Ini Kado Terindahku. Kamu?

Kita baru saja menemui tamu agung yang sangat istimewa. Tamu agung yang tengah dalam perjalanan ini rencananya akan mengadakan tour internasional dengan mengunjungi seluruh negara yang dilewatinya. Berhubung izin tinggalnya terbatas, maka jangan lewatkan kesempatan baik ini. Sebab tidak ada yang menjamin, apakah tahun depan kita masih diberi kesempatan untuk menerima kunjungannya kembali.

Apabila dalam setiap kunjungan yang dilakukan oleh orang-orang penting di negeri ini selalu meninggalkan bingkisan bagi daerah yang dikunjunginya, maka tamu agung ini juga meninggalkan bingkisan yang tidak kalah berharganya bagi orang yang dikunjunginya. Bingkisan  pertama adalah sebuah kabar gembira yang disampaikan melalui lisan rasulullah Muhammad SAW, melalui sabda beliau di mana dihapusnya seluruh dosa kecil yang selama ini kita lakukan. Bingkisan kedua adalah sebuah kesempatan meraih pahala ibadah yang nilainya lebih besar daripada beribadah selama 83 tahun.

Setiap kita tentu mempunyai idola. Ada mereka yang mengidolakan sosok seorang nabi, guru, artis, pejabat, pengusaha, konglomerat dan lain sebagainya. Kalau sekiranya idola yang kita kagumi itu datang dan berkunjung ke rumah kita, lalu ia makan dan minum di rumah kita, ia habiskan waktu bersama keluarga kita, ia temani hari-hari kita. Kemudian setelah sekian hari berlalu, tibalah saat baginya untuk berpamitan pulang kembali ke tempat asalnya. Menjelang kepulangannya itu, ia berpesan, ini ada dua bingkisan yang aku tinggalkan bagimu. Bila engkau bersyukur dengan dua bingkisan ini, niscaya engkau adalah termasuk kepada hamba yang telah Allah angkat derajatnya. Namun jika engkau sebaliknya, maka niscaya termasuklah engkau kepada golongan orang-orang yang merugi.

Lalu pertanyaannya adalah apa sesungguhnya yang menjadi penilaian tamu tersebut sehingga beruntunglah mereka yang dikunjunginya itu. Jawabannya tidak lain adalah hati, hati orang yang dikunjunginya itu. Bagaimana dengan hatinya ?

Rasulullah pernah bersabda : sesungguhnya di dalam sebuah jasad itu ada sebuah gumpalan  darah, apabila baik gumpalan darah tersebut, maka baiklah seluruh jasad tersebut. Namun apabila rusak, maka rusaklah jasad tersebut. Ketahuilah, itulah hati.

Kendali terletak pada hati. Jika seseorang itu tidak mampu mengendalikan hati ini secara baik, maka niscaya tubuh kasar manusia ini akan bergerak sendiri tanpa ada kendalinya. Gerak tubuh yang tanpa kendali itu, ibarat  mobil yang kehilangan stir, yang akan menabrak apapun yang di lewatinya, termasuk rambu-rambu yang sejatinya menjadi pedoman untuk keselamatannya.  

Oleh sebab itu, mari selalu kita jaga hati ini agar selalu berada dalam pengawasan kita. Bila hati tidak berada dalam kendali kita, maka niscaya kita akan terombang-ambing dalam kesesatan yang nyata, di mana setan adalah pengendalinya.

Bingkisan pertama yang ditinggalkan oleh tamu tersebut berupa paket ampunan yang disediakan Allah bagi hamba yang dianggapnya lulus dalam menjalani puasa yang lebih kurang satu bulan. Bingkisan kedua adalah satu paket khusus yang diterima oleh hamba yang benar-benar telah mempersiapkan kedatangan tamu tersebut dengan menunjukkan konsistensinya ia dalam menjalankan ibadah dan menjauhi segala bentuk perbuatan yang dapat merusak penilaian tamu tersebut kepadanya.

Beginilah gambaran orang yang mendapat bingkisan khusus dari tamu yang spesial itu :   

Setelah mendengar kabar bahwa pesawat yang membawa tamu agung tersebut beberapa saat lagi akan mendarat. Sebagai orang yang telah lama menunggu kedatangannya, iapun bergegas menuju bandara tepat di mana tamu tersebut akan turun dari pesawatnya. Kerinduan yang telah sampai pada titik nadir, membuatnya tidak dapat menahan air mata terus menetes berharap bingkisan khusus menjadi miliknya tahun ini.

Tidak beberapa lama, pintu pesawatpun terbuka, keluarlah tamu agung itu dari kabin pesawat yang membawanya . Dengan tatapan penuh bahagia tamu agung  itu melihat begitu banyak  orang yang menunggu kedatangannya. Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan melihat begitu banyaknya orang yang datang menyambutnya demi ingin memperoleh kesempatan mengajak sang tamu untuk menginap di rumahnya. Setelah tamu agung itu melambaikan tangan, secara otomatis pintu bandarapun terbuka dengan sendirinya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh orang yang berada di luar pagar bandara untuk melihat tamu tesrsebut dalam jarak yang lebih dekat. Pertanyaannya sekarang, apakah semua yang datang menyambut dan mendekatinya itu ia lihat? Tentu jawabannya tidak. Apakah semua yang tamu yang ia lihat itu ia senyum kepadanya?  Tentu jawabannya juga tidak. Apa semua yang ia senyum padanya itu ia ajak bicara ? sekalai juga tidak. Apa semua yang ia bicara ajak bicara itu ia kunjungi rumahnya. Tentu jawabannya  juga tidak, lalu siapa orang-orang yang akan dikunjunginnya itu. Mari kita kembali kepada pembahasan di atas, bahwa orang yang sejatinya akan dikunjungi itu adalah orang yang telah mampu menjaga hatinya dan mampu konsisten setiap ibadah yang dia lakukan.

Dari penggalan cerita di atas, dapatlah kita temukan, bahwa tamu agung yang dimaksud tadi itu adalah bulan ramadhan,  bulan yang telah Allah abadikan namanya di dalam kitab suci al-Quran. Sedangkan bingkisan khusus yang menyertainya itu adalah malam lailatul qadar. Sebagaimana yang telah kita jelaskan tadi, malam lailatul qadar itu adalah tamu yang datang. Dia tidak akan berkunjung menemui seseorang kecuali orang itu dianggapnya telah mempersiapkan kedatangangannya.

Tentu banyak diantara kita yang berharap dikunjungi oleh malam lailatul qadar itu, namun tingginya harapan tetapi tidak disertai dengan perubahan, maka itu hanyalah angan yang sulit diwujudkan. Mari kita lihat perubahan apa yang sebenarnya mesti kita wujudkan agar mendapat kesempatan meraih malam lailatul qadar.

Baca juga:  Terjemah Al-Qur`an: Dulu Ditolak, Sekarang Dibela

Dalam sebuah khutbahnya, Rasulullah pernah berkata: akan datang kepada kita bulan ramadhan, di dalam bulan ramadhan itu ada satu malam lebih baik dari seribu bulan. Saya berpesan kepadamu empat hal. Ada dua hal dari yang empat itu menjadikan Allah redho kepadamu, menjadikan Allah senang kepadamu, ada dua hal lagi yang harus kamu lakukan dalam rangka bulan ramadhan itu yang jangan tidak kamu  tidak peroleh.

Adapun dua hal yang menjadikan Tuhan ridho kepadamu, yang pertama perbanyak menanamkan dalam hati kesadaran akan Laa ilaaha illallah, yang kedua mohon beristigfarlah. Maksud dari Laa ilaaha illallah Allah itu adalah tiada satupun yang mengatur, menguasai segala sesuatunya dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya. Rumput yang menghijau atau kering, itu Allah yang atur, daun yang jatuh, lalu berserakan, itu Allah yang atur. Awan yang bergerak atau diam, itu Allah yang atur. Itulah pada hakikat makna dari Laa ilaaha illallah, tiada satupun yang mengatur alam raya ini kecuali Allah. Pengaturannya bisa berbentuk sunnatullah dan bisa berbentuk inayatullah. Inilah yang pertama kali kita tanamkan.

Nabi pernah bersabda : Perbaharuilah imanmu dari ke waktu ke waktu. Sahabatpun bertanya : bagaimana cara kami memperbaharui iman kami ya rasulullah ?. Rasulullah menjawab: perbanyaklah megucapkan Laa ilaaha illallah.

Yang kedua, Allah senang kepada hambanya yang selalu beristigfar. Kenapa kita mesti selalu beristigfar. Kata istigfar terambil dari kata gafara, yang artinya menutup. Lantas apa yang telah Allah tutup bagi kita. Kata Imam al-Gazali yang telah ditutup oleh Allah itu banyak sekali, yang pertama Allah tutup adalah yang dikandung oleh perut kita, yaitu kotoran yang ada dalam perut kita. Bagaimana kalau seandainya Allah lepaskan tutupan yang terdapat dalam perut kita, maka terlihatlah kotoran yang memenuhi sepanjang usus kita. Bagaimana kalau seandainya itu terjadi.

Yang kedua, yang Allah tutup bagi kita adalah keburukan hati kita. Bagaimana kalau seandainya Allah buka segala keburukan yang ada dalam hati kita, keburukan yang selama ini kita selalu tutupi. Alangkah malu dan tidak bernilainya kita dihadapan Allah SWT dan seluruh manusia.   

Selanjutnya, dua hal yang jangan tidak kita raih di bulan ramadhan itu adalah jangan sampai tidak mohon untuk dimasukkan ke dalam surga dan jangan sampai tidak mohon untuk terhindar dari neraka.    

Dengan demikian, maka semakin yakinlah kita bahwa bulan ramadhan itu bukanlah bulan yang biasa. Tetapi lebih daripada itu. Ramadhan adalah bulan istimewa di mana turunnya al-Quran, kitab suci umat Islam yang masih terjaga keotentikannya sampai saat sekarang.

Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 185

    شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Baca juga:  Unsur-unsur Serapan dalam Bahasa Al-Qur`an

Artinya : (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Dari ayat di atas, dapatlah kita pahami bahwa keistimewaan lain yang melekat di dalam bulan ramadhan adalah turunnya al-Quran pada malam ketujuh belas ramadhan.   

Kalau seandainya kita hidup di tengah para sahabat dan orang-orang shaleh dulu, maka jujur kita akui bahwa persiapan yang mereka lakukah begitu maksimal. Jauh sebelum ramadhan datang ia telah mempersiapkan segalanya.  Pertanyaannya sekarang, sejauhmanakah persiapan yang telah kita lakukan untuk menyambut bulan suci ramadhan itu. Atau kita adalah diantara orang-orang yang tiada persiapan apapun menyambut bulan suci ramadhan itu. Nauzubillah min zalik.

Jika para sahabat dan orang-orang shaleh dahulu begitu khawatirnya mereka tidak akan bertemu dengan ramadhan berikutnya. Bagaimana dengan  kita sekarang? adakah kekhawatiran yang sama yang  kita rasakan. Kalaulah seandainya belum, berarti kita belumlah mau menjadi hamba yang benar-benar ingin berubah dan manjadi hamba yang beruntung. Lalu apa yang menjadikan sahabat demikian tergantungnya kepada Allah SWT, tidak lain jawabannya adalah karena ada diantara kita yang mengantungkan segala sesuatunya itu kepada dirinya sendiri. Sehingga dia lupa, bahwa pada hakikatnya kehidupan ini telah diatur oleh Allah. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan ketergantungan kita kepada Allah SWT sebagaimana para sahabat-sahabat dan orang-orang shaleh dahulu. Semoga ketergantungan itu akan merubah anggapan kita selama ini, bahwa segala sesuatu yang terjadi di atas permukaan bumi ini adalah merupakan izin dari Allah SWT.

Mari kita lihat, doa yang selalu dipanjatkan oleh sahabat dan  orang-orang shaleh dahulu sebelum datangnya ramadhan. Berikut doanya :

Allahumma bariklana fi rajab wa sya’bana wa balligna fi ramadhana. Ya Allah berkahilah kami di bulan rajab dan sya’ban dan sampaikanlah kami kepada bulan ramadhan.

Inilah doa yang selalu dipanjatkan oleh sahabat dan orang-orang shaleh dahulu. Dengan linangan dan uraian  air mata mereka panjatkan kepada yang maha kuasa agar diberi kesempatan untuk bertemu dengan ramadhan dan beribadah di dalamnya.Tentu ini bukan suatu yang berlebihan, karena kita sejatinya ingin memperoleh ibadah puasa yang paling berkualitas.

Rasulullah bersabda : apabila engkau berpuasa, maka hendaklah engkau puasakan pendengaranmu, lisanmu dan penglihatanmu.

Jadi, hakikat puasa itu sebenarnya bukanlah menahan dari memakan makanan dan menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa saja.  Pendengaran, lisan (mulut), dan penglihatan mesti ikut kita puasakan. Kemudian jika seadainya ada diantara kita yang belum dapat menjaga pendengaran, lisan dan penglihatannya, lantas kemudian dia mengajak kita untuk melakukan sesuatu yang dapat menciderai ibadah puasa kita, seperti bergunjing, membuka aib orang lain, menyebarkan fitnah, mengadu domba dan hal terlarang lainnya. Maka sampaikan kepada mereka secara lemah lembut, bahwa kita sedang berpuasa. Wallahu a’lam[]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: