah, sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah dalam hadis riwayat Imam Tirmizi no. 3371. Dari itu, dapat disimpulkan bahwa iblis pun berdoa (beribadah) kepada Allah. Dengan demikian, jelaslah bahwa Iblis dapat dikategorikan sebagai makhluk yang mengakui Allah sebagai Tuhan yang Menciptakannya (Al-A’raf: 12, Shad: 76) dan menjadikan-Nya sebagai tempat untuk meminta sesuatu (Al-A’raf: 14).

Namun begitu, ibadahnya iblis tidak lantas menjadikannya sebagai makhluk yang beriman; Allah menyebutnya sebagai makhluk kafir (Al-Baqarah: 34, Shad: 74). Pengakuan dan ibadahnya tidak mencegahnya dari pedihnya azab neraka jahannam (Al-A’raf: 18). Yasir Qadhi, seorang Teolog Islam, menyebutkan bahwa keterangan-keterangan yang terdapat di dalam Al-Qur’an mengenai sifat-sifat Iblis dan perbuatannya mengindikasikan bahwa sesungguhnya Iblis adalah makhluk yang mengakui Tuhan, namun tidak beriman. Meskipun ia percaya, tapi ia tidaklah beriman.

Memang benar, bahwa rukun iman yang enam merupakan pilar-pilar utama dalam keimanan seorang muslim. Yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, kitab suci-Nya, Rasul-Nya, hari akhir, dan qada dan qadar (H.R. Muslim, no. 1). Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah iman itu sebenarnya? Akankah iman itu hanya sebatas kepercayaan di dalam hati?

Jawabannya, tidak! Iman tidaklah sesimpel itu. Menjadi beriman bukanlah sesuatu yang mudah. Menjadi beriman membutuhkan ilmu yang cukup dan kesabaran yang tinggi. Bahwa kepercayaan merupakan bagian dari iman adalah benar. Namun itu hanyalah satu tahapan awal untuk mencapai keimanan yang hakiki.

Logika, untuk mencapai derajat keimanan, seorang yang telah sampai di tahapan meyakini haruslah menyadari bahwa ia harus melakukan sesuatu terhadap apa yang telah ia yakini itu. Sebagai contoh, kita yakin bahwa Allah adalah Tuhan yang Menciptakan alam semesta, maka tahap selanjutnya adalah dengan mencari tahu apa yang mesti kita lakukan dengan keyakinan itu. Misalnya dengan mencari alasan mengapa kita yakin bahwa Allah lah yang telah Menciptakan alam ini; mengapa bukan yang lain. Di sini, kita sampai pada tahap merenungkan ciptaan Tuhan.

Setelah merenungkan ciptaan Tuhan, kita masih perlu memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru yang nantinya akan membuat keyakinan tadi semakin kokoh dan tak tergoyahkan. Sebab, sesuatu yang benar, jika terus digali dan dipertanyakan akan semakin memunculkan kebenarannya sendiri. Itulah alasan mengapa berulang-ulang Allah Memerintahkan kita untuk terus mencari ilmu dan berfikir tetang tanda-tanda kekuasaan-Nya (Al-Baqarah: 164, Ali Imran: 90, dsb).

Sebagai bukti lainnya, kita dapat melihat pesan Allah di dalam surat Al-An’am ayat 99. Di sana terdapat penjelasan mengenai penciptaan tumbuh-tumbuhan, mulai dari pengairannya hingga ia tumbuh menjadi sebuah tanaman yang kokoh. Bagian penting dari ayat ini berada di akhir ayat: “sesungguhnya dalam penjelasan (tentang proses pertumbuhan) itu terdapat tanda-tanda (bukti) bagi orang-orang yang beriman.”

Dapat kita saksikan sendiri, bahwa Allah mengaitkan tanda-tanda kekuasaan-Nya dengan orang-orang yang beriman. Dengan demikian, keimanan akan muncul jika hati telah menemukan sebuah bukti. Adapun bukti, baru dapat diperoleh setelah adanya proses pencarian dan telaah yang mendalam terhadap sesuatu yang diyakini. Di dalam ayat ini, secara tersirat Allah Memerintahkan setiap orang untuk merenungkan hasil ciptaan-Nya jika ingin memperoleh keimanan.

Mungkin ada yang akan berkilah, bahwa bukankah dengan meyakini ayat-ayat Al-Qur’an saja, itu sudah cukup untuk menjadi hamba yang beriman? Contohnya dengan meyakini bahwa manusia diciptakan dari segupmal darah, dengan alasan bahwa al-Qur’an lah yang berkata demikian.

Memang betul, keyakinan terhadap kebenaran pesan yang termuat di dalam Al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat urgen. Namun, apakah pesan-pesan itu diturunkan hanya untuk diyakini secara buta, tanpa mencoba untuk membuktikan kebenarannya? Saya rasa, itu adalah hal yang bertentangan dengan pesan tersirat Al-Qur’an itu sendiri.

Pertanyaannya, bukankah ayat-ayat Al-Qur’an yang salalu kita baca setiap hari itu mengandung banyak teka-teki? Bukankah Allah sangat sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pembacanya? Dan, pertanyaan terakhir adalah, apakah itu semua diturunkan kepada kita hanya untuk didiamkan?

Mari kita berbicara tentang akal. Akal merupakan suatu alat yang disediakan Allah untuk kita. Kegunaannya tentu saja untuk berfikir. Berfikir tentang apa saja yang kita inginkan. Berfikir sebatas kemampuan berpikir manusia, yang tentunya sama sekali tak sebanding dengan kemampuan Tuhan. Sampai disini, pertanyaan selanjutnya ialah, sudah sejauh mana akal yang dianugerahkan kepada kita selaku manusia (yang mengaku telah beriman) digunakan untuk menunjang peningkatan kualitas keimanan kita? Bukankah berulangkali Allah telah menyuruh kita untuk terus berpikir? (Al-Baqarah: 44, 73, 76, 242; Ali Imran: 65, 118, dsb.)  

Sebagian besar ayat-ayat yang terdapat di dalam Al-Qur’an berbicara tentang aqidah; tentang segala hal yang berkaitan dengan keyakinan seorang hamba terhadap kebenaran Tuhan. Seluruh ayat tersebut berpotensi untuk dipertanyakan. Buktinya, telah lahir ribuan hingga jutaan buku tafsir yang mecoba mengungkap kandungan pesan seluruh ayat-ayat di dalam Al-Qur’an berdasarkan versi masing-masing penafsir. Semua hasil penafsiran yang muncul dari para penafsir tersebut tentu saja berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari pemikiran mereka masing-masing, sehingga lahirlah beraneka jawaban dan ragam penafsiran.

Nah, dari bentuk penyajian yang digunakan Allah melalui Al-Qur’an sebenarnya sudah cukup menjadi bukti bahwa manusia selalu dipancing untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan misterius Tuhan, yang tujuannya tidak lain adalah untuk membuat mereka semakin yakin dan akhirnya mencapai derajat keimanan yang hakiki (tentunya setelah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Tuhan melalui proses berpikir).

Sedikit tambahan, ibadah yang kita lakukan sejatinya bukan menjadi faktor utama keimanan terhadap Tuhan. Ibadah bukan sebagai penyebab kita disebut sebagai orang yang beriman. Ibadah hanyalah suatu akibat dari adanya keimanan di dalam hati. Apa gunanya beribadah, jika kita tidak tahu apa yang menjadi alasan kita melakukannya.

Meningkatnya kuantitas ibadah seseorang tidak lantas menjadikan imannya semakin bertambah. Namun sebaliknya, meningkatknya kualitas keimanan seseorang pasti membuat semangat ibadahnya semakin meningkat. Karena di saat itu ia semakin menyadari akan kebutuhannya terhadap Tuhan, sehingga ia akan selalu berusaha untuk menarik simpati Tuhan dengan perantara ibadah. Ia akan menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan, sebab ia menyadari bahwa ibadah merupakan kebutuhannya sebagai seorang hamba yang beriman. Jika sudah demikian keadaanya, maka ibadah akan semakin berpotensi untuk terhindar dari noda-noda yang biasa mencemarinya, seperti takabbur, riya, sum’ah, dsb.

Pada intinya, pencapaian derajat keimanan merupakan sebuah proses yang kontinyu. Sifatnya tidak stagnan; Iman harus selalu dipompa dan dipancing terus-menerus. Caranya ialah dengan memikirkan apa yang mesti kita perbuat terhadap objek yang kita imani.

Beriman kepada Allah ialah dengan cara mengkaji tanda-tanda kekuasaannya, baik melalui pemikiran akal maupun berdasarkan keterangan-ketrangan yang berbentuk normatif. Dari sana, muncullah semangat untuk selalu mendekat kepada-Nya dengan cara beribadah dan mematuhi segala kemauan-Nya.

Beriman terhadap adanya hari akhir, ialah dengan cara mencari tanda-tanda kebenarannya, baik malalui akal maupun keterangan yang bersifat normatif, yang kemudian akan memunculkan sikap yang cenderung hati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia ini. begitu juga dengan bentuk keimanan lainnya.

Kesimpulannya, jangan sekedar percaya. Namun teruslah mencari alasan mangapa sampai mempercayainya. Jangan pernah berhenti mencari, hingga anda menemukan keimanan yang hakiki. Wallahu a’lamu bisshawab.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: