Jangan Abaikan Pondasi!

Rahmat Fauzi mempertanyakan urgensitas bermazhab dalam artikelnya “Bermazhab, Masih Mungkinkah?” Idenya adalah dekonstruksi dan rekonstruksi. Kegelisahannya adalah laju perubahan dan perkembangan realitas menghadapi teks pijakan Mulim yang ternyata sebaliknya. Teks tetap. Ia tidak berubah, dari dulu hingga sekarang dan sampai kapanpun juga. Kegelisahan lainnya adalah kecenderungan polemis mazhabi Muslim yang tidak jarang memakan korban jiwa. Sementara itu, di belahan dunia lain, orang-orang telah berkutat dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang mungkin saja berada di luar perkiraan siapapun yang hidup di dunia ini dua atau tiga abad yang lalu.

Relativitas, ide-ide khas kaum post-modernis, yang dipegang oleh Fauzi dalam mengkritik kecenderungan bermazhab. Menurutnya, setiap manusia adalah anak zamannya. Tak kepalang tanggung, ia mengutip Muhammad Shahrur yang menepikan kompetensi para pendahulu dalam memahami teks. Menurutnya, pemikir kontemporer lebih berkompeten mempertimbangkan kemajuan ilmu yang telah dicapai manusia saat ini.

Tapi, benarkah bermazhab tidak diperlukan? Judul artikel tersebut memang menggelitik, tapi tidak semenggelitik kontennya. Hal ini karena ia lupa pada suatu hal, bahwasanya setiap pemikiran membutuhkan pondasi berpikir. Anomali memang selalu muncul. Sebagaimana yang ia sampaikan, dibutuhkan reaksi ilmiah yang cepat untuk menanggapi anomali demi anomali. Tapi, bagaimanakah seseorang mungkin dan bisa menanggapi anomali tersebut tanpa pondasi?

Artikel tersebut menggunakan teori paradigm shift Thomas Khun untuk mempertanyakan kecenderungan bermazhab. Pertanyaanya, apakah teori tersebut menolak bermazhab? Mari kita lihat ke sejarah awal Islam. Tafsir bi al-Riwayah dan Tafsir bi al-Ra’y sejatinya adalah dua paradigma berpikir yang berbeda. Tafsir bi al-Riwayah pada titik ekstrim menyatakan bahwa otoritas penafsiran hanya milik Rasulullah. Kita dengar Umar pernah menjinjing sahabat ke hadapan Rasulullah karena berpendapat tentang makna Al-Quran. Inilah bentuk sikap paling ekstrim dalam Tafsir bi al-Riwayah. Hanya Rasulullah yang berhak menafsirkan Al-Quran. Para sahabat atau generasi siapapun yang akan menafsirkan Al-Quran harus merujuk kepada riwayat dari Rasulullah. Akan tetapi, Rasulullah sendiri membolehkan sahabat untuk berijtihad. Inilah yang kemudian memperluas cakupan tafsir bi al-riwayah.

Pada sisi lain, Tafir bi al-Ra’y adalah penafsiran dengan menggunakan perangkat keilmuan yang telah berkembang. Ra’y di sini bukan berarti penafsiran dengan rasio ‘nan kalamak di isi paruik’. Begitulah kira-kira dari Husain al-Dzahabi mengenai paradgima kedua ini. Seiring berkembangnya ilmu bahasa, Abu Ja’far al-Thabari menafsirkan Al-Quran dengan filologi. Contoh lainnya adalah al-Razi yang karena begitu banyak perangkat yang ia gunakan, tafsir digelari dengan fihu kullu syai’ illa al-tafsir.

Contoh di atas memperlihatkan pergeseran paradigma. Islam telah menyebar ke luar Makkah-Madinah ke batas yang paling jauh di tanah Afrika dan Eropa. Realitas yang dihadapi Al-Quran berkembang. Ilmu pengetahuan juga berkembang.  Dari itulah muncul aneka ragam dan pergeseran paradigma tafsir. Inilah yang kemudian dibahasakan dengan mazahib al-tafsir.

Itulah istilahnya, Mazahib al-Tafsir; mazhab-mazhab tafsir. Istilah ini mengindikasikan bahwa pergeseran paradigma tidak lantas menolak berafiliasi ke mazhab tertentu. Justru, dalam perspektif tertentu, revolusi ilmiah yang disebut oleh Khun hanya akan memunculkan mazhab yang baru. Dan mazhab yang baru ini tidak akan pernah otentik. Ia akan selalu menjadi perwujudan dari adaptasi terhadap apa yang telah ada. Di samping itu, bermazhab berarti berpondasi. Pondasi ini telah dibangun dan ditempa dalam ruang sejarah. Segala reaksi atas anomali yang muncul dalam realitas akan bergerak di atas pondasi. Itu artinya, pergeseran paradigma juga bisa bergerak di dalam mazhab yang sama.

Seberapa pentingkah berpondasi dalam menanggapi anomali? Jika tidak penting, ia tidak akan bernama pondasi. Filsafat dan ilmu pengetahuan selalu berkembang. Sangat tepat kiranya pergeseran paradigma yang dikemukakan oleh Khun. Akan tetapi, dalam konteks keilmuan Islam, setiap pergeseran paradigma harus dibaca dan ditanggapi dengan kaki berpijak kepada suatu landasan yang jelas. Jika tidak, maka nilai Islam hanya akan ditarik-ulur oleh aneka ragam kecenderungan pemikiran. Pemikir modernis akan mengkalim Islam kompatibel dengan modernitas. Para pemikir post-modernis menegaskan semangat post-modernisme merepresentasi ajaran prinsip Islam. Suatu saat akan muncul pemikiran yang mendekonstruksi post-modernisme, dan kembali akan menyatakan ia adalah pikiran yang Islami. Menggunakan bahasa Alfathri Adlin, Islam hanya menjadi keset dalam pertarungan wacana tersebut.

Dengan demikian, bermazhab berarti memberi pondasi di tengah kontestasi pemikiran. Bermazhab menyediakan pijakan yang kokoh dalam perang wacana. Ketika Islam mengemukakan maqashid al-syari’ah sebagai tujuan ultim dari ajarannya, maka ide-ide modernitas dan post-modernitas harus dibaca dalam kerangka itu. Bukan sebaliknya, seperti membaca Islam dengan modernitas yang menepikan agama di titik terjauh, atau post-modernis yang sama sekali meruntuhkan struktur nilai.[]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Komentar

  1. […] Lama saya termangu memikirkan apa motif Fauzi dalam tulisannya. Apakah karena mencari sensasi atau memantik semangat pembaca (manjagoan singo nan taakuak-akuak) untuk membaca dan meneliti lebih banyak hingga bisa mencapai kemajuan yang dialami oleh Barat. Mudah-mudahan motif kedualah yang ada dibenaknya ketika menulis ini. Bersyukur tulisan ini juga direspon sebelumnya oleh Fadhli Lukman dengan artikelnya “Jangan Abaikan Pondasi”. […]

  2. ‘bermazhab berarti berpondasi, di bangun dan di tempa dalam ruang sejarah’…
    hmhm…. menjawab sekali dalam keragu-raguan berfikir.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: