Inyiak Parabek “Syaikh Sutan Ibrahim Musa” (1884 – 1963) [Bagian #1]

Setelah beberapa kali diskusi dengan rekan alumni di grup medsos khususnya pengelola situs Surau Parabek untuk biografi Inyiak Parabek yang diamanahkan kepada penulis, baru saat ini dapat dikerjakan. Hal ini disebabkan karena kesibukan dan lain hal, terutama buku-buku yang akan dirujuk belum dapat diakses sehingga keterlambatan ini menjadi-jadi. Maklum, seperti kritik Inyiak Katik (Khatib Muzakkir) dahulu, ternyata kapasitas yang dimiliki masih di level “al ‘ilmu fi sutur laa fi sudur” (Ilmu masih diatas kertas belum masuk ke hati dan otak).

Rujukan-rujukan tersebut menjadi sangat penting karena polemik data sejarah yang dipertanyakan sejumlah artikel di surauparabek.com, terutama tentang kapan berdirinya Madrasah Sumatera Thawalib Parabek.  Disebutkan bahwa, pada perayaan 1 Abad Sumatera Thawalib Parabek tahun 2010 silam ada semacam protes dari dari non alumni Parabek tentang keabsahan 1 abad tersebut. Jadi, atas dasar itulah, penulis tidak mau terburu-buru jadi dibaca dan ditelaah kembali.

Ketika menulis ini pun, penulis masih merasa ada keraguan; apa yang penulis sampaikan di sini mungkin saja baru bersifat tentatif. Hal itu karena sumber terawal yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang Inyiak Sheikh Ibrahim Musa dan Thawalib Parabek masih belum kunjung datang. Pusaka Indonesia, judul buku tersebut. Ia adalah otobiografi tokoh-tokoh pemimpin dan intelektual bangsa terawal republik ini yang dikumpulkan oleh Tamar Djaja. Menurut Bapak Suryadi Sunuri, seorang dosen dan peneliti urang awak di Leiden University, Tamar Djaja merupakan pionir penulisan otobiografi di Indonesia. Lebih lanjut tentang Tamar Djaja bisa dibaca di sini.

Buku tersebut sangat penting karena “Pustaka Indonesia” ini ditulis di antara tahun 1939-1940 an dimana pada saat itu Inyiak Parabek juga masih hidup dan tentu akan melakukan koreksi jika terjadi kekeliruan. Tambahan lagi, karena ini buku Otobiografi, jadi sangat mungkin Tamar Djaja juga mewancarai Inyiak Parabek langsung sehingga keabsahannya teruji.

Maaf, jika pengantar tulisan ini menjadi sedikit panjang dan terkesan agak “berat” seperti akan menulis skripsi dan thesis. Tujuannya tak lain ingin menjawab pertanyaan pertanyaan dan keraguan bagi sebagian kita. Karena akses kepada biografi Inyiak Parabek sangat terbatas dan satu persatu mulai hilang ditelan zaman, semoga tulisan tidak seberapa ini bisa menjadi penghubung kelanjutannya. Baiklah kita akan mulai.

Siapa itu Sheikh Ibrahim Musa atau familiar bagi banyak orang dengan sebutan Inyiak Parabek? Selain nama diatas itu beliau juga dikenal dengan nama Sheikh Sutan Ibrahim sebagaimana yang ditulis oleh B.J.O Schrieke seorang Sosiolog dan juga pegawai penjajah Belanda dalam bukunya Pergolakan Agama di Sumatera Barat; Sebuah Sumbangan Bibliografi. Nama Sutan tersebut juga dapat dijumpai dalam majalah al Bayan Edisi No 19, Tanggal 18 juni 1920 M/1 Syawal 1338 H di rubrik ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1338 dari para ulama di Sumatera Barat. Nama Inyiak Parabek dengan sebutan “Haji Sutan Ibrahim Musa Parabek” berada di urutan pertama

Tentang waktu kelahiran inyiak Parabek ada beberapa versi baik tanggal maupun tahun masehi dan hijriyahnya. Pertama dari sisi tanggal lahir berdasarkan informasi dari Prof. Dr. Mahmud Yunus dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam (1957), Syaikh Ibrahim Musa dilahirkan pada tanggal 13 Syawal 1301 H. Informasi ini juga sama dengan berita reportase meninggalnya Inyiak Parabek yang diterbitkan oleh Majalah Gema Islam No 38/39, 1 September 1963 M/ 11 Rabi’ul Awal 1383 M. Kedua, dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981) yang diterbitkan oleh MUI dan Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Thawalib (1995) tulisan Burhanuddin Daya, angka yang disebutkan adalah tanggal 12 Syawal 1301 H. Hal yang sama juga disampaikan oleh Uda Jayusman Dt. Mangkudun dalam tesisnya Inyiak Parabek dan Pemikiran Hukum Islam

Perbedaan informasi juga terjadi ketika mengkonversi dari tahun hijriyah ke tahun masehi dimana penyandingan antara tahun hijriyah dan masehi tidak konsisten dilakukan. Di awal abad 20 masyarakat kita yang Muslim cenderung menuliskan berbagai even dalam kalender hijriyah. Agak bertolak-belakang dengan saat ini, dimana penulisan tahun masehi lebih dominan sehingga tak banyak yang tahu kelender hijrah. Burhanuddin Daya, Deliar Noer dalam bukunya The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900 – 1942 (1973), dan beberapa buku biografi ulama Sumatera Barat yang terbit belakangan menuliskan bahwa Inyiak Parabek lahir tahun 1882. Sementara Prof. Mahmud Yunus, Majalah Gema Islam dan Thesisnya Uda Jayusman Dt Mangkudun tahun masehi kelahiran Inyiak Parabek adalah 1884 M.

Dari beragam informasi diatas, penulis lebih cendrung menyatakan bahwa tanggal lahir Inyiak Parabek adalah 13 Syawal 1301 H bertepatan tahun 1884 M, baik dari sisi tanggal maupun tahun. Ini mengacu kepada sumber yang paling awal menulis informasi mengenai inyiak Parabek yaitu buku Prof. Mahmud Yunus yang diterbitkan tahun 1957, begitu juga berita di Majalah Gema Islam tahun 1963. Sementara sumber-sumber yang menyebutkan versi lainnya datangnya/diterbitkan belakangan. Saya tidak tau informasi yang ditemukan dalam buku Tamar Djaja, mohon informasi kalua ada yang bertemu buku tersebut, Wallahu ‘alam.

Kecanggihan teknologi bisa memberikan kita informasi tambahan. Dengan bantuan konversi online tahun masehi ke Hijriyah atau sebaliknya, dapat dilihat bahwa 13 Syawal 1301 H bertepatan dengan Hari Selasa 5 Agustus 1884 M, bukan 1882 M. Ini semakin menguatkan penilaian saya.

Mengenai hari, Uda Jayusman dalam tesisnya menyebutkan hari Minggu. Sementara itu, calender converter online menyebut Selasa, dengan mencantumkan catatan kemungkinan kesalahan 1 hari (There is a small probability of one day error). Untuk perihal ini karena perbedaan waktu 1 hari tersebut memang sedikit sukar menentukan jadwal yang betul.

Inyiak Parabek lahir di Parabek, putra satu-satunya dari seorang ulama bernama Musa bin Abdul Malik dan seorang ibu bernama Maryam. Beliau mempunyai  saudara perempuan bernama Kamariyah. Waktu kecil Inyiak Parabek belajar mengaji dengan kedua orang tuanya  sampai kemudian di umur 13 tahun beliau dikirim belajar ke berbagai tempat di Minangkabau. Tempat pertama yang beliau datangi adalah Surau Tuangku Mata Air di Pakandangan Pariaman. Disana beliau belajar Nahwu dan Sharaf selama 1 tahun. Kemudian beliau pindah mengaji ke Batipuh Baruh dan Batu Taba di Padang Panjang. Di sana Inyiak Parabek belajar Ilmu Fiqh Matan Minhaj dengan Tuanku Angin selama kurang lebih 1 tahun juga.

Dari Batu Taba beliau pindah ke Ladang Lawas Banuhampu belajar dengan Sheikh Abbas di Padang Lawas selama 1 tahun. Kemudian beliau meneruskan belajar ke Biaro IV Angkat Candung belajar kepada Tuanku Sheikh Abdul Shamad dalam bidang pelajaran Tafsir Al-Quran sekitar dua tahun. Sampai ke Biaro, dalam perjalanan menuntut ilmu tersebut, beliau ditemani oleh kakak sepersukuan yang bernama Haji Abdul Malik. 

Dari Biaro beliau meneruskan belajar sendirian tanpa diikuti saudaranya Abdul Malik lagi. Di sana beliau belajar kepada Sheikh Jalaludin al Kasai di Sungai Landai selama satu setengah tahun, kemudian berkelana lagi belajar ke Talago Suliki di Payakumbuah dengan Sheikh Abdul Hamid selama dua tahun. Jika ditotal ada kurang lebih 8 tahun Inyiak Parabek mendatangi berbagai tempat untuk belajar di usia remajanya dari tahun 1895 sampai 1902 (1313 – 1320 H).

Diantara guru-guru beliau selama 8 tahun tersebut hanya Sheikh Abbas Qadhi Ladang Laweh yang diketahui cukup rinci tentang biografinya, sementara guru-guru yang lain sampai saat ini belum diketahui lebih lanjut. Sedikit tentang Sheikh Abbas Qadhi Ladang Laweh (1285 – 1370 H) dengan nama lengkap Abbas bin Wahab bin Abdul Hakim bin Abdul Gaffar. Beliau merupakan pencetus ide pendirian Madrasah Tarbiyah Islamiyah, dan beliau adalah orang tua dari dua tokoh dan cendikiawan terkenal yaitu Sheikh Sirajuddin Abbas dan Syamsiyah Abbas.

Setelah 8 tahun belajar dengan beberapa ulama di Minangkabau kemudian Inyiak Parabek melanjutkan pelajarannya ke Mekkah, pada bulan Rajab 1320 H, ditemani kembali oleh saudara sepersukuannya Abdul Malik. Di Mekkah, seperti kebiasaan banyak jamaah haji setelah menunaikan kewajiban rukun Islam tersebut tidak serta merta pulang ke kampung halaman tapi kemudian menetap untuk belajar beberapa tahun di Makkah. Begitu juga dengan Inyiak Parabek; beliau memang berniat bukan hanya untuk menunaikan ibadah Haji tapi juga untuk menuntut ilmu. Diantara guru-guru beliau selama di Makkah adalah Sheikh Ahmad Khatib al Minangkabawiy, Sheikh Muhammad Jamil Jambek, Sheikh Ali bi Husein, Sheikh Mukhtar al Jawiy, dan Sheikh Yusuf al Hayyat.

Setelah melewati kurang lebih 8 tahun lamanya di Makkah, pada tangal 1 Rabi’ul awal 1327 H/1909 M Inyiak Parabek pulang ke kampong halamannya Parabek Kubu Nan Tujuah. Tak lama setahun sekembali dari Makkah pada tahun 1910 beliau mulai membuka pengajiannya di surau Parabek dalam bentuk halaqah yang pada masa itu merupakan pola belajar yang jamak diketahui sama seperti surau-surau lainnya. Selang 4 tahun lamanya mengajar dalam bentuk Halaqoh kemudian Inyiak Parabek berencana kembali mendalami pelajaran ke Mekkah pada tahun 1333 H/1914 M. Dalam masa rentang 4 tahun dari 1910-1914 ini Inyiak Parabek juga menggenapkan separoh agamanya berumah tangga menikahi Syarifah Ghani anak dari saudagar kaya dari Kota Padang Haji Abdul Gani. Dengan Istri beliau dan anak pertama mereka, Taher Ibrahim, Inyiak Parabek kembali berangkat ke Mekkah untuk kali kedua. Di Mekkah, beliau hanya bertahan selama dua tahun sebelum akhirnya kembali pulang ke Parabek karena terjadinya konfrontasi antara Syarif Hussein dan Turki Ustamani menyusul meletusnya Perang Dunia Pertama tahun 1914.

 

bersambung!

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: