Jalur Lima Waktu

Pernah terbit di koran Harian Rakyat Sumbar Februari 2014

Lagi, entah untuk yang keberapa kalinya teman-teman hamzah mencemoohnya karena menyapu halaman masjid. Ia tidak sedang dihukum, ia hanya ingin membersihkan halaman masjid ini setiap sore menjelang shalat maghrib. Lebih tepatnya, ada hal yang menarik hatinya sehingga ia ingin  melihatnya setiap jam menjelang shalat. Lima waktu sehari semalam.

Hamzah terus menggerakkan sapunya. Halaman masjid itu berkeramik hitam. Langit luas, Gunung Singgalang dan Gunung Merapi menjadi latar masjid itu. Di dekat tempat berwudhu laki-laki terdapat sebuah kuburan. Kuburan pendiri madrasah tempat Hamzah telah menuntut ilmu setahun ini. Madrasah Sumatera Thawalib Parabek.

Sore ini, seperti biasa Faris menemani Hamzah membersihkan halaman masjid. Namun Faris bukanlah ikut membantu, ia hanya menghafal al-quran di pelataran masjid itu sambil sesekali mengajak Hamzah berbicara ringan.

“Limadza tuhibbbu an taknusa al-masjidi ya akhi?” tanya Faris. Butuh waktu cukup lama bagi Hamzah untuk mencerna kata-kata itu. Perkosakataan Hamzah memanglah tidak sebanyak Faris yang notabenenya merupakan anak takhasus bahasa arab, tempat orang-orang dengan kecerdasan linguistic itu berkumpul.

“I just like it brother. No special reason” jawab Hamzah berbahasa inggris kaku dan agak patah-patah.

Beberapa orang disekeliling mereka tertawa. Bahasa arab yang dibalas bahasa inggris sudah merupakan hal yang wajar di pesantren ini. Yang penting mereka masih tetap mengerti maksud satu sama lain selama jam berbahasa. Namun diluar jam berbahasa, kebanyakan santri aktif menggunakan Bahasa Minangkabau.

“Oi, lah jam bara hari kini ko. Ngecek se lah jo bahasa awak lai. Kan labiah lamak rasonyo. Saraso baliak ka kampuang” komentar Anfal, anak asli Bukittinggi.

Tak lama, saat semburat merah telah muncul di langit barat, suara adzan pun mulai berkumandang. Hamzah dan teman-temannya diam mendengarkan adzan dan menjawabnya. Hamzah sangat menyukai irama adzan disini. Iramanya lembut dan memiliki ciri khas tersendiri. Berbeda dari kampungnya di Dharmasraya. Suara adzan yang selalu didengarnya setiap maghrib, suara salah satu pengabdi ilmu di parabek. Inyiak, sapaan akrabnya. Sapaan bagi laki-laki yang telah melewati batas umur setengah abad itu.

Setelah adzan berkumandang, para santri pun mulai berdatangan. Ada yang sibuk mengantri ambil wudhu dan ada juga beberapa yang langsung memasuki masjid. Sungguh kebiasaan-kebiasaan pondok yang sudah jadi makanan sehari-hari.

 Seusai shalat maghrib, Hamzah dan Faris tetap berada di masjid. Mereka tidak berencana untuk kembali ke asrama dan makan malam seperti kebanyakan santri. Faris sibuk menghafal al-quran. Memang hafizh al-quran menjadi keinginan Faris. Ia ingin menghadiahkan sepasang mahkota terindah di surga bagi kedua orang tuanya yang telah duluan dipanggil pulang oleh sang pencipta.

Gumam suara kaji Faris yang pelan tidak mengganggu Hamzah. Ia fokus kepada sesuatu yang lain. Inyiak. Ya, Inyiak adalah orang yang menarik hatinya untuk selalu berlama-lama di masjid. Itu pula alasannya senang membersihkan halaman masjid sebelum shalat maghrib. Namun ia tidak memberitahu siapa pun tentang rahasia kecilnya ini.

Semenjak memasuki Parabek, Inyiak merupakan salah satu sosok yang begitu menarik hati Hamzah. Cerita tentang perjuangan beliau dengan sang pendiri Madrasah, Syekh Ibrahim Musa. Serta tekad beliau untuk hidup dan mengabdi demi ilmu, bahkan beliau pernah berkata bahwa beliau ingin dipanggil Allah juga saat tengah mengajar. Semua hal tentang Inyiak begitu menarik hati Hamzah.

Sungguh, Hamzah begitu ingin mendekati Inyiak dan mengajak beliau berbicara. Namun entah kenapa niat itu selalu ia urungkan. Bukan karena sosok Inyiak yang kurang bersahabat. Inyiak terkenal ramah pada siapa saja. Hamzah hanya malu untuk memulai pembicaraan. Ia merasa ada sekat pembatas antaranya dengan Inyiak yang terlalu tinggi untuk didaki.

Malam itu Inyiak juga tetap berada di masjid.  Suara batuk sesekali terdengar dari sosok yang sudah tua renta. Tubuhnya yang amat kurus sehingga melihatkan urat-urat dan tulangnya itu tampak bergetar cukup hebat saat beliau seolah mencoba menahan suara batuk beliau.

Tiba-tiba saja suara bunyi alarm pertanda telah masuknya waktu Isya berbunyi. Inyiak berdiri dari duduknya dan mengumandangkan adzan. Irama yang sama seperti biasanya. Hanya saja dengan jeda yang lebih lama, seolah Inyiak tidak sampai nafasnya untuk melantunkan kalimat-kalimat seruan itu.

Tak lama shalat berjamaah pun dilaksanakan. Hamzah shalat dibarisan terdepan tepat dibelakang Inyiak yang menjadi imam. Perasaan Hamzah begitu tenang. Namun entah kenapa air matanya mengalir. Untuk pertama kalinya ia menangis dalam shalatnya. Sekilas ia merasa bahwa shalat jamaah ini akan menjadi shalat jamaah terakhirnya dengan Inyiak. Ia hanya mendapatkan perasaan yang entah dari mana datangnya.

Seusai shalat Isya, Hamzah pun kembali ke asrama. Ia belajar bersama dengan teman-temannya dan membuat segelas susu untuk bersama. Memang tinggal di asrama membuat mereka amat dekat, bahkan serasa keluarga sendiri. Malam itu Hamzah tidur dengan perasaan tenang setelah ia membaca beberapa lembar al-quran. Saran dari Faris memang benar. Membaca al-quran dapat menenangkan hati.

Pagi itu dunia serasa bergetar. Hamzah yang masih setengah sadar seolah mendesak hatinya untuk berkata bahwa berita yang di dengarnya adalah sebuah kebohongan. Ya, ia ingin kabar bahwa Inyiak telah kembali ke rahmatullah itu adalah sebuah kebohongan.

Segera hamzah mengambil sendalnya dan berlari kearah masjid. Hari sudah menunjukkan pukul 04.45 pagi. Jam-jam dimana ia biasanya menunggu dan mengamati Inyiak dalam diam. Hamzah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru masjid. Kosong. Tak ada sosok dari orang yang ia cari disana. Hanya ada beberapa ustadz dengan wajah agak suram sedang menyiapkan pelataran masjid. Hamzah terduduk. Kabar itu bukanlah sebuah kebohongan.

Hari itu cuaca cerah  berawan. Ba’da zuhur jenazah Inyiak yang sudah diselenggarakan itu dihantarkan beramai-ramai ke tempat peristirahatan terakhirnya. Semua santri dari kelas satu sampai kelas enam berbondong-bondong menyusuri jalanan yang memang jarang dilewati kendaraan itu. Barisan jalan para santri itu seolah merupakan barisan doa dan air mata yang mereka limpahkan untuk sang Inyiak. Begitu pula dengan Hamzah dan Faris yang masuk dalam barisan panjang itu. Barisan pengiring bagi dia yang semoga Allah meredhoi semua perbuatannya.

Sepulangnya dari makam, Hamzah tidak kembali ke asrama. Ia duduk diam sambil termangu di shaf terdepan di masjid. Tempat dari malam ia menjadi ma’mum dari imam yang ia idolakan itu. Imam yang selalu ia perhatikan, bahan sampai ke kebiasan kecil yang mungkin tak orang sadari. Imam yang bahkan tak pernah ia ajak bicara.

Masjid besar parabek ini seolah menjadi saksi. Langkah demi langkah kaki yang berbondong-bondong menghampirinya. Ya, masjid ini adalah jalur lima waktu. Jalur yang hubungkan hamba dengan Pelindungnya. Jalur, tempat Hamzah menemukan jalurnya yang seiring jalur dengan Inyiak.  Jalur lima waktu, Masjid Parabek, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek.

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

One thought on “Jalur Lima Waktu

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: