Inyiak Imam Suar: “Shalat di Masjid itu Pahalonyo Gadang”

Inyiak Imam Suar bukanlah hanya sekedar kakek kandung bagi saya. Dari 22 orang cucu Inyiak, saya merupakan cucu ke-17 dari Inyiak. Sejak dari kecil saya sudah mengenal Inyiak, bahkan ketika masih mengenyam pendidikan di sekolah dasar. Saya sering bermain ke rumah Inyiak di Parabek Ateh (rumah bako). Ketika itu, kondisi kesehatan Inyiak masih baik dan ingatan beliau pun masih segar.

Guru Senior (Syaikhul Madrasah), itulah gelar yang disematkan pada sosok beliau karena menjadi guru dari semua guru di Ponpes Sumatera Thawalib Parabek. Beliau merupakan tokoh ulama yang berperan penting, bahkan menjadi imam di Mesjid Jami’ Parabek sampai akhir hayatnya.

Salah satu kebiasaan Inyiak yang dikenal oleh keluarga maupun masyarakat adalah shalat lima waktu yang selalu didirikan di masjid. Beliau bahkan sering menjadi imam sholat ketika masih sehat. Kebiasaan itu rutin Inyiak lakukan sampai kesehatan beliau mulai menurun. Beliau mulai jarang menjadi Imam namun tetap hadir shalat berjamaah di mesjid.

Zaman pun mulai berlalu, saya mulai mengenyam pendidikan tingkat Tsanawiyah di Ponpes Thawalib Parabek. Kesehatan Inyiak pun mulai menurun seiring bertambahnya usia. Daya ingat beliau juga menurun saat saya sudah menjadisantri ‘aliyah.

Tetapi ada suatu hal yang membuat saya kagum dengan sosok Inyiak.Meskipun beliau lupa dengan cucu dan keluarganya, tetapi tidak dengan shalat berjamah. Beliau tetap rutin shalat di masjid, bahkan sudah berada di mesjid beberapa menit sebelum azan.Aktifitas ini terus berlanjut sampai minggu-minggu terakhir sebelum beliau wafat.

Tepat seminggu sebelum beliau wafat, Inyiak shalat Zuhur berjama’ah di Mesjid Jami’. Pada hari itu ayah saya (Ust. Taufiq Suar) kaget melihat Inyiak yang dalam keadaan kurang sehat menyempatkan diri pergi ke masjid. Padahal,seharusnya Inyiak beristirahat di rumah. Lalu ayah menyuruh saya untuk mengantarInyiakpulang ke rumah setelah shalat.

Dalam perjalanan pulang, Inyiak tiba-tiba berhenti dan duduk di sebuah tembok batu, beliau berkata dengan suara pelan, “Inyiak panek, istirahat sabanta dulu”. Saya pun patuh mengikuti apa yang beliau inginkan. Di sela-sela istirahat, sayamengajak Inyiak berbicara dan menanyakan satu pertanyaan kepada beliau.

Inyiak, Inyiak kan sadang sakik. Kok masih sempat jo shalat di masjid?”

Shalat di masjid itu pahalonyo gadang.”

Mendengar jawaban singkat Inyiak, saya pun terdiam sekaligus kagum melihat keistiqamahan beliau dalam beribadah meskipun dalam keadaan sakit.

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, Inyiak tidak lagi terlihat di mesjid. Tepat lima hari setelahnya, Sabtu, 22 Januari 2011,Inyiak dibawa ke rumah sakit Ibnu SinaBukittinggi karena kesehatannya yang kian memburuk. Malam itu ayah bermalam di rumah sakit untuk menjaga Inyiak. Hingga subuh menjelang, 23 Januari 2011, Inyiak menghembuskan nafas terakhirnya. Semua keluarga, masyarakat, dan kelaurga besar Thawalib Parabekberduka atas kepergian seorang tokoh ulama Parabek. Termasuk saya, cucu Inyiak yang menemani beliau ketika pulang dari masjid hari itu.

Saya pun mulai berpikir, ternyata perkataan Inyiakhari itu adalah kata-kata sekaligus nasehat terakhir yang saya dengar langsung dari beliau.Shalat di mesjid itu pahalonyo gadang, itulah nasehat terakhir beliau yang sampai sekarang selalu saya usahakan untuk menjaga dan mengamalkannya.

Semoga Allah merahmati Inyiak Imam Suar dan Allah banyakkan orang-orang seperti beliau, baik itu dari anak, cucu, maupun dari murid beliau di Ponpes Thawalib Parabek.

Abdul Rahman Taufiq

Abdul Rahman Taufiq adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2011 sekaligus cucu dari (alm) Inyiak Imam Suar. Saat ini adalah mahasiswa S2 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: