Jangan Patah Semangat: Pelajaran dari Inyiak Khatib Muzakkir

Penulis adalah siswa kelas V di tahun ajaran 2015-2016 (generasi terakhir yang sempat belajar bersama Inyiak Khatib Muzakkir)

Kok ka baraja, datang se lah ka rumah!’. Itu adalah kalimat pendek dari Inyiak Khatib Muzakkir; kalimat yang sering diungkapkan ketika beliau menyudahi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sering kami adukan. Saya masih di kelas dua Tsanawiyah, dan Inyiak mengajar di kelas-kelas senior. Tapi kehadiran beliau di Mesjid atau dimanapun bisa dijumpai, saya dan sejumlah teman-teman sering mendatangi dan bertanya.

Di usia yang semakin senja, kesempatan untuk mengajar tatap muka di kelas sudah semakin berkurang. Pasalnya usia beliau semakin menua, dan kesehatan semakin menurun, tenaga dan kekuatan semakin berkurang. Tapi, satu hal yang masih kami saksikan, semangat mengajar tidak pernah pudar.

Keinginan beliau untuk terus mengajar tak pernah lapuk. Beliau selalu bersemangat mencari para pewaris ilmu Syekh Ibrahim Musa. Saya masih ingat, beliau selalu membuka pintu dan memancing-mancing kami untuk belajar secara talaqi langsung ke rumah. Sungguh kami yang begitu malas, inisiatif tidak muncul, kemurahan hati dan semangat beliau tidak kami sambut dengan antusias. Ironis, beliau yang tua begitu semangat, tapi kami begitu lalai. Tapi syukur Alhamdulillah, saya bersama seorang teman lainnya, Irfan, mulai mendatangi beliau ke rumah.

Ketika itu, kami menemui Inyiak Khatib Muzakkir sekedar untuk persiapan lomba MQK yang diadakan panitia classmeeting semester II;  tiga tahun yang lalu, saat kami masih duduk di kelas 2 Tsanawiyah. Kami disambut baik dan seperti biasa, meskipun dalam kondisi kesehatan yang tidak stabil, beliau tetap bersemangat mengajar kami. Kegiatan kami tumbuh. Yang dua menjadi lima, tujuh, dan akhirnya genap menjadi sepuluh orang. Teman-teman yang lain mulai ikut bersemangat menimba ilmu dari beliau.

Semenjak saat ini, kami mulai menyusun jadwal. Ibarat kata, kami yang mengatur segala teknis, dan Inyiak tinggal mengajar. Disepakatilah, setiap Sabtu dan Ahad kami mengunjungi beliau ke rumah. Kami kembali memperdalam ilmu fiqh dari kitab dasar, Fathul Qarib.

Satu semester sudah kami lalui ber-talaqi bersama Inyiak. Mungkin semangat beliau menular kepada kami. Di semester kedua kelas akhir Tsanawiyah, ketika para santri menjalani masa-masa super sibuk dengan try out,ujian simulasi,pra UN, dan sebagainya, agenda talaqi kami tetap berjalan. Semangat itu tak luntur; semangat untuk terus menggali ilmu dari beliau.

Ujian Akhir Nasional tingkat SMP/MTs selesai. Kami libur sekolah, dan talaqi pun ikut istirahat. Tapi, seketika kelas Aliyah, fase ‘kuning gading’ dimulai, kami kembali melanjutkan talaqi itu. Dalam banyak kesempatan, kegiatan kami terganggu karena kondisi kesehatan beliau yang semakin labil. Satu hal yang sangat kami sedihkan. Terkadang, kami menyisakan dan mengumpulkan uang jajan untuk membeli beberapa roti buat beliau. Datang ke rumah, bercerita dan bercengkrama, lalu pulang. Sungguh pun itu cerita atau cengkrama, sungguh apa yang beliau sampaikan menjadi suatu pelajaran bagi kami. Karena memang begitulah beliau, mengajar dengan semangat, suara lantang, namun jenaka. Sebelum pulang, tak lupa kami berdoa agar Allah memberikan kesembuhan kepada beliau.

Semakin hari, kesempatan belajar bersama Inyiak semakin tipis. Pada semester dua kelas satu aliyah, talaqi tidak berjalan semulus awal-awal dahulu. Pasalnya kondisi beliau semakin kurang baik. Kami terpaksa mengurungkan langkah. Sabtu-Ahad tidak seperti yang sudah-sudah. Pada masa ini kami hanya belajar kalau Inyiak menyanggupi untuk mengajar, jika beliau merasa kurang kuat, kami akan langsung pulang.

Tibalah tahun 2015, ‘am al-huzni bagi Sumatera Thawalib Parabek; tahun ketika beliau sang guru besar kami, syekh kami, tempat kami mendapatkan semua jawaban masalah fiqih, dipanggil oleh Allah menghadap keharibaan–Nya. Selamanya kami tidak akan bisa lagi mencicipi barang sedikit saja ilmu Inyiak Khatib Muzakkir secara langsung dari beliau.

Sungguhpun beliau telah tiada, kami belajar satu hal; semangat belajar tidak boleh luntur. Talaqi kami lanjutkan bersama murid-murid beliau; Buya Deswandi, Inyiak Masrur Syahar, dan Ust.  Zulfahmi. Rabu malam kami belajar Ta’lim al-Muta’allim bersama Buya Deswandi di Surau Batu Al-Irsyad. Senin malam kami belajar Jawahir al-Balaghah bersama inyiak Masrur di sebelah kantor beliau. Selasa malam kami mendatangi Ust. Zulfahmi untuk belajar Ushul Fiqh untuk membaca al-Sulam. Dan Ahad malam kami bersama-sama mempelajari qaidah-qaidah ilmu sharaf dalam kitab Qawaid I’lal.

Inilah salah satu pelajaran yang paling berharga dari beliau Inyiak Khatib Muzakkir; jangan pernah kehilangan semangat belajar.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: